<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kajian Islam Darul Hadits Yaman</title>
	<atom:link href="http://www.serambiyemen.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.serambiyemen.com</link>
	<description>Menebar Dakwah dengan Pemahaman Shahabat</description>
	<lastBuildDate>Sun, 19 May 2013 02:17:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>SYARAH AL-BAIQUNIYAH BAG. 5</title>
		<link>http://www.serambiyemen.com/2013/05/syarah-al-baiquniyah-bag-5.html</link>
		<comments>http://www.serambiyemen.com/2013/05/syarah-al-baiquniyah-bag-5.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 May 2013 02:17:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Ya'la</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.serambiyemen.com/?p=492</guid>
		<description><![CDATA[HADITS MUTTASHIL Berkata nadzim (Al-Baiquni rahimahullah): وَمَا بِسمعِ كُلِّ راو يتصل                                إسنادُهُ للمصطَفى فالمُتَّصلْ   “Dan hadits yang didengar oleh setiap perawi, dengan bersambung sanadnya kepada Al-Musthofa (Nabi shallallahu’alaihi wasallam) itulah yang disebut dengan hadits muttasil.” &#160; Beberapa Penggunaan kata yang Satu Sinonim Dengan Hadits Muttashil    Disebut juga dengan hadits muttashil, Al-Maushul, Al-Mu’tashil, Al-Muutashil. Seluruh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="https://encrypted-tbn2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTh0p_LdjFhyzvBDl0cdZioQ2wT57eoki9HBg_UN0MD2O-HwtUrlQ6PjA" alt="" /></p>
<p align="center"><strong><span style="text-decoration: underline;">HADITS MUTTASHIL</span></strong></p>
<p>Berkata nadzim (Al-Baiquni rahimahullah):</p>
<p align="right"><strong>وَمَا بِسمعِ كُلِّ راو يتصل                                إسنادُهُ للمصطَفى فالمُتَّصلْ   </strong><strong></p>
<p></strong></p>
<p align="center"><strong><em>“Dan hadits yang didengar oleh setiap perawi, dengan bersambung sanadnya kepada Al-Musthofa (Nabi shallallahu’alaihi wasallam) itulah yang disebut dengan hadits muttasil.”</em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Beberapa Penggunaan kata yang Satu Sinonim Dengan Hadits Muttashil</strong></p>
<p><strong>  </strong> Disebut juga dengan hadits <em>muttashil</em>, <em>Al-Maushul</em>, <em>Al-Mu’tashil</em>, <em>Al-Muutashil</em>. Seluruh dari kata-kata tadi adalah ungkapan yang digunakan oleh imam syafi’i dalam mengibaratkan hadits muttashil, sebagaimana terdapat di dalam kitab beliau <em>Al-Umm</em>.<a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p><strong>Definisi Hadits Muttashil Menurut imam Al-Baiquni</strong></p>
<p><strong>    </strong>Berdasarkan bait sya’ir diatas maka Al-Baiquni mendefinisikan hadits muttashil adalah: (<strong>Hadits yang bersambung sanadnya, yang mana setiap perawi haruslah mendengar dari syaikhnya, sampai kepada Nabi shallallahu’alaihi wasallam</strong>). Definisi yang beliau bawakan diatas adalah definisi yang dibawakan juga oleh imam Ibnu Abdil Barr di dalam kitab beliau <em>At-Tamhid</em><a title="" href="#_ftn2">[2]</a>, Ibnu Shalah<a title="" href="#_ftn3">[3]</a>, An-Nawawi<a title="" href="#_ftn4">[4]</a> dll.</p>
<p>Hanya saja definisi tersebut tidak lepas dari kritikan ditinjau dari dua sisi:</p>
<p><strong>Pertama:</strong>  dari sisi penggunaan <em>sama’</em> (mendengar). Ketersambungan sanad tidak hanya disahkan oleh cara penerimaan hadis dengan sama’ saja, melainkan juga dengan cara penerimaan hadis yang lain (wujuh tahammul), seperti ard’ (membaca di depan syaikh), ijazah, dan yang lainnya yang terdapat dalam kitab-kitab musthalah.</p>
<p><strong><em>Kedua</em></strong><strong>:</strong> dari sisi penggunaan kata <em>mushthafa</em> (Nabi)<a title="" href="#_ftn5">[5]</a>. Hadis muttashil tidak disyaratkan matnnya hanya sampai kepada Nabi saja (<em>marfu’</em>), melainkan juga yang sampai kepada sahabat (<em>mauquf</em>) dan tabi’in (<em>maqthu’</em>).<a title="" href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Dari sini definisi yang kuat tentang hadits muttashil adalah: ((ماتصل سنده إلى منتهاه))</p>
<p>“<strong>Hadits yang bersambung sanadnya sampai kepada akhirnya.” </strong></p>
<p>Maksud dari  ((ماتصل سنده))<strong><em>bersambung sanadnya</em></strong> yaitu: Sanad haditsnya tidak terputus (<em>inqitha’</em>) baik dalam bentuk yang jelas atau pun tersembunyi. Demikian juga adakalanya hadits tersebut bersambung melalui <em>sama’</em>(mendengar langsung dari syaikhnya), <em>‘ard</em> (membaca dihadapan syaikhnya) ataupun <em>ijazah</em>.</p>
<p>Adapun maksud dari ((منتهاه)) <strong><em>“Sampai kepada akhir”</em></strong> adalah: mencakup di dalamnya hadits marfu’maupun hadits mauquf.</p>
<p>Intinya di sini, bahwa hadits muttashil hanyalah disyaratkan satu syarat padanya, yaitu <strong><em>bersambungnya sanad tanpa melihat dari segi matannya</em></strong> (apakah marfu’, maqthu’ dst).<a title="" href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p><strong>Apakah Setiap hadits yang bersambung matannya berarti shahih?</strong></p>
<p>Perlu diketahui, bahwa bersambungnya sanad sebuah hadits hanyalah satu dari lima syarat yang disebutkan oleh ulama hadits tentang syarat-syarat hadits shahih. Oleh karena itu, apabila ada suatu hadits yang bersambung sanadnya sampai kepada Nabi shallallahu’alaihi wasallam tidak sekaligus bahwa hadits tersebut adalah hadits yang shahih. Bisa jadi hadits muttasil (yang bersambungsanadnya) tersebut adalah hadits shahih dengan ketentuan syarat yang lain, bisa jadi hasan, atau bahkan bisa jadi dho’if dan maudhu’ (palsu).<a title="" href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p><strong> Macam-macam Hadits Muttasil</strong></p>
<p><strong><em>1.  Hadits muttashil marfu’</em></strong>. Contoh: ((Malik dari Ibnu Syihab dari Salim bin Abdillah dari bapaknya (Abdullah bin Umar) dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam, bahwasanya beliau bersabda demikian&#8230;..))</p>
<p>2. <strong><em>Hadits muttashil mauquf</em></strong> (kepada shahabat). Contoh: ((Malik dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa ia berkata&#8230;.))</p>
<p><strong>Apakah perkataan Tabi’in Masuk Kedalam Kategori Muttashil?</strong></p>
<p>Berkata imam Al-Iraqi rahimahullah, “Adapun perkataan tabi’in, apabila sanadnya bersambung kepada mereka, maka tidaklah dikatakan sebagai hadits muttashil secara muthlaq, kecuali dengan ketentuan (taqyid). Misalnya seorang mengatakan sanad hadits ini bersambung (muttashil) kepada (tabi’in) semisal Sa’id bin Al-Musayyib, atau Az-Zuhri, atau Malik dan yang selain mereka.”<a title="" href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong><span style="text-decoration: underline;">HADITS MUSALSAL</span></strong></p>
<p>Berkata Nadzim (Al-Baiquni) rahimahullah:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>مُسَلْسَلٌ قُلْ مَا عَلَى وَصْفٍ أَتَى          مِثْلُ  أَمَا وَاللهِ  أَنْبَانِي الْفَتَى</strong><strong></strong></p>
<p align="center"><strong>كَـذَاكَ قـَدْ حَدَّثَنِيهِ قَـائِمَا          أَوْ بَعْدَ أَنْ حَدَّثَنِيْ تَبَسّـَمَا</strong></p>
<p align="center"><strong><em>Musalsal –katakanlah- adalah hadis yang datang dengan sifat tertentu</em></strong></p>
<p align="center"><strong><em>Seperti telah mengabarkan kepadaku seorang yang adil</em></strong></p>
<p align="center"><strong><em>Begitu juga “ia telah menyampaikan kepadaku dalam keadaan berdiri”</em></strong></p>
<p align="center"><strong><em>Atau “setelah menyampaikan kepadaku ia tersenyum”</em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;"> Syarah:</span></strong></p>
<p><strong>Definisi hadits Musalsal</strong></p>
<p>Musalsal secara bahasa bermakna bersambung. Sebagaimana orang Arab mengatakan سلسلة حديد yang maknanya: <strong>“Rangkaian sambungan rantai.” </strong></p>
<p>Adapun makna hadits musalsal yang dijelaskan oleh penulis menurut bait sya’ir Al-Baiquni di atas adalah:((الحديث الَّذي جاء على وصف واحد))  <strong><em>“Hadits yang datang dengan satu sifat.”</em></strong></p>
<p>Disana ada definisi lain tentang hadits musalsal yang dibawakan oleh para ulama, antara lain:</p>
<ul>
<li>Berkata imam An-Nawawi rahimahullah (tentang hadits musalsal):</li>
</ul>
<p align="center">((هو ما تتابع رجال إسناده على صفة أو حالة للرواة تارة، وللرواية تارة أخرى))</p>
<p><strong><em>“Adanya kesamaan pada para perawi hadits, baik dalam hal sifat perawi, atau terkadang kesamaan dalam (redaksi) riwayat itu sendiri.”</em></strong><a title="" href="#_ftn10">[10]</a><strong><em></em></strong></p>
<ul>
<li>Berkata imam As-Shan’ani rahimahullah:</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">((هو الحديث الذي اتفقت رجاله ، وتتابعوا على صفة واحدة ، او حال واحدة؛ سواء أكانت قولية او كانت فعلية ، أو مركبة منهما جميعا))</p>
<p><strong><em>“Hadits yang di dalamnya terdapat kecocokan pada para perawi-perawinya, adanya kecocokan pula pada sifat, atau kesamaan dalam satu kondisi. Baik itu diungkapkan dengan perkataan, perbuatan, atau dua hal sekaligus (perkataan dan perbuatan).”</em></strong> <a title="" href="#_ftn11">[11]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<ul>
<li>  Berkata imam Ibnu Daqieq Al-‘Ied rahimahullah, “Yaitu hadits yang memiliki kesamaan satu sifat, yang terkadang terdapat dalam seluruh <em>thabaqah</em> (tingkatan) periwayatannya. Sebagaimana ucapan ((سمعت فلانا يقول)) <strong><em>“Aku mendengar Fulan berkata demikian&#8230;”</em></strong> hal itu berlanjut hingga akhir sanad atau pada kebanyakan sanad. Contoh lain dari hadits musalsal adalah perkataan para perawi ((هو أول حديث سمعته منه&#8230;)) <strong><em>“Itu adalah hadits pertama yang aku dengar darinya&#8230;”</em></strong><a title="" href="#_ftn12">[12]</a></li>
</ul>
<p align="center"><strong>Macam-macam Hadits Musalsal</strong></p>
<p><strong>    </strong> Secara umum hadits musalsal dibagi menjadi dua macam:</p>
<ol>
<li>Hadits musalsal berkaitan dengan sifat perawi.</li>
<li>Hadits musalsal berkaitan dengan sifat suatu riwayat.<a title="" href="#_ftn13">[13]</a></li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<ul>
<li>Adapun hadits musalsal berkaitan dengan sifat perawi, maka memiliki beberapa bentuk, diantaranya:</li>
</ul>
<p>1) Musalsal yang terjadi diantara para <em>huffadz</em> (penghafal hadits): seperti periwayatan dari seorang hafidz dari hafidz yang lainnya sampai penghujung.</p>
<p>2) Musalsal yang terjadi diantara para fuqaha’ (ahli Fiqih): seperti periwayatan dari seorang faqih (ahli fiqih) dari faqih yang lain sampai penghujung.</p>
<p>3) Musalsal yang terjadi diantara kumpulan para perawi yang bernama Muhammad: seperti riwayat dari Muhammad dari Muhammad yang lainnya sampai penghujung hadits.</p>
<p>4) Musalsal yang terjadi diantara para perawi yang berasal dari satu negeri, misalnya seperti negeri Hijaz.</p>
<p>5) Musalsal yang nama perawinya diawali dengan huruh ‘ain (ع) sebagai misal. Seperti periwayatan dari ‘Ali (عليّ) dari ‘Abdullah (عبد الله) dari ‘Umar (عمر) dst&#8230;</p>
<p>6) Musalsal dari para perawi yang mengaalami cacat. Contoh: Riwayat (الأعْرَجُ) <strong><em>“Seorang yang pincang”</em></strong> dari (الأعمَى) <strong><em>“Seorang yang buta”</em></strong> dari (الأصَمُّ) <strong><em>“Seorang yang bisu”</em></strong>.</p>
<p>7) Musalsal dengan penggambaran sebuah kondisi (الهيئة), hal ini sebagai mana digambarkan oleh <em>Nadzim</em> (Al-Baiquni) dalam ucapannya -sebagaimana dalam bait sya’ir diatas-,</p>
<p align="center"><strong>كَـذَاكَ قـَدْ حَدَّثَنِيهِ قَـائِمَا          أَوْ بَعْدَ أَنْ حَدَّثَنِيْ تَبَسّـَمَا</strong></p>
<p align="center"><strong><em>Begitu juga “ia telah menyampaikan kepadaku dalam keadaan berdiri”</em></strong></p>
<p align="center"><strong><em>Atau “setelah menyampaikan kepadaku ia tersenyum”<a title="" href="#_ftn14"><strong>[14]</strong></a></em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<ul>
<li>Adapun musalsal yang berkaitan dengan sifat periwayatan memiliki beberapa gambaran sebagai berikut:</li>
</ul>
<p>1) Musalsal dengan satu redaksi yaitu redaksi, misalnya dengan redaksi (عَنْ) <strong><em>“Dari”.</em></strong> Hal ini sebagaimana perkataan nadzim–pada bait sya’ir diatas-,</p>
<p align="center"><strong>مِثْلُ  أَمَا وَاللهِ  أَنْبَانِي الْفَتَى</strong><strong></strong></p>
<p align="center"><strong><em>“Seperti telah menghabarkan kepadaku seorang yang adil”</em></strong></p>
<p>Yang semisal dengan ini adalah perkataan seorang perawi:</p>
<p align="center">صُمَّتْ أُذنايا إنْ لَمْ أكُنْ سَمِعْتُهُ من فلان))</p>
<p> “(Allah akan membuat) tuli telingaku, bila aku tidak mendengarnya dari Fulan.”</p>
<p>2) Hadits musalsal dengan penyebutan zaman tertentu. Seperti perkataan seorang perawi (حدّثني فلان يوم العيد) “<strong><em>Fulan telah menceritakan kepadaku pada saat hari ‘ied”.</em></strong></p>
<p>3) Hadits musalsal dengan penyebutan tempat tertentu. Contohnya seperti perkataan salah seorang perawi (حدّثني فلان بين الركن والمقام) <strong><em>“Fulan telah menceritakannya kepadaku diantara rukun (Yamani) dan maqam (Ibrahim)”.<a title="" href="#_ftn15"><strong>[15]</strong></a></em></strong></p>
<p><strong> Adapun hadits musalsal ditinjau dari perkataan dan perbuatan, maka dibagi menjadi tiga macam</strong>:</p>
<p>1) Musalsal dengan ucapan. Seperti hadits Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu, bahwasanya Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda kepadanya,</p>
<p align="center"><strong>يَا مُعَاذُ إِنِّي َأُحِبُّكَ فِي اللَّهِ فَلَا تَدَعَنَّ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ تقول: اللهمَّ أَعِنِّي عَلَى ذَكَرِكَ وَشُكْرِكَ وَحَسَنِ عِبَادَتِكَ</strong></p>
<p><em>“Wahai Mu’adz, sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah; oleh karena itu janganlah engkau tinggalkan pada setiap pnghujung shalat untuk mengucapkan: “Ya Allah, tolonglah aku untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu dan memperbagus ibadah kepada-Mu.”</em> Para perawi yang meriwayatkan hadits tersebut sama-sama menggunakan lafadz ((إني أحبك في الله))  “<strong><em>Seungguhnya aku mencintaimu karena Allah”.</em></strong></p>
<p>2) Musalsal dengan perbuatan. Contoh: perkataan Abu Hurairah radhiyallahu’anhu,</p>
<p align="center">شبك أبو القاسم بيده وقال: ((خلق الله التربة يوم السبت&#8230;.))</p>
<p>“Abul Qasim (Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam) pernah mengapit jari-jemarinya dengan tangannya, kemudian beliau bersabda, <em>“Allah menciptakan tanah pada hari sabtu&#8230;”</em> kemudian para perawi yang meriwayatkan hadits tersebut sama-sama mengapit jari-jemarinya dengan tangannya setiap menyampaikan hadits tersebut.</p>
<p>3) Musalsal dengan perkataan dan perbuatan. Sebagaimana terdapat dalam hadits Anas secara marfu’, bahwa Nabi shallallahu’alihi wasallam bersabda,</p>
<p align="center">لا يجد العبد حلاوة الإيمان حتى يؤمن بالقدر خيره وشره</p>
<p><strong><em>“Seorang hamba tidak akan merasakan manisnya iman sampa ia beriman kepada takdir yang baik dan buruk, seta yang manis maupun yang pahit.”</em></strong> Kemudian Anas bin Malik berkata, “Kemudian Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam memegang jenggotnya seraya bersabda, <strong><em>“Aku beriman dengan takdir.”</em></strong></p>
<p>Kemudian para perawi yang meriwayatkan hadits tersebut mereka memegang jenggotnya seraya berkata, “Aku beriman dengan takdir.”<a title="" href="#_ftn16">[16]</a></p>
<p align="center"><strong>Faedah Ke</strong><strong>beradaan Hadits Musalsal</strong></p>
<ol>
<li>Keberadaan hadits musalsal menunjukan akan kekuatan (hafalan) dan kemantapan para perawi hadits. Hal itu dikarenakan keseragaman penyampaian para perawi dari syaikhnya sampai kepada para murid-muridnya. Serta bersambungnya sanad tersebut diantara para perawinya yang menerima dari syaikhnya.</li>
<li>Keberadaan hadits musalsal dapat menghilangkan keterputusan dalam suatu sanad atau kemungkinan adanya tadlis (penyamaran) yang dilakukan oleh seorang perawi. Karena terkadang dalam hadits musalsal terdapat lafadz (حدّثني) <em>“Telah menceritakan kepadaku”</em> atau terdapat lafadz (أخبرني) <em>“Telah menghabarkan kepadaku”.</em> Selama tidak ada keraguan sama sekali pada perawi tersebut. Wallahu a’lam.</li>
<li>Keberadaan hadits musalsal yang diriwayatkan oleh para <em>huffadz</em> (pakar hadits) adalah keistimewaan tersendiri dalam kekuatan dan keabsahan hadits tersebut dibandingkan hadits yang selainnya.<a title="" href="#_ftn17">[17]</a></li>
<li>Keberadaan hadits musalsal menggambarkan keseriusan para perawi dalam meneladani Nabi shallallahu’alaihi wasallam dalam seluruh tindak tanduk beliau. Sebagai mana disebutkan oleh imam Ibnu Daqi’eq Al-‘Ied rahimahullah.<a title="" href="#_ftn18">[18]</a></li>
</ol>
<p><strong>Apakah Seluruh Hadits Musalsal Shahih?</strong></p>
<p>Jawab: Tidak mengharuskan keberadaan suatu hadits dengan bentuk musalsal berarti hadits tersebut adalah hadits shahih. Terkadang terdapat hadits musalsal yang shahih, hasan, dho’if ataupun maudhu’ (palsu). Bahkan, banyak sekali para ulama hadits hadits yang menyatakan bahwa kebanyakan hadits musalsal adalah hadits yang lemah.<a title="" href="#_ftn19">[19]</a> Berkata imam Adz Dzahabi rahimahullah, “Kebanyakan dari hadits musalsal adalah lemah. Kebanyakan juga bathil dikarenakan kedustaan yang dilakukan oleh para perawinya&#8230;”<a title="" href="#_ftn20">[20]</a></p>
<p>Namun jika ada yang bertanya: Bila kebanyakan hadits musalsal adalah hadits yang lemah, lalu apa fungsinya kita menyebutkan faedah hadits musalsal? Jawabannya, faedah yang dikemukakan diatas tentang hadits musalsal adalah faedah yang terdapat dalam hadits musalsal yang shahih bukan hadits musalsal yang lemah atau yang semisalnya. Wallahu a’lam.</p>
<p><strong>Apakah Hadits Musalsal Harus Dimulai Dari Awal Matan (redaksi) Sampai Akhir Matan?</strong></p>
<p>Sebagian para ahli ‘ilmi menyatakan bahwa hadits musalsal tidak harus dimulai dari awal matan sampai akhirnya. Karena terkadang terdapat hadits musalsal yang ada disebagian sanad, namun tidak ada pada sebagian yang lain. Hanya saja, kebanyakan hadits musalsal dimulai dari awal sanad sampai akhir sanad. Hal itu sebagaimana ditegaskan oleh imam Ibnu Daqiq Al-‘Ied rahimahullah.<a title="" href="#_ftn21">[21]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong><span style="text-decoration: underline;">HADITS ‘AZIZ</span></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Berkata nadzim (Al-Baiquni) rahimahullah,</p>
<p align="right">عَزِيْزٌ مرويّ اثنين أو ثلاثةٌ                              &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p><strong><em>“Aziz adalah yang diriwayatkan oleh dua atau tiga perawi</em></strong>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..”</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Syarah:</span></strong></p>
<p>Dari pemaparan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa definisi hadits ‘Aziz menurut Al-Baiquni adalah: <strong><em>Setiap hadits yang diriwayatkan oleh dua atau tiga perawi. </em></strong>Maksudnya, dalam thabaqah (tingkatan) sanad tersebut minimalnya yang meriwayatkan hadits adalah dua atau tiga.</p>
<p>Definisi yang dibawakan oleh penulis adalah definisi yang telah dibawakan oleh para ulama sebelumnya, antara lain: Ibnu Mandah, Ibnu Thahir Al-Maqdisi, Ibnus Shalah, Ibnu Daqieq Al-‘Ied, An-Nawawi, Al-‘Iraqi, dan Ibnul Jazri.<a title="" href="#_ftn22">[22]</a></p>
<p>Contoh: Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, dan juga diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu di dalam Shahih Bukhari, bahwasanya Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>“Tidak beriman salah seorang diantara kalian, hingga aku lebih ia cintai dari pada bapaknya, anaknya, dan manusia seluruhnya.”</em></p>
<p>Jalan periwatan hadits ini adalah: Dari shahabat Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, yang menerima darinya Abdul Aziz bin Shuhaib dan Qatadah, kemudian meriwayatkan dari Qatadah adalah Syu’bah dan Sa’id. Telah meriwayatkan dari Abdul ‘Aziz bin Shuhaib adalah Isma’il bin ‘Ulayyah dan ‘Abdul Waris.</p>
<p><strong>Mengapa Dinamakan Den</strong><strong>gan ‘Aziz?</strong></p>
<p><strong> </strong> Dianamakan dengan ‘Aziz karena berasal dari kata (عَزَّ- يَعِزُّ)  yang artnya: sedikit. Diaktakan sedikit, dikarenakan sedikitnya jalan periwayatannya.<a title="" href="#_ftn23">[23]</a></p>
<p><strong>Apakah Setiap Hadits ‘Aziz Itu Shahih? </strong></p>
<p>Pensifatan suatu hadits dengan ‘Aziz bukanlah jaminan bahwa hadits tersebut adalah hadits yang shahih. Bisa jadi hadits ‘Aziz tersebut adalah hadits yang shahih, hasan ataupun dho’if. Dikarenakan untuk menilai suatu hadits shahih atau tidak, semuanya dikembalikan kepada syarat-syarat hadits shahih yang telah lalu pembahasannya. Wallahua’lam.</p>
<p>Faedah: Terkadang para ulama dalam bidang <em>jarh wat ta’dil</em> menggunakan istilah ‘Aziz bukan pada makna yang kita  bahasa. Seperti perkataan mereka <em>‘Fulan ‘Azizul Hadits’, </em>maka maknanya: Fulan adalah seorang perawi yang sedikit riwayatnya. Contoh dalam hal ini adalah perkataan imam Al-Hakim rahimahullah, “Uqbah bin Khalid Asy-Syanni adalah perawi yang <em>tsiqat</em> (terpercaya) dari kalangan penduduk Basrah dan ahli ibadahnya mereka. Sedangkan dia adalah seorang yang <em>‘Azizul Hadits’</em>(sedikit periwayatan haditsnya), apabila hadits-hadits yang diriwayatkannya dikumpulkan tidaklah mencapai sepuluh hadits.<a title="" href="#_ftn24">[24]</a></p>
<p><strong>Buku Khusus Yang Membahas Hadits ‘Aziz</strong></p>
<p>Berkata syaikh Mahmud Ath-Thahhan, “Para ulama tidak menyusun secara tersendiri kitab tertentu untuk hadits-hadits ‘aziz. Tampaknya hal itu disebabkan sedikit atau tidak ada manfaatnya menyusun kitab tersebut.”<a title="" href="#_ftn25">[25]</a></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>  </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<div><br clear="all" /></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a>  <em>An-Nukat</em>: 1/510.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a>  1/24.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a>  <em>At- Taqyid</em>: hal.65.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a>  <em>Al-Irsyad</em>: 1/156.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a>  Apakah Al-Musthofa’ (yang terpilih) termasuk nama dari nama-nama Nabi shallallahu’alaihi wasallam?</p>
<p>Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin menjelaskan, bahwa musthofa’ adalah sifat dari sifat-sifat Nabi shallallahu’alaihi wasallam, bukan bagian dari nama-nama Nabi shallallahu’alaihi wasallam. Para shahabat adalah orang-orang yang paling mengagungkan terhadap Nabi shallallahu’alaihi wasallam, meskipun demikian, tidak didapati dari mereka seorang pun yang memanggil Nabi shallallahu’alaihi wasallam dengan nama musthofa’. (<em>Syarah Al-Aqidah As-Safariniyah</em>: hal. 55)</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a>  <em>Al-Jawahir</em>: hal. 151-152.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a>  <em>Al-Jawahir</em>: hal. 152-153.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref8">[8]</a>   Dikutip secara ringkas dari <em>Al-Jawahir</em>: hal 153.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref9">[9]</a>  <em>Taisir Musthalahul Hadits</em>: hal 135-136.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref10">[10]</a>  <em>At-Tadrib</em>: 2/187.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref11">[11]</a>  <em>Taudhihul Afkar</em>: 2/414.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref12">[12]</a>  <em>Al-Iqtirah</em>: hal. 214.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref13">[13]</a>  <em>Al-Irsyad</em>: 2/554. karya An-Nawawi,  <em>At-Taqyid</em>: hal. 276.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref14">[14]</a>  Lihat <em>Fathul Mughits</em>: 4/40 dan <em>Al-Jawahir</em>: hal. 156.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref15">[15]</a>  Ibid: 4/40-41.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref16">[16]</a>  <em>Nuzhatun Nadzar</em>: hal. 167.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref17">[17]</a>  Lihat penjelasan Al-Hafidz tentang masalah ini di dalam <em>An-Nuzhah</em>: hal. 168.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref18">[18]</a>  <em>Al-Iqtirah</em>: hal. 215.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref19">[19]</a>  Diantara para ulama tersebut adalah <strong>imam Ibnu Shalah</strong> (At-Taqyid: 2/77), imam <strong>An Nawawi</strong> (Al-Irsyad: 2/558), imam <strong>Ibnu Katsir</strong> (<em>Mukhtashar Ulumul Hadits</em> sekaligus syarahnya <em>Al-Ba’its</em>: 2/456), dan imam <strong>Ibnul Mulaqqin</strong> (<em>Al-Muqni’</em>: 2/448).</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref20">[20]</a>  <em>Al-Muqidzah</em>: hal. 44.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref21">[21]</a>  <em>Al-Jawahir</em>: hal. 160.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref22">[22]</a>  <em>Al-Jawahir</em>:  hal, 161.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref23">[23]</a>  Ibid: hal, 165.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref24">[24]</a>  <em>Al-Mustadrak</em>: 1/110</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref25">[25]</a>  <em>Taisirul Musthalahil Hadits</em>: hal, 26.</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.serambiyemen.com/2013/05/syarah-al-baiquniyah-bag-5.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>HIDUP PENUH MAKNA DENGAN SYUKUR</title>
		<link>http://www.serambiyemen.com/2013/05/hidup-penuh-makna-dengan-syukur.html</link>
		<comments>http://www.serambiyemen.com/2013/05/hidup-penuh-makna-dengan-syukur.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 May 2013 14:51:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Ya'la</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.serambiyemen.com/?p=489</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Demikian banyak nikmat Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Tidak ada satupun manusia yang bisa menghitungnya, meski menggunakan alat secanggih apapun. Allah pun tidak pernah meminta kepada kita balasan satu peser pun.  Pernahkah kita berpikir, untuk apa Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan demikian banyak nikmat kepada para hamba-Nya? Untuk sekedar menghabiskan nikmat-nikmat tersebut atau ada tujuan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p><strong><img id="rg_hi" src="https://encrypted-tbn3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQsLzDw6fRy81C2hsMjtfZmI2CPX4RAgvoqwcIpd6lxAMccPhSUgg" alt="" width="257" height="196" data-height="196" data-width="257" /></strong></p>
<p>Demikian banyak nikmat Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Tidak ada satupun manusia yang bisa menghitungnya, meski menggunakan alat secanggih apapun. Allah pun tidak pernah meminta kepada kita balasan satu peser pun.  Pernahkah kita berpikir, untuk apa Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan demikian banyak nikmat kepada para hamba-Nya? Untuk sekedar menghabiskan nikmat-nikmat tersebut atau ada tujuan lain?</p>
<p><strong>Luasnya Pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala</strong></p>
<p>Sungguh betapa besar dan banyak nikmat yang telah dikaruniakan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita. Setiap hari silih berganti kita merasakan satu nikmat kemudian beralih kepada nikmat yang lain. Di mana kita terkadang tidak membayangkan sebelumnya akan terjadi dan mendapatkannya. Sangat besar dan banyak karena tidak bisa untuk dibatasi atau dihitung dengan alat secanggih apapun di masa kini.<br />
Semua ini tentunya mengundang kita untuk menyimpulkan betapa besar karunia dan kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya. Dalam realita kehidupan, kita menemukan keadaan yang memprihatinkan. Yaitu mayoritas manusia dalam keingkaran dan kekufuran kepada Pemberi Nikmat. Puncaknya adalah menyamakan pemberi nikmat dengan makhluk, yang keadaan makhluk itu sendiri sangat butuh kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Tentu hal ini termasuk dari kedzaliman di atas kedzaliman sebagaimana dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam firman-Nya:</p>
<p align="center">
إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ</p>
<p><em>“Sesungguhnya kesyirikan itu adalah kedzaliman yang paling besar.”</em> (Luqman: 13)<br />
Kendati demikian, Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap memberikan kepada mereka sebagian karunia-Nya disebabkan “kasih sayang-Nya mendahului murka-Nya” dan membukakan bagi mereka pintu untuk bertaubat. Oleh sebab itu tidak ada alasan bagi hamba ini untuk:<br />
- Ingkar dan kufur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala serta menyamakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan makhluk-Nya yang sangat butuh kepada-Nya.<br />
- Menyombongkan diri serta angkuh dengan tidak mau melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan meninggalkan larangan-larangan-Nya atau tidak mau menerima kebenaran dan mengentengkan orang lain.<br />
- Tidak mensyukuri pemberian Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p align="center">
وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللهِ<br />
<em>“Dan nikmat apapun yang kalian dapatkan adalah datang dari Allah.”</em> (An-Nahl: 53)</p>
<p align="center">
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللهِ لاَ تُحْصُوْهَا</p>
<p><em>“Dan jika kalian menghitung nikmat Allah niscaya kalian tidak akan sanggup.”</em> (An-Nahl: 18)</p>
<p>Setiap orang bisa mengatakan bahwa semua yang ada di dunia ini merupakan pemberian Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Tahukah anda apa rahasia di balik pemberian Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala tersebut?</p>
<p>Ketahuilah bahwa kenikmatan yang berlimpah ruah bukanlah tujuan diciptakannya manusia dan bukan pula sebagai wujud cinta Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada manusia tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia untuk sebuah kemuliaan baginya dan menjadikan segala nikmat itu sebagai perantara untuk menyampaikan kepada kemuliaan tersebut. Tujuan itu adalah untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saja, sebagaimana hal ini disebutkan dalam firman-Nya:</p>
<p align="center">
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ</p>
<p><em>“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah kepada-Ku.”</em> (Adz-Dzariyat: 56)</p>
<p>Bagi orang yang berakal akan berusaha mencari rahasia di balik pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berlimpah ruah tersebut. Setelah dia menemukan jawabannya, yaitu untuk beribadah kepada-Nya saja, maka dia akan mengetahui pula bahwa dunia bukan sebagai tujuan.<br />
Sebagai bukti yaitu adanya kematian setelah hidup ini dan adanya kehidupan setelah kematian diiringi dengan persidangan dan pengadilan serta pembalasan dari Allah Ta’ala. Itulah kehidupan yang hakiki di akhirat nanti. Kesimpulan seperti ini akan mengantarkan kepada:<br />
1. Dunia bukan tujuan hidup.<br />
2. Kenikmatan yang ada padanya bukan tujuan diciptakan manusia, akan tetapi sebagai perantara untuk suatu tujuan yang mulia.<br />
3. Semangat beramal untuk tujuan hidup yang hakiki dan kekal.<br />
Ibnu Qudamah rahimahullahu menjelaskan: “Ketahuilah bahwa nikmat itu ada dua bentuk, nikmat yang menjadi tujuan dan nikmat yang menjadi perantara menuju tujuan. Nikmat yang merupakan tujuan adalah kebahagiaan akhirat dan nilainya akan kembali kepada empat perkara.<br />
Pertama: Kekekalan dan tidak ada kebinasaan setelahnya,<br />
Kedua: Kebahagian yang tidak ada duka setelahnya,<br />
Ketiga: Ilmu yang tidak ada kejahilan setelahnya,<br />
Keempat: Kaya yang tidak ada kefakiran setelahnya.<br />
Semua ini merupakan kebahagiaan yang hakiki. Adapun bagian yang kedua (dari dua jenis nikmat) adalah sebagai perantara menuju kebahagiaan yang disebutkan dan ini ada empat perkara:<br />
Pertama: Keutamaan diri sendiri seperti keimanan dan akhlak yang baik.<br />
Kedua: Keutamaan pada badan seperti kekuatan dan kesehatan dan sebagainya.<br />
Ketiga: Keutamaan yang terkait dengan badan seperti harta, kedudukan, dan keluarga.<br />
Keempat: Sebab-sebab yang menghimpun nikmat-nikmat tersebut dengan segala keutamaan seperti hidayah, bimbingan, kebaikan, pertolongan, dan semua nikmat ini adalah besar.” (<em>Mukhtashar Minhajul Qashidin</em> hal. 282)</p>
<p><strong>Syukur dalam Tinjauan Bahasa dan Agama</p>
<p></strong></p>
<p>Syukur secara bahasa adalah nampaknya bekas makan pada badan binatang dengan jelas. Binatang yang syakur artinya: Apabila nampak padanya kegemukan karena makan melebihi takarannya.<br />
Adapun dalam tinjauan agama, syukur adalah: Nampaknya pengaruh nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala atas seorang hamba melalui lisannya dengan cara memuji dan mengakuinya; melalui hati dengan cara meyakininya dan cinta; serta melalui anggota badan dengan penuh ketundukan dan ketaatan. (<em>Madarijus Salikin</em>, 2/244)<br />
Ada juga yang mendefinisikan syukur dengan makna lain seperti:<br />
1. Mengakui nikmat yang diberikan dengan penuh ketundukan.<br />
2. Memuji yang memberi nikmat atas nikmat yang diberikannya.<br />
3. Cinta hati kepada yang memberi nikmat dan (tunduknya) anggota badan dengan ketaatan serta lisan dengan cara memuji dan menyanjungnya.<br />
4. Menyaksikan kenikmatan dan menjaga (diri dari) keharaman.<br />
5. Mengetahui kelemahan diri dari bersyukur.<br />
6. Menyandarkan nikmat tersebut kepada pemberinya dengan ketenangan.<br />
7. Engkau melihat dirimu orang yang tidak pantas untuk mendapatkan nikmat.<br />
8. Mengikat nikmat yang ada dan mencari nikmat yang tidak ada.<br />
Masih banyak lagi definisi para ulama tentang syukur, akan tetapi semuanya kembali kepada penjelasan Ibnul Qayyim sebagaimana disebutkan di atas.<br />
Yang jelas, syukur adalah sebuah istilah yang digunakan pada pengakuan/ pengetahuan akan sebuah nikmat. Karena mengetahui nikmat merupakan jalan untuk mengetahui Dzat yang memberi nikmat. Oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala menamakan Islam dan iman di dalam Al-Qur`an dengan syukur. Dari sini diketahui bahwa mengetahui sebuah nikmat merupakan rukun dari rukun-rukun syukur. (<em>Madarijus Salikin</em>, 2/247)<br />
Apabila seorang hamba mengetahui sebuah nikmat maka dia akan mengetahui yang memberi nikmat. Ketika seseorang mengetahui yang memberi nikmat tentu dia akan mencintai-Nya dan terdorong untuk bersungguh-sungguh mensyukuri nikmat-Nya. (<em>Madarijus Salikin</em>, 2/247, secara ringkas)</p>
<p><strong>Makna Syukur</strong></p>
<p>Syukur memiliki tiga makna:</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Pertama</span>: Mengetahui (pemberian tersebut) adalah sebuah nikmat. Artinya dia menghadirkan dalam benaknya, mempersaksikan, dan memilahnya. Hal ini akan bisa terwujud dalam benak sebagaimana terwujud dalam kenyataan. Sebab banyak orang yang jika engkau berbuat baik kepadanya namun dia tidak mengetahui (bahwa itu adalah perbuatan baik). Gambaran ini bukan termasuk dari syukur.<br />
<span style="text-decoration: underline;">Kedua</span>: Menerima nikmat tersebut dengan menampakkan butuhnya kepadanya. Dan bahwa sampainya nikmat tersebut kepadanya bukan sebagai satu keharusan hak baginya dari Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, dan tanpa membelinya dengan harga. Bahkan dia melihat dirinya di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti seorang tamu yang tidak diundang.<br />
<span style="text-decoration: underline;">Ketiga</span>: Memuji yang memberi nikmat. Dalam hal ini ada dua bentuk, yaitu umum dan khusus. Pujian yang bersifat umum adalah menyifati pemberi nikmat dengan sifat dermawan, kebaikan, luas pemberiannya, dan sebagainya. Pujian yang bersifat khusus adalah menceritakan nikmat tersebut dan memberitahukan bahwa nikmat tersebut sampai kepada dia karena sebab Sang Pemberi tersebut. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala:</p>
<p align="center">
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ</p>
<p><em>“Dan adapun tentang nikmat Rabbmu maka ceritakanlah.”</em> (Adh-Dhuha: 11) [<em>Madarijus Salikin</em>, 2/247-248]</p>
<p><strong>Menceritakan Sebuah Nikmat Termasuk Syukur</strong><br />
Menceritakan sebuah nikmat yang dia dapatkan kepada orang lain termasuk dalam kategori syukur. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam:</p>
<p align="center">
مَنْ صَنَعَ إِلَيْهِ مَعْرُوْفًا فَلْيَجْزِ بِهِ فَإِنْ لَمْ يَجِدْ مَا يَجْزِي بِهِ فَلْيُثْنِ فَإِنَّهُ إِذَا أَثْنَى عَلَيْهِ فَقَدْ شَكَرَهُ وَإِنْ كَتَمَهُ فَقَدْ كَفَرَهُ وَمَنْ تَحَلَّى بِمَا لَمْ يُعْطَ كَانَ كَلاَبِسِ ثَوْبَيْ زُوْرٍ</p>
<p><em><br />
“Barangsiapa yang diberikan kebaikan kepadanya hendaklah dia membalasnya dan jika dia tidak mendapatkan sesuatu untuk membalasnya hendaklah dia memujinya. Karena jika dia memujinya sungguh dia telah berterima kasih dan jika dia menyembunyikannya sungguh dia telah kufur. Dan barangsiapa yang berhias dengan sesuatu yang dia tidak diberi, sama halnya dengan orang yang memakai dua ­baju kedustaan.”</em> (HR. Abu Dawud no. 4179, At-Tirmidzi no. 1957 dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu &#8216;anhuma)<br />
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p align="center">
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ</p>
<p><em>“Dan adapun tentang nikmat Rabbmu maka ceritakanlah.”</em> (Adh-Dhuha: 11)</p>
<p>Menceritakan nikmat yang diperintahkan di dalam ayat ini ada dua pendapat di kalangan para ulama.<br />
<span style="text-decoration: underline;">Pertama:</span> Menceritakan nikmat tersebut dan memberitahukannya kepada orang lain seperti dengan ucapan: “Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberiku nikmat demikian dan demikian.”<br />
<span style="text-decoration: underline;">Kedua:</span> Menceritakan nikmat yang dimaksud di dalam ayat ini adalah berdakwah di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala menyampaikan risalah-Nya dan mengajarkan umat.<br />
Dari kedua pendapat tersebut, Ibnul Qayyim rahimahullahu dalam <em>Madarijus Salikin</em> (2/249) mentarjih dengan perkataan beliau: “Yang benar, ayat ini mencakup kedua makna tersebut. Karena masing-masingnya adalah nikmat yang kita diperintahkan untuk mensyukurinya, menceritakannya, dan menampakkannya sebagai wujud kesyukuran.” Beliau berkata: “Dalam sebuah atsar yang lain dan marfu’ disebutkan:</p>
<p align="center">
مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيْلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيْرَ وَمَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللهَ، وَالتَّحَدُّثُ بِنِعْمَةِ اللهِ شُكْرٌ وَتَرْكُهُ كُفْرٌ وَالْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ</p>
<p>“<em>Barangsiapa tidak mensyukuri yang sedikit maka dia tidak akan mensyukuri atas yang banyak dan barangsiapa yang tidak berterima kasih kepada manusia maka dia tidak bersyukur kepada Allah. Menceritakan sebuah nikmat (yang didapati) kepada orang lain termasuk dari syukur dan meninggalkannya adalah kufur, bersatu adalah rahmat dan bercerai berai adalah azab.” </em>(HR. Ahmad dari An-Nu’man bin Basyir) [Madarijus Salikin, 2/248]</p>
<p><strong>Dengan Apa Seorang Hamba Bersyukur?</p>
<p></strong></p>
<p>Ibnu Qudamah rahimahullahu menjelaskan: “Syukur bisa dilakukan dengan hati, lisan, dan anggota badan. Adapun dengan hati adalah berniat untuk melakukan kebaikan dan menyembunyikannya pada khayalak ramai. Adapun dengan lisan adalah menampakkan kesyukuran itu dengan memuji Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Artinya, menampakkan keridhaan kepada Allah Ta’ala. Dan hal ini sangat dituntut, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam:</p>
<p align="center">
التَّحَدُّثُ بِالنِّعَمِ شُكْرٌ وَتَرْكُهُ كُفْرٌ</p>
<p><em>‘Menceritakan nikmat itu adalah wujud kesyukuran dan meninggalkannya adalah wujud kekufuran.’</em><br />
Adapun dengan anggota badan adalah mempergunakan nikmat-nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut dalam ketaatan kepada-Nya dan menjaga diri dari bermaksiat dengannya. Termasuk kesyukuran terhadap nikmat kedua mata adalah dengan cara menutup setiap aib yang dilihat pada seorang muslim. Dan termasuk kesyukuran atas nikmat kedua telinga adalah menutup setiap aib yang didengar. Penampilan seperti ini termasuk wujud kesyukuran terhadap anggota badan.” (<em>Mukhtashar Minhajul Qashidin</em> hal. 277)<br />
Ibnul Qayyim rahimahullahu menjelaskan: “Syukur itu bisa dilakukan oleh hati dengan tunduk dan kepasrahan, oleh lisan dengan mengakui nikmat tersebut, dan oleh anggota badan dengan ketaatan dan penerimaan.” (<em>Madarijus Salikin</em>, 2/246)</p>
<p><strong>Derajat Syukur</strong></p>
<p>Syukur memiliki tiga tingkatan:<br />
<span style="text-decoration: underline;">Pertama</span>: Bersyukur karena mendapatkan apa yang disukai.<br />
Tingkat syukur ini bisa juga dilakukan orang Islam dan non Islam, seperti Yahudi dan Nasrani, bahkan Majusi. Namun Ibnul Qayyim rahimahullahu menjelaskan: “Jika engkau mengetahui hakikat syukur, dan di antara hakikat syukur adalah menjadikan nikmat tersebut membantu dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mencari ridha-Nya, niscaya engkau akan mengetahui bahwa kaum musliminlah yang pantas menyandang derajat syukur ini.<br />
‘Aisyah radhiyallahu &#8216;anha telah menulis surat kepada Mu’awiyah radhiyallahu &#8216;anhu: ‘Sesungguhnya tingkatan kewajiban yang paling kecil atas orang yang diberi nikmat adalah tidak menjadikan nikmat tersebut sebagai jembatan untuk bermaksiat kepada-Nya’.” (<em>Madarijus Salikin</em>, 2/253)<br />
<span style="text-decoration: underline;">Kedua</span>: Mensyukuri sesuatu yang tidak disukai. Orang yang melakukan jenis syukur ini adalah orang yang sikapnya sama dalam semua keadaan, sebagai bukti keridhaannya.<br />
Ibnul Qayyim rahimahullahu menjelaskan: “Bersyukur atas sesuatu yang tidak disukai lebih berat dan lebih sulit dibandingkan mensyukuri yang disenangi. Oleh sebab itulah, syukur yang kedua ini di atas jenis syukur yang pertama. Syukur jenis kedua ini tidak dilakukan kecuali oleh salah satu dari dua jenis orang:<br />
q Seseorang yang semua keadaannya sama. Artinya, sikapnya sama terhadap yang disukai dan tidak disukai, dan dia bersyukur atas semuanya sebagai bukti keridhaan dirinya terhadap apa yang terjadi. Ini merupakan (gambaran) kedudukan ridha.<br />
q Seseorang yang bisa membedakan keadaannya. Dia tidak menyukai sesuatu yang tidak menyenangkan dan tidak ridha bila menimpanya. Namun bila sesuatu yang tidak menyenangkan menimpanya, dia tetap mensyukurinya. Kesyukurannya (dia jadikan) sebagai pemadam kemarahannya, sebagai penutup dari berkeluh kesah, dan demi menjaga adab serta menempuh jalan ilmu. Karena sesungguhnya adab dan ilmu akan membimbing seseorang untuk bersyukur di waktu senang maupun susah.<br />
Tentunya yang pertama lebih tinggi dari yang kedua. (<em>Madarijus Salikin</em>, 2/254)<br />
<span style="text-decoration: underline;">Ketiga</span>: Seseorang seolah-olah tidak menyaksikan kecuali Yang memberinya kenikmatan. Artinya, bila dia melihat yang memberinya kenikmatan dalam rangka ibadah, dia akan menganggap besar nikmat tersebut. Dan bila dia menyaksikan yang memberi kenikmatan karena rasa cinta, niscaya semua yang berat akan terasa manis baginya.</p>
<p>Manusia dan Syukur<br />
Kita telah mengetahui bahwa syukur merupakan salah satu sifat yang terpuji dan sifat yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Akan tetapi tidak semua orang bisa mendapatkannya. Artinya, ada yang diberi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan ada pula yang tidak.<br />
Manusia dan syukur terbagi menjadi tiga golongan:<br />
<span style="text-decoration: underline;">Pertama</span>: Orang yang mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala.<br />
<span style="text-decoration: underline;">Kedua</span>: Orang yang menentang nikmat yang diberikan alias kufur nikmat.<br />
<span style="text-decoration: underline;">Ketiga</span>: Orang yang berpura-pura syukur padahal dia bukan orang yang bersyukur. Orang yang seperti ini dimisalkan dengan orang yang berhias dengan sesuatu yang tidak dia tidak miliki. (<em>Madarijus Salikin</em>, 2/48)</p>
<p>Dalil-dalil tentang Syukur</p>
<p align="center">
وَاشْكُرُوا لِلهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ</p>
<p><em>“Bersyukurlah kalian kepada Allah jika hanya kepada-Nya kalian menyembah.”</em> (Al-Baqarah: 172)</p>
<p align="center">
فَاذْكُرُوْنِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلاَ تَكْفُرُوْنِ</p>
<p><em>“Maka ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku akan mengingat kalian dan bersyukurlah kalian kepada-Ku dan jangan kalian kufur.&#8221;</em> (Al-Baqarah: 152)</p>
<p align="center">
وَاعْبُدُوْهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ</p>
<p><em>“Dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya dan kepada-Nya kalian dikembalikan.&#8221;</em> (Al-&#8217;Ankabut: 17)</p>
<p align="center">
وَسَيَجْزِي اللهُ الشَّاكِرِيْنَ</p>
<p align="center">
<em>“Dan Allah akan membalas orang-orang yang bersyukur.” </em>(Ali &#8216;Imran: 144)</p>
<p>وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيْدٌ</p>
<p><em>“Dan ingatlah ketika Rabb kalian memaklumkan: Jika kalian bersyukur niscaya Kami akan menambah (nikmat Kami) dan jika kalian mengkufurinya sungguh azab-Ku sangat pedih.”</em> (Ibrahim: 7)<br />
Dari ‘Aisyah radhiyallahu &#8216;anha ia berkata:<br />
أَنَّ نَبِيَّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُوْمُ مِنَ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ، فَقَالَتْ عَائِشَةُ: لِمَ تَصْنَعُ هَذَا يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَقَدْ غَفَرَ اللهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ؟ قَالَ: أَفَلاَ أُحِبُّ أَنْ أَكُوْنَ عَبْدًا شَكُوْرًا؟<br />
<em>“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bangun di malam hari sampai pecah-pecah kedua kaki beliau lalu ‘Aisyah berkata: ‘Ya Rasulullah, kenapa engkau melakukan yang demikian, padahal Allah telah mengampuni dosamu yang telah lewat dan akan datang?’ Beliau menjawab: ‘Apakah aku tidak suka menjadi hamba yang bersyukur?’”</em> (HR. Al-Bukhari no 4660 dari ‘Aisyah radhiyallahu &#8216;anha)<br />
Masih banyak dalil lain yang menjelaskan tentang keutamaan syukur dan anjuran dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Semoga apa yang dibawakan di sini mewakili yang tidak disebutkan.<br />
<strong>Ancaman bagi Orang-Orang yang Tidak Bersyukur</strong></p>
<p>Yang tidak bersyukur lebih banyak dari yang bersyukur. Hal ini tidak bisa dipungkiri oleh orang yang berakal bersih. Sebagaimana orang yang ingkar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih banyak dari yang beriman. Demikianlah keterangan Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam firman-Nya:</p>
<p align="center">
وَقَلِيْلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُوْرُ</p>
<p><em>“Dan sedikit dari hamba-hambaKu yang bersyukur.”</em> (Saba`: 13)<br />
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang ancaman bagi yang kufur nikmat:</p>
<p align="center">
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيْدٌ</p>
<p><em>“Dan Rabb kalian telah mengumumkan jika kalian bersyukur niscaya Kami akan menambah (nikmat Kami) dan jika kalian mengkufurinya sungguh azab-Ku sangat pedih.”</em> (Ibrahim: 7)<br />
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullahu menjelaskan: “Jika kalian mengkufuri nikmat, menutup-nutupinya dan menentangnya maka (azab-Ku sangat pedih) yaitu dengan dicabutnya nikmat tersebut dan siksa Allah Subhanahu wa Ta’ala menimpanya dengan sebab kekufurannya. Dan disebutkan dalam sebuah hadits: ‘Sesungguhnya seseorang diharamkan untuk mendapatkan rizki karena dosa yang diperbuatnya’.” (<em>Tafsir Ibnu Katsir</em>, 2/637)</p>
<p><strong>Syukur dan Sabar</strong><br />
Kita akan bertanya: “Jika engkau ditimpa sebuah musibah lalu engkau mensyukurinya, maka tentu pada sikap kesyukuranmu terdapat sifat sabar dan sifat ridha terhadap musibah yang menimpa dirimu. Dan kita mengetahui bahwa ridha merupakan bagian dari kesabaran. Sementara syukur merupakan buah dari sifat ridha.”<br />
Ibnul Qayyim rahimahullahu menjelaskan: “Syukur termasuk kedudukan yang paling tinggi dan lebih tinggi -bahkan jauh libih tinggi- daripada kedudukan ridha. Di mana sifat ridha masuk dalam syukur, karena mustahil syukur ada tanpa ridha.” (<em>Madarijus Salikin,</em> 2/242)</p>
<p><strong>Kenapa Kebanyakan Orang Tidak Bersyukur?</p>
<p></strong></p>
<p>Ibnu Qudamah rahimahullahu menjelaskan: “Makhluk ini tidak mau mensyukuri nikmat karena padanya ada dua (sifat) yaitu kejahilan dan kelalaian. Kedua sifat ini menghalangi mereka untuk mengetahui nikmat. Karena tidak tergambar bahwa seseorang akan bisa bersyukur tanpa mengetahui nikmat (sebuah pemberian). Jika pun mereka mengetahui nikmat, mereka menyangka bahwa bersyukur itu hanya sebatas mengucapkan alhamdulillah atau syukrullah dengan lisan. Mereka tidak mengetahui bahwa makna syukur adalah mempergunakan nikmat pada jalan ketaatan kepada Allah Ta’ala.” (<em>Mukhtashar Minhajul Qashidin</em> hal. 288)<br />
Kesimpulan ucapan Ibnu Qudamah rahimahullahu adalah bahwa manusia banyak tidak bersyukur karena ada dua perkara yang melandasinya yaitu kejahilan dan kelalaian.</p>
<p><strong>Mengobati Kelalaian dari Bersyukur</strong><br />
Ibnu Qudamah rahimahullahu menjelaskan: “Hati yang hidup akan menggali segala macam nikmat diberikan. Adapun hati yang jahil (lalai) tidak akan menganggap sebuah nikmat sebagai nikmat kecuali setelah bala’ menimpanya. Caranya, hendaklah dia terus memandang kepada yang lebih rendah darinya dan berusaha berbuat apa yang telah dilakukan oleh orang-orang terdahulu. Mendatangi tempat orang yang sedang sakit dan melihat berbagai macam ujian yang sedang menimpa mereka, kemudian berpikir tentang nikmat sehat dan keselamatan. Menyaksikan jenazah orang yang terbunuh, dipotong tangan mereka, kaki-kaki mereka dan diazab, lalu dia bersyukur atas keselamatan dirinya dari berbagai azab.” (<em>Mukhtashar Minhajul Qashidin</em> hal. 290)<br />
Wallahu a’lam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.serambiyemen.com/2013/05/hidup-penuh-makna-dengan-syukur.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SYARAH AL-BAIQUNIYAH BAG. 4</title>
		<link>http://www.serambiyemen.com/2013/04/syarah-al-baiquniyah-bag-4.html</link>
		<comments>http://www.serambiyemen.com/2013/04/syarah-al-baiquniyah-bag-4.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Apr 2013 23:10:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Ya'la</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.serambiyemen.com/?p=485</guid>
		<description><![CDATA[HADITS MARFU’ Berkata Nadzim rahimahullah: &#160; وَمَا أُضِيْفَ لِلنَّبِيِّ الْمَرْفُوْعُ                                            &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;. Apa-apa yang disandarkan kepada Nabi adalah hadits Marfu’&#8230;&#8230;.  Secara Bahasa (etimologi): Marfu’ adalah isim maf’ul (objek) dari kata kerja رَفَعَ (mengangkat) وَضَعَ (meletakkan atau merendahkan), maka seolah-olah hadits ini dinamakan dengan hadits Marfu’ dikarenakan ia dinisbatkan/disandarkan kepada pemilik kedudukan yang tinggi, yaitu Rasulullah shallallahu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img id="rg_hi" src="https://encrypted-tbn2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcT8OMZe92Pz0s3_mXpO3wmriIwV10FVe5334jG7lO284ZShOBEQew" alt="" width="274" height="184" data-height="184" data-width="274" /></p>
<p align="center"><strong><span style="text-decoration: underline;">HADITS MARFU’</span></strong></p>
<p>Berkata Nadzim rahimahullah:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="right">وَمَا أُضِيْفَ لِلنَّبِيِّ الْمَرْفُوْعُ                                            &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p><strong>Apa-apa yang disandarkan kepada Nabi adalah hadits Marfu’&#8230;&#8230;.</strong></p>
<p><strong> </strong><strong>Secara Bahasa (etimologi)</strong><strong>:</strong> <em>Marfu’ </em>adalah <em>isim maf’ul </em>(objek) dari kata kerja <strong>رَفَعَ </strong>(mengangkat) <strong>وَضَعَ </strong>(meletakkan atau merendahkan), maka seolah-olah hadits ini dinamakan dengan hadits <em>Marfu’</em> dikarenakan ia dinisbatkan/disandarkan kepada pemilik kedudukan yang tinggi, yaitu Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam.</em></p>
<p>Definisi Hadits Marfu’secara istilah (terminologi)<strong>:</strong></p>
<p align="center">ما أضيف إلى النبيّ صلى الله عليه وسلم من قول أو فعل أو تقرير</p>
<p><strong><em>Apa-apa yang disandarkan kepada Nabi shallallahu’alaihi wasallam baik berupa ucapan, perbuatan, persetujuan atau sifat</em></strong>.<a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa hadits marfu’ ada empat macam: 1. Ucapan 2. Perbuatan 3. Persetujuan 4. Sifat.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"> Hadits marfu’ berupa ucapan</span> adalah: Apabila ada seorang shabat mengatakan, Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam bersabda demikian dan demikian&#8230;dst.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Hadits Marfu’ berupa perbuatan</span> adalah: Apabila ada diantara shahabat atau yang selainnya mengatakan: ((Nabi shallallahu’alaihi wasallam melakukan demikian dan demikian&#8230;dst)).</p>
<ol start="3">
<li>  Hadits Marfu’ berupa persetujuan adalah: Apabila ada diantara shahabat atau selainnya mengucapkan: ((Dahulu di zaman Nabi ada yang melakukan demikian dan demikian&#8230;dst)) kemudian tidak ada riwayat dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam bahwa beliau mengingkarinya.  karena Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> tidak diam (mendiamkan) terhadap kemungkaran, akan tetapi pasti beliau akan menjelaskan bahwa hal itu adalah mungkar. Hal itu dikarenakan beberapa hal:</li>
</ol>
<p>a). Bahwasanya beliau <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em>tidak takut terhadap celaan orang-orang yang suka mencela dalam menegakkan syar’at Allah, dan bahkan beliau adalah manusia yang paling berhak terhadap masalah tersebut.</p>
<p>b.) Bahwasanya beliau <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> terjaga dari kesalahan dalam menyampaikan (risalah/agama Allah), maka jika beliau diam (mendiamkan) terhadap suatu perkara, itu berarti perkara tersebut adalah sebuah kebenaran.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>c). Bahwasanya apabila sesuatu yang didiamkan itu adalah hal yang dilarang, tentu akan turun wahyu kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em> yang mengabarkan kepada beliau tentang hal itu (terlarangnya perbuatan yang didiamkan tersebut).</p>
<p>Dan ini berbeda dengan orang-orang selain beliau <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>, karena terkadang mereka mendiamkan suatu kemunkaran dikarenakan beberapa sebab di antaranya:</p>
<p>-          Mungkin saja ia lalai/tidak tahu perbuatan tersebut</p>
<p>-          Takut terhadap pelaku kemunkaran, atau karena ia menyukainya</p>
<p>-          Tidak mengetahui hukum perbuatan yang dilakukan oleh pelaku kemungkaran</p>
<p>-          Mungkin ia memiliki penafsiran yang lain terhadap perbuatan yang dilakukan oleh pelaku kemungkaran tersebut, maka ia melihat bahwasanya pelaku tersebut benar, sehingga ia pun mendiamkannya. Padahal kenyataannya perbuatan tersebut tidak memiliki satu sisi kebenaran pun.</p>
<p>-          Mungkin saja yang dilakukan oleh orang tersebut merupakan perkara <em>Ijtihadiyyah </em>yang di dalamnya seseorang diperbolehkan diam (tidak mengingkari) orang yang berbeda pendapat dengannya, sehingga dia pun diam terhadap perbuatan tersebut dikarenakan hal itu, bukan karena orang yang menyelisihinya itu benar.</p>
<p>Keseluruhan sebab-sebab ini tidak terjadi pada diri Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam.</em></p>
<ol>
<li>Hadits Marfu’ berupa sifat: yaitu semisal perkataan seorang shahabat atau yang lainnya,</li>
</ol>
<p align="right">(كان رسول الله صلى الله عليه وسلم أحسن الناس خُلقاً)</p>
<p>“<em>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang paling baik akhaknya</em>.”<a title="" href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Faedah: Termasuk dari kategori hadits marfu’ adalah perkataan seorang shahabat: ((أمرنا بكذا)) kami diperintahkan demikian, atau ((نهينا عن كذا)) kami dilarang demikian. Maka tentu pernyataan demikian dari para shahabat adalah perintah dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam, apalagi jika perintah tersebut terkait dengan hukum syar’i.<a title="" href="#_ftn3">[3]</a> Contohnya adalah perkataan Anas bin Malik,</p>
<p align="right">((أُمِرَ بلالٌ أنْ يشفَعَ الأذان ويوتِرَ الإقامة))</p>
<p><em>“Bilal diperintahkan untuk menggenapkan bilangan adzan dan mengganjilkan bilangan iqamah.”</em></p>
<p>Maka tidak lain bahwa yang memerintahkan adalah Nabi shallallahu’alaihi wasallam sendiri bukan para shahabat yang lain, apalagi adzan dan iqamat kaitannya adalah dengan masalah ibadah dan hukum syar’i.</p>
<p><strong>Masalah:</strong> Perkataan seorang shahabat ‘<strong><em>Dahulu kami melakukan demikan’</em></strong> apakah termasuk dihukumi marfu’? Dalam hal ini ada dua rincian:</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Pertama:  </span>Apabila perkataan tersebut disandarkan kepada zaman Nabi shallallahu’alaihi wasallam, maka dihukumi sebagai hadits yang marfu’. Sebagaimana pernyataan Jabir radhiyallahu’anhu,</p>
<p align="center">(( كنّا نعزل والقرأن ينزل))</p>
<p><em>“Dahulu kami melakukan ‘azl sedangkan Al-Qur’an masih turun diantara kami.”</em><a title="" href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Gambaran <em>‘azl</em> adalah ketika akan mendekati keluarnya mani (ejakulasi), kemaluan sengaja ditarik keluar vagina sehingga sperma tumpah di luar. Hal ini bisa jadi dilakukan karena ingin mencegah kehamilan, atau pertimbangan lain seperti  memperhatikan kesehatan istri, janin atau anak yang sedang menyusui.<a title="" href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Dari penjelasan hadits diatas dapat ditarik kesimpulan, bahwa para shahabat pernah melakukan ‘azl pada zaman Nabi shallallahu’alaihi wasallam sedangkan beliau tidak mengharamkan hal tersebut.</p>
<p>Kedua: Apabila perkataan shahabat <strong><em>‘dahulu kami melakukan demikian’</em></strong> tanpa ada penyandarannya dengan zaman Nabi shallallahu’alaihi wasallam, maka terjadi khilaf dikalangan para ulama, yang rajih (kuat) dalam hal ini, bahwa pernyataan tersebut dihukumi marfu’. Hal itu dikarenakan perkataan shahabat <strong><em>‘dahulu kami melakukan demikian’</em></strong> menunjukan bahwa perbuatan tersebut dilakukan secara sering dan berulang-ulang.<a title="" href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p><strong>Termasuk kategori hadits marfu’ menurut pendapat yang rajih adalah perkataan seorang shahabat</strong>:</p>
<p><strong>((كنا لا نرى بأسا بكذا))</strong> <span style="text-decoration: underline;">‘Kami memandang hal ini tidak mengapa untuk dikerjakan’</span>.  Kecuali apabila ada dalil yang menunjukan bahwa perkataan shahabat tersebut menyelisihi hadits, maka didahulukan hadits Nabi shallallahu’alaihi wasallam.</p>
<p><strong>Termasuk dari kategori hadits marfu’ adalah ucapan seorang shabat</strong>: <strong>((من السنة كذا))</strong> <span style="text-decoration: underline;">‘Ini adalah bagian dari sunnah’</span>.  Berkata imam Ibnu Shalah, “Perkatataan semacam diatas (dari para shahabat) adalah dihukumi hadits marfu’ secara jelas.”<a title="" href="#_ftn7">[7]</a> Contoh dalam hal ini adalah perkataan Umar bin Khattab,</p>
<p dir="RTL"><strong>مِنْ سُنَّةِ الصَّلَاةِ أَنْ تَنْصِبَ الْقَدَمَ الْيُمْنَى وَاسْتِقْبَالُهُ بِأَصَابِعِهَا الْقِبْلَةَ وَالْجُلُوسُ عَلَى الْيُسْرَى</strong></p>
<p>  <em>“Diantara sunah dalam shalat adalah menegakkan telapak kaki kanan dan menghadapkan jari-jarinya ke arah kiblat, dan duduk di atas kaki kiri.”</em> <a title="" href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p><strong>Termasuk juga </strong><strong>kedalam kategori hadits marfu’ adalah ucapan seorang shahabat dalam suatu permasalahan hukum syar’i, perkara ghoib, atau hal lainnya yang tidak mungkin dapat dijangkau dengan akal</strong>. Dengan syarat khabar yang dikhabarkan oleh shahabat tersebut bukan sekedar nukilan dari kabar Bani Isra’il. Contoh dalam masalah ini adalah apa yang dibawakan oleh imam Ibnu Katsir di dalam Tafsirnya (ketika membahas tafsir Surat Adh-Dhuha’) dalam firman Allah Ta’ala,</p>
<p align="center">(<strong>وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضى</strong>)</p>
<p>  <em>“ Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu , lalu (hati) kamu menjadi puas.”</em> (QS. Adh-Dhuha’: 5). Berkata Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma tentang ayat tersebut, “Telah diperlihatkan kepada Nabi shallallahu’alaihi wasallam apa-apa dari perbendaharaan kekayaan satu persatu, hingga beliau pun ridho’ dengan hal yang menyenangkan tersebut. Kemudian turunlah ayat tersebut. Kemudian Allah pun memberikabar gembira kepada beliau shallallahu’alaihi wasallam berupa pemberian di surga seribu istana yang masing-masing dari istana tersebut terdapat istri-istri dari kalangan bidadari dan pembantunya.”</p>
<p>Berkata Al-Hafidz Ibnu Katsir: “Atsar diatas diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dengan jalan-jalan periwayatannya, dan sanadnya shahih kepada Ibnu Abbas. Pernyataan semacam ini tidaklah dikatakan melainkan sumbernya dari Nabi shallallahu’alaihi wasalllam.”<a title="" href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p>Para shahabat adalah orang-orang yang sangat menjauhi dari berucap dusta tentang hadits Nabi shallallahu’alaihi wasallam. Apaagi jika perkara tersebut berkaitan dengan perkara-perkara ghoib.</p>
<p><strong>Termasuk ke</strong><strong>dalam kategori marfu’ adalah hikayat dari salah seorang shahabat tentang sebab turunnya suatu ayat. </strong>Yang demikian<strong> </strong>itu dikarenakan para shahabat adalah orang-orang yang langsung mengetahui dan menyaksikan turunnya suatu ayat, sehingga mereka lebih mengetahui sebab dari turunnya suatu ayat dari pada yang lainnya.<a title="" href="#_ftn10">[10]</a> Diantara contoh dalam hal ini adalah perkataan Jabir radhiyallahu’anhu:</p>
<p align="right"><strong>كَانَتِ اليَهُودُ تَقُولُ: إِذَا جَامَعَهَا مِنْ وَرَائِهَا جَاءَ الوَلَدُ أَحْوَلَ، فَنَزَلَتْ: {نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ}</strong></p>
<p>“Dahulu orang-orang Yahudi mengatakan, ‘Barang siapa yang berjima’ dengan istri dari arah belakang, maka anak yang lahir akan menjadi juling’. Maka kemudian Allah menurunkan firman-Nya, <strong><em>“Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, Maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki.”</em></strong> (Al-Baqarah: 223)</p>
<p><strong>  Faedah</strong>: Sebagian ulama ada yang mengkategorikan penafsiran dari salah seorang shahabat masuk kedalam kategori marfu’, namun tentu ini adalah suatu pendapat yang lemah. Hal itu dikarenakan para shahabat berbeda-beda dalam menafsirkan suatu ayat, oleh karena itu tidak mungkin untuk diambil penafsiran para shahabat secara keseluruhan. Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu membagi tafsir menjadi empat macam:</p>
<p>1- Tafsir yang bisa diketahui oleh seluruh manusia dari kalangan kaum muslimin dan tidak ada udzur bagi seseorang untuk tidak mengetahuinya.</p>
<p>2- Tafsir yang diketahui oleh kalangan para ulama.</p>
<p>3- Tafsir yang bisa dipahami dari konteks Bahasa Arab.</p>
<p>4- Tafsir yang Allah sembunyikan hakekat dan ilmunya.<a title="" href="#_ftn11">[11]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong><span style="text-decoration: underline;">HADITS MAQTHU’</span></strong></p>
<p><span style="text-decoration: underline;"> </span>Berkata Nadzim rahimahullah:</p>
<p align="right">&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.                                وَمَا لِتابِعٍ هوَ الْمَقْطُوعُ</p>
<p>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;<strong>Dan apa-apa yang disandarkan kepada tabi’in adalah maqtu’ </strong></p>
<p>Dari penjelasan imam Al-Baiquni diatas beliau mendefinisikan hadits maqthu’ adalah: ((Apa-apa yang disandarkan kepada tabi’in baik berupa ucapan atau perbuatan)).</p>
<p>Hanya saja seandainya penulis mendahulukan pembahasan hadits mauquf itu lebih utama dari pada membahas hadits maqthu’ terlebih dahulu. Dikarenakan hadits mauquf lebih utama dari pada hadits maqthu’, hal itu dikarenakan sesuatu yang disandarkan kepada shahabat radhiyallahu’anhum lebih mulia dari apa yang disandarkan kepada para tabi’in.<a title="" href="#_ftn12">[12]</a></p>
<p><strong>Definisi Tabi’in</strong><br />
Secara bahasa kata <em>Tabi’in</em> merupakan bentuk jamak (Plural) dari <em>Tabi’i</em> atau <em>Tabi’</em>. <em>Tabi’</em> merupakan <em>Ism Fa’il</em> dari kata kerja <em>Tabi’a</em>. Bila dikatakan, <em>Tabi’ahu fulan</em>, maknanya <em>Masya Khalfahu</em> (Si fulan berjalan di belakangnya).</p>
<p>Secara istilah adalah orang yang bertemu dengan shahabat dalam keadaan Muslim dan meninggal dunia dalam Islam pula. Ada yang mengatakan, <em>Tabi’in</em> adalah orang yang menemati shahabat. <a title="" href="#_ftn13">[13]</a></p>
<p>Tidak disyaratkan seorang dikatakan tabi’in dia harus berjumpa dengan shahabat dalam keadaan Islam. Terkadang seorang tabi’in melihat shabat ketika dalam kondisi kafir kemudian dia masuk Islam setelahnya.<a title="" href="#_ftn14">[14]</a></p>
<p><strong>Faedahnya</strong></p>
<p>Di antara faedah mengenal <em>Tabi’in</em> adalah agar dapat membedakan mana hadits <em>Mursal</em> (ucapan Tabi’i yang meriwayatkan langsung dari Nabi Shallallahu’alaihi wasallam tanpa menyebutkan shahabat) dan mana hadits Muttashil (bersambung sanadnya hingga kepada Nabi Shallallahu’alaihi wasallam).</p>
<p><strong>Thabaqat Tabi’in</strong></p>
<p>Para ulama berbeda pendapat mengenai <em>Thabaqat</em> (tingkatan) Tabi’in. Karena itu, mereka mengklasifikasikannya berdasarkan pandangan masing-masing, di antaranya:<br />
a. Imam Muslim menjadikannya tiga <em>Thabaqat</em><br />
b. Ibn Sa’d menjadikannya empat <em>Thabaqat</em><br />
c. Al-Hakim menjadikannya lima belas <em>Thabaqat</em>, yang pertamanya adalah orang yang bertemu dengan sepuluh shahabat yang diberi kabar gembira untuk masuk surga.</p>
<p><strong>Siapa Mukhadhramin?</strong></p>
<p>Kata <em>Mukhadhramin</em> merupakan bentuk jamak (plural) dari kata <em>Mukhadhram</em>. Pengertiannya adalah orang yang hidup pada masa Jahiliyah dan masa Nabi Shallallahu’alahi wasallam lalu masuk Islam akan tetapi ia tidak sempat melihat beliau Shallallahu’alaihi wasallam. Menurut pendapat yang shahih, <em>Mukhadhramin</em> dimasukkan ke dalam kategori kalangan Tabi’in.</p>
<p>Jumlah mereka ditaksir sebanyak 20 orang seperti yang dihitung oleh Imam Muslim.</p>
<p>Akan tetapi pendapat yang tepat, bahwa jumlah mereka lebih dari itu, di antara nama mereka terdapat Abu ‘Utsman an-Nahdi dan al-Aswad bin Yazid an-Nakha’iy.</p>
<p><strong>Siapa Tujuh Fuqaha?</strong></p>
<p>Di antara deretan para tokoh besar Tabi’in adalah mereka yang disebut <em>al-Fuqaha as-Sab’’ah</em> (Tujuh Fuqaha). Mereka-lah para ulama besar kalangan Tabi’in dan semuanya berasal dari Madinah. Mereka adalah:<br />
1. Sa’id bin al-Musayyib<br />
2. al-Qasim bin Muhammad<br />
3. ‘Urwah bin az-Zubair<br />
4. Kharijah bin Zaid<br />
5. Abu Salamah bin ‘Abdurrahman<br />
6. ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah bin ‘Utbah<br />
7. Sulaiman bin Yasar</p>
<p>(Dalam hal ini, Ibn al-Mubarak memasukkan Salim bin ‘Abdullah bin ‘Umar menggantikan Abu Salamah. Sedangkan Abu az-Zinad memasukkan Abu Bakar bin ‘Abdurrahman menggantikan dua nama; Salim dan Abu Salamah) <a title="" href="#_ftn15">[15]</a></p>
<p><strong>Siapa Kalangan Tabi’in Yang Paling Utama?</strong></p>
<p>Uwais bin ‘Amir Al-Qoroni adalah tabiin terbaik sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim[1] dari Umar bin Al-Khotthob ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah bersabda:</p>
<p align="center">إِنَّ خَيْرَ التَّابِعِيْنَ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ أُوَيْسٌ وَلَهُ وَالِدَةٌ</p>
<p>((<em>Sebaik-baik tabi’in adalah seorang yang disebut dengan Uwais dan ia memiliki seorang ibu…</em> ))<a title="" href="#_ftn16">[16]</a></p>
<p>Berkata An-Nawawi, “Ini jelas menunjukan bahwa Uwais adalah tabi’in terbaik, mungkin saja dikatakan “Imam Ahmad dan para imam yang lainnya mengatakan bahwa Sa’id bin Al-Musayyib adalah tabi’in terbaik”, maka jawabannya, maksud mereka adalah Sa’id bin Al-Musayyib adalah tabi’in terbaik dalam sisi ilmu syari’at seperti tafsir , hadits, fiqih, dan yang semisalnya dan bukan pada keafdlolan di sisi Allah.”<a title="" href="#_ftn17">[17]</a><br />
<strong>Siapa Kalangan Tabi’iyyat (dari kalangan wanita) Yang Paling Utama?</strong></p>
<p>Abu Bakar bin Abu Daud berkata, “Dua wanita tokoh utama kalangan Tabi’iyyat (para wanita kalangan Tabi’in) adalah Hafshoh binti Sirin dan ‘Amrah binti ‘Abdurrahman. Setelah itu, Ummu ad-Darda’.” <a title="" href="#_ftn18">[18]</a></p>
<p><strong>Apa Faidah Dari Penulisan Atsar Para Tabi’in Padahal Semata-mata Perkataan Tabi’in Tidak Langsung Menjadi Hujjah?</strong></p>
<p>Terdapat banyak faedah dari penulisan atsar para tabi’in antara lain:</p>
<p>1- Dengan mentela’ah atsar (ucapan) para tabi’in akan diketahui illah (cacat) suatu hadits. Hal itu bisa diketahui manakala ditemui suatu hadits yang secara jalan periwayatannya satu namun terkadang satu jalan diriwayatkan secara marfu’, sedangkan pada jalan yang lain diriwayatkan secara muqthu’. Maka dalam kasus ini yang lebih dirajihkan adalah riwayat maqthu’nya, dikarenakan riwayat maqthu’ tersebut akan menjelaskan kedho’ifan riwayat yang marfu’.  Berkata Al-Maimuni yang maknanya, “Seandainya ditulis dan dikumpulkan antara dua sanad hadits yang berbeda, maka akan diketahui mana diantara keduanya yang riwayatnya lebih kuat.”<a title="" href="#_ftn19">[19]</a></p>
<p>2- Sebagian perkataan tabi’in ada yang masuk kategori marfu’ secara hukum menurut sebagian para ulama seperti perkataan tabi’in ((من السنة كذا)): <strong><em>“Termasuk sunnah adalah perkara ini”</em></strong> atau perkataan mereka ((أمرنا بكذا)) : <strong><em>“Kami diperintahkan tentang perkara ini”,</em></strong> atau seorang tabi’in menyebutkan tentang suatu perkara ghoib yang tidak dapat dijangkau secara akal. Maka kedudukan ucapan mereka bisa diterima bila ada penguat dari riwayat-riwayat lainnya.<a title="" href="#_ftn20">[20]</a></p>
<p>3- Perkataan Tabi’in adalah bagian dari perkataan para salaf. Sedangkan kita dituntut untuk memahami Al-Qur’an dan Sunnah berdasarkan pemahaman para salaf. Sedangkan berisan terdepan para salaf adalah para shahabat dan para tabi’in.<a title="" href="#_ftn21">[21]</a></p>
<p>4- Dengan meneliti perkataan dan atsar para tabi’in kita akan mengetahui perkara yang telah mereka sepakati dan perkara yang mereka perselisihkan. Kemudian dipilih yang rajih diantara khilaf yang ada pada mereka.<a title="" href="#_ftn22">[22]</a></p>
<p>5- Dengan adanya periwayatan dari para tabi’in bisa menjadi penjelas suatu hadits yang marfu’ manakala masih mengandung makna yang belum jelas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong><span style="text-decoration: underline;">HADITS AL-MUSNAD</span></strong></p>
<p>  Berkata nadzim rahimahullah:</p>
<p align="right">والْمُسند الْمتصلُ الإسنادِ مِنْ                                 راويهِ حتى المصطفى ولم يَبِنْ</p>
<p align="center">
<strong><em>Dan musnad adalah yang muttashil (bersambung) sanadnya dari</em></strong></p>
<p align="center"><strong><em>Perawinya hingga sampai ke Mushthafa (Nabi) dan tidak terputus</em></strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">SYARAH  </span></strong></p>
<p>Pada bait ini penulis menjelaskan tentang definisi hadits musnad yaitu: Hadits  yang bersambung (muttasil) dan sampai kepada Nabi shallallahu’alaihi wasallam (marfu’). Inilah pendapat yang dipilih oleh penulis sesuai dengan pendapat imam Al-Hakim An-Naisaburi rahimahullah demikian juga pendapat imam Ibnu Hajar rahimahullah.<a title="" href="#_ftn23">[23]</a></p>
<p>Ada tiga pendapat berkaitan dengan makna hadits: pendapat <strong><em>pertama</em></strong>, adalah pendapat imam Al-Hakim sebagaimana yang dipaparkan oleh imam Al-Baiquni di atas. <strong><em>Kedua</em></strong>, pendapat imam Al-Khatib Al-Baghdadi yaitu musnad adalah: yang sanadnya (mata rantai perawinya) sampai kepada matan (redaksi hadits). Pendapat ini seolah-olah sama dengan definisi hadits muttasil. <strong><em>Ketiga</em></strong>, pendapat imam Ibnu Abdil Barr musnad adalah: yang sampai kepada Nabi shallallahu’alaihi wasallam baik bersambung sanadnya ataupun tidak bersambung. Namun pendapat ini seolah-olah sama dengan definisi hadits marfu’.<a title="" href="#_ftn24">[24]</a></p>
<p>Contoh gambaran hadits musnad: Berkata imam Al-Bukhari,</p>
<p align="center"><strong>حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ، عَنْ مَالِكٍ، عَنْ أَبِي الزِّنَادِ، عَنِ الأَعْرَجِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا شَرِبَ الكَلْبُ فِي إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْسِلْهُ سَبْعًا»</strong></p>
<p>“Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf, dari Malik, dari Abuz Zinad, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda<strong><em>: “Apabila anjing meminum bejana salah seorang diantara kalian, maka cucilah selama tujuh kali.”</em></strong><a title="" href="#_ftn25">[25]</a></p>
<p>Apabila kita perhatikan contoh diatas maka akan kita dapati bahwa susunan para perawinya saling bersambung dari awal hingga akhir tanpa terputus sampai kepada Nabi shallallahu’alaihi wasallam. Itulah yang dinamakan dengan hadits musnad.</p>
<p>Hanya saja suatu hal yang harus kita fahami bahwa tidak setiap hadits yang musnad itu mesti shahih, adakalanya hadits musnad dho’if karena adanya keberadaan perawi yang kurang kredibilitasnya dalam periwayatan hadits ataupun faktor yang lainnya.</p>
<div><br clear="all" /></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a>  <em>Fathul Baqi ‘Ala Alfiyah Al-‘Iraqi</em> karya Zakaria Al-Anshari, dinukil dari <em>Al-Jawahir As-Sulaimaniyah</em>: hal. 117.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a>  Lihat <em>Taisir Musthalahul Hadits</em>: hal. 128 dengan sedikit adaptasi.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a>  Ibnu Shalah membahas hal tersebut dalam kitab beliau <em>At-Taqyid</em>: hal. 69, bahkan beliau menyatakan bahwa pernyataan tersebut adalah pendapat mayoritas para ahli hadits.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a>  HR. Bukhari no. 5208 dan Muslim no. 1440.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a>  <em>Al-Maushu’ah Al-Fiqhiyyah</em>: 30/81.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a>  <em>Al-Kifayah</em>: hal. 594-595, karya Al-Khatib.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a>  <em>At-Taqyid</em>: hal. 70.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref8">[8]</a>  HR. An Nasa’i No. 1158, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam <em>Shahih wa Dhaif Sunan An Nasa’i</em> No. 1158.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref9">[9]</a>  Muqaddimah <em>Tafsir Ibnu Katsir</em>: 1/8. Cet. Dar Ath-Thoibah.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref10">[10]</a>  <em>Majmu’ Fatawa</em>: 13/340, <em>At-Taqyid Wal-Idhah</em>: hal. 70.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref11">[11]</a>  <em>Tafsir Ath-Thabari</em>: 1/75, Muqaddimah <em>Tafsir Ibnu Katsir</em>: 1/41.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref12">[12]</a>  <em>Al-Jawahir</em>: hal. 138.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref13">[13]</a>  <em>At-Taqyid</em>: hal. 320.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref14">[14]</a>  <em>Fathul Mughits</em>: 1/147.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref15">[15]</a>  <em>Taysir Mushtholah al-Hadits</em> karya Dr. Mahmud ath-Thahhan, hal.202-203 secara ringkas.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref16">[16]</a>  HR. Muslim: no. 2542.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref17">[17]</a> <em>Al-Minhaj syarah shahih Muslim:</em> 16/95. Karya Imam An-Nawawi rahimahullah.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref18">[18]</a>   Yang dimaksud di sini adalah Ummu ad-Darda’ <em>ash-Shugra</em> (isteri muda Abu ad-Darda’) yang bernama Hujaimah (ada yang menyebutnya, Juhaimah). Sedangkan Ummu ad-Darda’ <em>al-Kubra</em> (isteri tua Abu ad-Darda’) bernama Khairah yang merupakan seorang wanita shahabat.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref19">[19]</a> <em>Al-Jami’</em>: 2/280. (no. 1634). Karya imam Al-Khatib Al-Baghdadi rahimahullah.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref20">[20]</a>  <em>Al-Jawahir</em>: hal. 143.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref21">[21]</a>  <em>Al-Madkhal Ilas Sunan Al-Kubra</em>: hal. 35 dan <em>Risalah ‘Abdus</em>: hal. 25.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref22">[22]</a> <em>Al-Jami’</em>: 2/281 (no. 1636). Karya Al-Khatib rahimahullah.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref23">[23]</a>  <em>An-Nukat</em>: hal. 507-508.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref24">[24]</a>  <em>Al-Ba’its Al-Hatsits</em>: hal. 42.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref25">[25]</a>  HR. Bukhari: no. 172.</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.serambiyemen.com/2013/04/syarah-al-baiquniyah-bag-4.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PERKARA YANG DITAKUTKAN OLEH RASULULLAH –SHALLALLAHU’ALAIHI WASALLAM- ATAS UMATNYA</title>
		<link>http://www.serambiyemen.com/2013/03/perkara-yang-ditakutkan-oleh-rasulullah-shallallahualaihi-wasallam-atas-umatnya.html</link>
		<comments>http://www.serambiyemen.com/2013/03/perkara-yang-ditakutkan-oleh-rasulullah-shallallahualaihi-wasallam-atas-umatnya.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Mar 2013 14:05:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Ya'la</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.serambiyemen.com/?p=481</guid>
		<description><![CDATA[Kehidupan dunia ini memang indah dan memukau, tak pelak banyak manusia kecuali yang dirahmati oleh Allah terbuai dan terpesona dengan kehidupan yang semu ini. Dunia telah disifati oleh Allah sebagai kesenangan yang menipu, tempat berbangga-bangga dengan harta dan anak-anak. Allah Ta’ala berfirman, اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي اْلأَمْوَالِ وَاْلأَوْلاَدِ [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img id="rg_hi" src="https://encrypted-tbn3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTWkdNYLIETALLZpiXVsVGnOXG-F-3vMr9dkGoCX1A-zxUdzKW-" alt="" width="240" height="180" data-height="180" data-width="240" /></p>
<p>Kehidupan dunia ini memang indah dan memukau, tak pelak banyak manusia kecuali yang dirahmati oleh Allah terbuai dan terpesona dengan kehidupan yang semu ini. Dunia telah disifati oleh Allah sebagai kesenangan yang menipu, tempat berbangga-bangga dengan harta dan anak-anak. Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p dir="RTL">اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي اْلأَمْوَالِ وَاْلأَوْلاَدِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي اْلأَخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللهِ وَرِضْوَانٌ وَمَاالْحَيَاةُ الدُّنْيَآ إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ</p>
<p>“<em>Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling berbangga diantara kamu serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan. Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridlaannya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.</em>” (QS. Al-Hadid: 20).</p>
<p>Nabi shallallahu’alaihi wasallam mengingatkan tentang bahaya terlena dengan kehidupan dunia, sebagaimana dalam firman-Nya,</p>
<p dir="RTL" align="right"><strong> </strong></p>
<p dir="RTL">إِنِّ مِمَّا أَخَافُ عَلَيْكُمْ مِنْ بَعْدِي مَا يُفْتَحُ عَلَيْكُمْ مِنْ زَهْرَةِ الدُّنْيَا وَزِينَتِهَا</p>
<p>“<em>Sesungguhnya di antara perkara yang aku khawatirkan atas kalian setelahku adalah dibukakan kepadamu kesenangan dunia dan perhiasannya.</em>” (HR Bukhari dan Muslim).</p>
<p><strong>Hinanya Kehidupan Dunia</strong></p>
<p>Sebenarnya, banyak orang yang telah memahami hakikat dunia ini, namun masih banyak pula yang terjebak di dalamnya. Yang paling menyedihkan adalah, orang yang tidak mengerti sama sekali hakikat dunia. Mereka adalah orang-orang yang terombang-ambing dalam pusaran gelombang hawa nafsu yang sengaja dipasang oleh setan untuk dijadikan perangkap dalam menyesatkan manusia. Padahal harga dunia seisinya telah digambarkan oleh Nabi shallallahu’alaihiwasallam dalam sabdanya,</p>
<p align="right"><strong>لَوْ كَانَتْ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ؛ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ</strong><strong></strong></p>
<p>“Andaikan dunia di sisi Allah<strong> seharga sayap seekor nyamuk</strong>; niscaya Allah tidak akan memberikan seteguk air pun untuk orang kafir”. HR. Tirmidzy dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu’anhu dan isnadnya dinyatakan sahih oleh al-Hakim.</p>
<p>Sayap seekor nyamuk, siapa yang mau? Diberi gratispun kita tidak mau. Namun anehnya tidak sedikit di antara manusia yang mati-matian berebut sayap nyamuk tersebut, bahkan sampai mempertaruhkan surga mereka sekalipun!</p>
<p>Kesenangan dunia dan perhiasannya telah menjadikan banyak manusia lupa dan lalai. Oleh karena itu, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sangat mengkhawatirkan umatnya dilalaikan dengan mengejar dunia dan melupakan kehidupan akhirat. Perbuatan demikian dapat menyebabkan kaum muslimin mendapatkan hal yang tidak diinginkan yaitu:</p>
<ul>
<li>Menjadi terhina di hadapan kaum <em>kuffar</em>.</li>
</ul>
<p>Sebagaimana sabda Nabi <em>shallalahu ‘alaihi wa sallam</em></p>
<p dir="RTL">إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ</p>
<p>“<em>Apabila kamu berjual beli dengan cara riba, mengambil ekor sapi, rela dengan tanaman dan meninggalkan jihad (membela agama), Allah akan kuasakan kehinaan kepadamu dan Dia tidak akan mencabutnya sampai kamu kembali kepada agamamu (yang benar).</em>” (HR Abu Dawud dan lainnya).<a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Ini artinya, kaum muslimin lebih mencintai dunia dan tidak mau membela agama Allah. Mereka lebih disibukkan dengan mengejar dunia dan perhiasannya walaupun dengan cara yang diharamkan oleh Allah <em>‘Azza wa Jalla</em>. Allah pun menjadikan kewibawaan kaum muslimin hilang dan Allah jadikan mereka terhina bagaikan buih yang bawa oleh banjir. Rosulullah <em>sallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL">يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ</p>
<p>“<em>Hampir-hampir umat-umat kafir saling memanggil untuk melahap kalian sebagaimana orang-orang lapar saling memanggil untuk melahap hidangan“. Lalu seorang shahabat berkata: ”Apakah jumlah kita sedikit waktu itu ? beliau bersabda: ”Justru jumlah kalian banyak pada waktu itu, akan tetapi seperti buih yang dibawa oleh banjir, dan Allah benar-benar akan mencabut rasa takut kepada kalian dari dada-dada mereka, dan melemparkan kepada hati kalian al wahan“. Seorang sahabat berkata: ”Apakah al wahan itu ? beliau bersabda: ”cinta dunia dan takut mati.</em>“ (HR Abu Dawud no 4297 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Bani dalam shahih Sunan Abi Dawud).</p>
<ul>
<li>Saling menumpahkan darah.</li>
</ul>
<p>Cinta dunia menjadikan manusia gelap mata dan kikir, sehingga mereka berlomba mencarinya dengan berbagai macam cara walaupun harus dengan menumpahkan darah saudaranya, sebagaimana sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p dir="RTL">اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَاتَّقُوا الشُّحَّ فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ.</p>
<p>“<em>Jauhilah berbuat zalim karena kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat. Jauhilah syuhh (sangat kikir) karena sangat kikir itu telah membinasakan orang-orang sebelum kamu dan membawa mereka untuk menumpahkan darah dan menganggap halal wanita-wanita mereka</em>.” (HR Muslim).</p>
<p>Sifat <em>syuhh</em> muncul akibat cinta dunia yang amat sangat, Ath-Thibi <em>rahimahullah</em> berkata, “Bakhil adalah kikir dan <em>syuhh</em> adalah bakhil yang disertai berbuat zalim, (dalam hadis ini) disebutkan <em>syuhh</em> setelah menyebutkan zalim untuk menunjukkan bahwa <em>syuhh</em> adalah macam zalim yang paling berat akibat dari cinta dunia dan kelezatannya”. <a title="" href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Sejarahpun telah mencatat bagaimana kaum muslimin saling menumpahkan darah untuk merebut tahta, sebagaimana disebutkan bahwa ketika Bani Umayah telah ditumbangkan oleh Bani Abasiyah, setiap harinya algojo-algojo Bani Abasiyah membunuh delapan puluh orang dari Bani Umayah lalu mereka menggelar tikar dan makan minum di atas mayat-mayatnya. Dunia Islam tak pernah sepi dari perang saudara sebagaimana yang kita baca dalam kitab-kitab sejarah akibat cinta dunia dan kelezatannya. <em>Allahul musta’an.</em></p>
<ul>
<li>Tidak peduli halal dan haram.</li>
</ul>
<p>Cinta dunia menjadikan manusia membabi buta tak peduli kepada halal dan haram, tidak ada lagi rasa takut kepada siksa Allah <em>Ta’ala</em>, ia mencari rizki tanpa mempedulikan hukum-hukum Allah sebagaimana disebutkan dalam hadis:</p>
<p dir="RTL">لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ أَمِنْ حَلَالٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya akan datang kepada manusia suatu zaman dimana seseorang tidak memperdulikan dengan apa ia mengambil harta, apakah dari yang halal ataukah dari yang haram</em>“. (HR Bukhari).</p>
<p>Perkara-perkara ini yang dikhawatirkan oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> atas umatnya apabila kesenangan dunia dibukakan kepada mereka, oleh karena itu beliau menganggap bahwa orang yang rakus dengan dunia dan tamak kepada harta lebih berbahaya dari serigala lapar, beliau bersabda:</p>
<p dir="RTL">مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ</p>
<p>“<em>Tidaklah dua serigala lapar yang dilepaskan kepada seekor kambing lebih berbahaya untuk agama seseorang dari orang yang rakus terhadap harta dan kedudukan</em>“. (HR. At-Tirmidzi dan lainnya).</p>
<p>Ibnu Rajab <em>rahimahullah</em> berkata, “Ini adalah permisalan yang agung yang diumpamakan oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bagi kerusakan agama seorang muslim akibat rakus terhadap harta dan kedudukan dunia dan bahwa kerusakannya tidak lebih berat dari rusaknya kambing yang dimangsa oleh dua ekor serigala lapar..”. <a title="" href="#_ftn3">[3]</a></p>
<ul>
<li><strong>Mengorbankan prinsip-prinsip agama untuk menjaga kedudukan sosial.</strong></li>
</ul>
<p>Allah ta’ala menggambarkan akibat perilaku tersebut dalam firman-Nya,</p>
<p align="right">أُولَئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا بِالْآَخِرَةِ فَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَ.</p>
<p>Artinya: “Mereka itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat. Maka tidak akan diringankan azabnya dan mereka tidak akan ditolong”. QS. Al-Baqarah: 86.</p>
<ul>
<li><strong>Menghalalkan segala cara demi meraih kursi jabatan</strong><strong>.</strong></li>
</ul>
<p>Rasulullah shallallahu’alahiwasallam menasehatkan,</p>
<p align="right">لَا تَسْأَلْ الْإِمَارَةَ! فَإِنَّكَ إِنْ أُوتِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا، وَإِنْ أُوتِيتَهَا مِنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا</p>
<p><em>“Janganlah meminta-minta jabatan, sebab jika engkau mendapatkan suatu jabatan lantaran permintaan darimu niscaya engkau tidak akan mendapatkan pertolongan dari Allah ta’ala. Namun jika engkau mendapatkannya bukan karena permintaan darimu niscaya engkau akan mendapatkan bantuan (dari Allah ta’ala) dalam mengembannya”.</em> (HR. Bukhari dan Muslim dari Abdurrahman bin Samurah radhiyallahu’anhu)</p>
<ul>
<li><strong>Mengorbankan tali silaturrahim karena berebut warisan.</strong></li>
</ul>
<p>Dari Jubair bin Muth’im bahwa Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,</p>
<p align="center"><strong>لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ</strong><strong></strong></p>
<p><em>“Tidak akan masuk surga pemutus (silaturrahim).”</em> (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p><strong>Perbandingan Dunia dan Akherat</strong></p>
<p>Berkata syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah,</p>
<p>Bandingkanlah kehidupan dunia dan kehidupan akhirat, agar kita mengetahui perbedaan kedua negeri tersebut. Di negeri akhirat terdapat semua yang diinginkan oleh jiwa dan mata. Surga adalah darus salâm (kampung kedamaian), yang terlepas dari berbagai kekurangan, bala`, penyakit, kematian, kesusahan maupun usia yang tua. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>لَمَوْضِعُ سَوْطٍ أَحَدِكُمْ فِي الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا</p>
<p>Sesungguhnya tempat cemeti kalian di surga itu lebih baik daripada dunia dan seisinya [HR. Ahmad no. 21732]</p>
<p>Ini adalah ucapan seorang nabi yang jujur lagi dipercaya. Sesungguhnya tempat tongkat di surga itu lebih baik dari dunia ini semuanya, dari awal hingga akhirnya dengan segala kenikmatan dan kemewahan yang ada di dalamnya. Apabila ini saja lebih baik dari dunia semuanya, lalu bagaimana dengan kenikmatan sejenak yang engkau dapatkan di dunia?</p>
<p>Wahai kaum Muslimin, Sungguh mengherankan sekali ada kaum yang lebih mengutamakan kehidupan dunia dari pada kehidupan akhirat. Padahal akhirat itu lebih baik dan kekal. Mereka lebih mengutamakan dunia dari pada akhirat. Mereka mencari dunia dan meninggalkan amal akhirat. Meraka sangat berambisi untuk mendapatkan dunia dan melewatkan apa yang Allah Azza wa Jalla wajibkan kepada mereka. Mereka tenggelam dalam hawa nafsu dan kelalaian.</p>
<p>Mereka tidak lagi ingat dari kewajiban bersyukur kepada dzat yang telah memberikan nikmat kepada mereka. Ciri-ciri mereka yaitu bermalas-malasan mengerjakan shalat dan merasa berat untuk berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla. Di dunia ini mereka berani bermuamalah riba yang telah direkayasa, atau dengan riba terang-terangan tanpa merasa salah sama sekali. Mereka berbohong dalam setiap pembicaraan, tidak menunaikan janji-janji mereka, tidak berbuat baik kepada orang tua dan tidak menyambung silaturahmi.</p>
<p>Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang lebih mengutamakan akhirat dari pada dunia, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta jagalah kami dari api neraka.<a title="" href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<div><br clear="all" /></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a>  Abu Dawud no 3462 dari jalan Haywah bin Syuraih dari Ishaq Abu Abdirrahman Al Khurrasani dari ‘Atha Al Khurrasani dari Nafi’ dari ibnu Umar. <em>Qultu</em>, “Sanad hadis ini lemah karena Ishaq bin Asid Abu Abdirrahman adalah perawi yang lemah demikian pula ‘Atha Al-Khurrasani. Namun imam Ahmad no 4593 meriwayatkan dari jalan Abu Bakar bin ‘Ayyasy dari Al-A’masy dari Atha’ bin Abi Rabah dari Ibnu Umar. Qultu, “Sanad ini shahih”. Dan hadis ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Bani dalam <em>Silsilah Hadis Shahih</em>, no. 11.</p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a>  <em>Faidlul Qadiir</em>: 1/175.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a>  <em>Syarah Hadits Maa Dzi’baani</em>: hal 21.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a>  Dikutip dari <em>Adl-Dhiyaaul Laami` Minal Khuthaabil Jawaami`</em>`, karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin: 6/282.</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.serambiyemen.com/2013/03/perkara-yang-ditakutkan-oleh-rasulullah-shallallahualaihi-wasallam-atas-umatnya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SYARAH AL-BAIQUNIYAH BAG. 3</title>
		<link>http://www.serambiyemen.com/2013/03/syarah-al-baiquniyah-bag-3.html</link>
		<comments>http://www.serambiyemen.com/2013/03/syarah-al-baiquniyah-bag-3.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Mar 2013 22:32:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Ya'la</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.serambiyemen.com/?p=478</guid>
		<description><![CDATA[HADITS DHO’IF &#160; Berkata Nadzaim (Al-Baiquni) rahimahullah: &#160; &#160; وَكُلُّ مَا عَنْ رُتْبَةِ الْحُسْنِ قَصُرْ          فَهْوَ الضَّعِيْفُ وَهْوَ أَقْسَامًا كَثُرْ Dan setiap hadis yang derajatnya lebih rendah dari hadis hasan Maka ia adalah dha’if, dan ia memiliki macam-macam yang banyak &#160; Kemudian penulis masuk pada pembahasan hadis yang ketiga; yaitu hadis dhaif. Beliau memberikan definisi terhadap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><img src="https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRvLLHVlZMG3De8FUVcKqwXyXf3oG_ukTH-iC45tLTXO4_CIRMM6g" alt="" name="4X3kAlUmYFAxCM:" data-sz="f" /></p>
<p align="center"><strong><span style="text-decoration: underline;">HADITS DHO’IF</span></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Berkata Nadzaim (Al-Baiquni) rahimahullah:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>وَكُلُّ مَا عَنْ رُتْبَةِ الْحُسْنِ قَصُرْ          فَهْوَ الضَّعِيْفُ وَهْوَ أَقْسَامًا كَثُرْ</strong></p>
<p align="center"><strong><em>Dan setiap hadis yang derajatnya lebih rendah dari hadis hasan</em></strong></p>
<p align="center"><strong><em>Maka ia adalah dha’if, dan ia memiliki macam-macam yang banyak</em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kemudian penulis masuk pada pembahasan hadis yang ketiga; yaitu hadis dhaif. Beliau memberikan definisi terhadap hadits dho’if tersebut kemudian beliau mengisyaratkan bahwa hadits dho’if memiliki macam-macam yang banyak.</p>
<p><strong>Definisi Hadits Dho’if Menurut Nadzim (Al-Baiquni)</strong></p>
<p>Penulis mendefinisikan hadis dha’if sebagai; <strong><em>hadis yang derajatnya lebih rendah dari hadis hasan, yang tentu saja terlebih lagi dari hadis shahih</em></strong>. Hal ini sebagaimana terlihat pada perkataan beliau <strong>وَكُلُّ مَا عَنْ رُتْبَةِ الْحُسْنِ قَصُرْ   </strong><strong> </strong>. Definisi yang beliau bawakan tersebut sama dengan definisi yang dibawakan oleh Al-‘Iraqi di dalam <em>Al-Fiyah</em>-nya:</p>
<p align="center">أما الضعيف فهْوَ ما لم يبلغِ   مرتبة الحسن&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p><strong><em>“Adapun hadits dho’if adalah hadits yang tidak samapai kepada derajat hadits hasan&#8230;.”<a title="" href="#_ftn1"><strong>[1]</strong></a></em></strong></p>
<p>Demikian juga definisi yang sama tentang hadits hasan diatas juga dibawakan oleh imam Ibnu Daqieq Al-‘Ied rahimahullah yang mana beliau berkata tentang sefinisi hadits hasan:  &#8221; ما نقص من درجة الحسن&#8221; <strong><em>(Yaitu hadits yang tidak samapai pada derajat hasan).<a title="" href="#_ftn2"><strong>[2]</strong></a></em></strong> Diikuti juga oleh imam As-Suyuthi rahimahullah yang mana beliau berkata: ما قصر عن رتبة الحسن؛ فهو الضعيف  <strong><em>(Hadits yang berada di bawah derajat hasan adalah hadits dho’if).<a title="" href="#_ftn3"><strong>[3]</strong></a></em></strong></p>
<p>Namun diantara sekian definisi tentang hadits dho’if, definisi yang paling utama –wallahu’alam- adalah definisi yang dibawakan oleh imam Adz-Dzahabi rahimahullah, yang mana beliau berkata tentang definisi hadits dho’if:</p>
<p align="center"><strong>الضعيف: ما نقص من درجة الحسن قليلا</strong></p>
<p><strong><em>“Hadits dho’if ialah: hadits yang tidak mencapai derajat hasan sedikit.”</em></strong><a title="" href="#_ftn4"><strong><strong>[4]</strong></strong></a><strong><em></em></strong></p>
<p>Adanya penambahan <span style="text-decoration: underline;">“<strong><em>sedikit</em></strong>”</span> pada definisi Adz-Dzahabi dalam rangka mengeluarkan jenis hadits yang dho’if (lemah) sekali.</p>
<p><strong> </strong>Kedhaifan suatu hadis kembali kepada dua sebab utama:</p>
<ol>
<li>Keterjatuhan dalam sanad. Hadis dhaif yang disebabkan hal ini adalah: <em>mursal</em>, <em>munqathi</em>, <em>mu’dhal</em> dan <em>mu’allaq</em>, serta <em>mudallas</em> dan <em>mursal khafi</em>.</li>
<li>Kecacatan dalam perawi. Hadis dhaif yang disebabkan hal ini diantaranya adalah: <em>mu’allal</em>, <em>mudhtharib</em>, <em>munkar</em>, <em>syadz</em>, <em>mudraj</em>, <em>maqlub</em>, <em>matruk</em>, dll.<a title="" href="#_ftn5">[5]</a></li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong>Macam-macam Hadits Dho’if</strong></p>
<p>  Hadits dho’if berdasarkan klasifikasi kedho’ifannya bisa dibagi menjadi dua macam:</p>
<p>Pertama: Suatu hadits yang kedho’ifannya (kelemahannya) tidak terlalu parah, yang mana apabila ada riwayat lain yang semisal dengannya atau diatasnya, maka derajatnya akan naik menjadi <strong><em>hasan lighoirihi</em></strong>. Hal ini bisa ditemui pada jenis perawi yang dho’if periwayatannya namun hadits mereka dicatat oleh para imam. Maka perawi semacam ini tidak bisa dijadikan sebagai hujjah (sandaran) ketika menyendiri. Demikian juga tidak bisa dijadikan sebagai sandaran ketika suatu hadits sanadnya terputus karena irsal atau tadlis.<a title="" href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Kedua: Suatu hadits yang kedho’ifannya sangat parah, sehingga tidak bisa dikuatkan dengan riwayat lainnya. Hal itu terjadi manakala dalam sanad hadits tersebut terdapat seorang perawi yang tertuduh berdusta, pendusta atau perawi yang ditinggalkan periwayatannya baik disebabkan karena buruknya hafalannya atau sering kali melakukan kesalahan dalam periwayatan, atau bisa juga disebabkan perawi tersebut tidak diketahui dzatnya.</p>
<p><strong>Contoh hadits yang sangat lemah ditinjau dari segi <em>‘adalah</em>-nya ( sifat <em>‘Adl</em>):</strong></p>
<p>Dikeluarkan oleh Al-Khatib Al-Baghdadi rahimahullah di dalam kitab Iqtidha’ul ‘Ilmi Wal-‘Amal: no. 69 , dengan jalan-jalan periwayatan sebagai berikut:</p>
<p dir="RTL"><strong>أَبُو دَاوُدَ النَّخَعِيُّ، ثنا عَلِيُّ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ الْغَطَفَانِيُّ، عَنْ سُلَيْكٍ، قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: «</strong><strong>إِذَا عَلِمَ الْعَالِمُ وَلَمْ يَعْمَلْ كَانَ كَالْمِصْبَاحِ يُضِيءُ لِلنَّاسِ، وَيَحْرِقُ نَفْسَهُ»</strong><strong></strong></p>
<p dir="RTL" align="right">Dari <strong><em><span style="text-decoration: underline;">Abu Dawud An-Nakha’i</span></em></strong> berkata, telah menceritakan kepada kami <strong><em>‘Ali bin <span style="text-decoration: underline;">Ubaidillah Al-Ghatafani</span></em></strong> dari <strong><em><span style="text-decoration: underline;">Sulaik</span></em></strong> berkata: aku mendengar Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Apabila seorang ‘alim mengetahui tentang suatu hal kemudian ia tidak mengamalkannya, maka permisalannya seperti lampu lentera yang menerangi orang lain, namun membakar dirinya sendiri.”</p>
<p dir="RTL" align="right"> Di dalam sanad hadits tersebut terdapat seorang perawi yang bernama <strong><em><span style="text-decoration: underline;">Abu Dawud An-Nakha’i</span></em></strong>, namanya adalah <strong><em><span style="text-decoration: underline;">Sulaiman bin ‘Amr.</span></em></strong> Berikut komentar para imam tentang:</p>
<p dir="RTL" align="right">a). Berkata imam Ahmad tentangnya: “Dia (Abu Dawud An-Nakha’i) adalah orang yang suka memalsukan hadits.”</p>
<p dir="RTL" align="right">b). Berkata Yahya bin Ma’in: “Dia adalah termasuk seorang yang paling pendusta (dalam haditsnya).” Di sisi lain dia berkata: “Abu Dawud An-Nkha’i adalah seorang yang terkenal dalam memalsukan hadits.</p>
<p dir="RTL" align="right">c).  Berkata imam Bukhari: “Dia adalah perawi yang matruk (ditinggalkan riwayatnya), Qutaibah dan Ishaq menjulukinya sebagai pendusta.</p>
<p dir="RTL" align="right">
<p dir="RTL" align="right"><strong>Contoh hadits dho’if yang parah ditinjau dari kelemahan perawi dalam hal <em>dhabt</em>-nya:</strong></p>
<p dir="RTL" align="right">
<p dir="RTL" align="right">  Dikeluarkan oleh Abu Nu’aim di dalam Hilayatul Auliya’: (8/252). Dengan jalan-jalan periwayatan sebagai berikut:</p>
<p dir="RTL"><strong>عَبْدُ اللهِ بْنُ خُبَيْقٍ، ثنا يُوسُفُ بْنُ أَسْبَاطٍ، عَنِ الْعَرْزَمِيَّ، عَنْ صَفْوَانَ بْنِ سُلَيْمٍ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: &#8221; كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَكْرَهُ الْكَيَّ وَالطَّعَامَ الْحَارَّ , وَيَقُولُ: «</strong><strong>عَلَيْكُمْ </strong><strong>ب</strong><strong>ِالْبَارِدِ</strong><strong> فَإِنَّهُ ذُو بَرَكَةٍ أَلَا وَإِنَّ الْحَارَّ لَا بَرَكَةَ فِيهِ </strong><strong>»</strong><strong></strong></p>
<p>Dari <strong><em><span style="text-decoration: underline;">Abdullah bin Al-Khubaiq</span></em></strong>: telah menceritakan kepada kami <strong><em><span style="text-decoration: underline;">Yusuf bin Asbath</span></em></strong>, dari <strong><em><span style="text-decoration: underline;">Muhammad bin Ubaidullah Al-‘Arzami</span></em></strong>, dari <strong><em><span style="text-decoration: underline;">Shafwan bin Sulaim</span></em></strong>, dari Anas bin Malik berkata: Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam membenci Kay dan makanan yang panas, kemudian beliau bersabda: “Makanlah oleh kalian makanan yang sudah dingin, karena sesungguhnya hal tersebut mengandung barakah. Dan ketahuilah bahwa (makanan) yang panas tidak ada barakah di dalamnya.”</p>
<p>Dalam sanad hadits tersebut terdapat seorang perawi yang bernama Muhammad bin Ubaidullah Al-‘Arzami dia adalah seorang yang ditinggalkan haditsnya dikarenakan ia adalah seorang yang lemah hafalannya. Dia adalah seorang yang shalih, akan tetapi buku catatan haditsnya telah hilang, oleh sebab itu kemudian ia menceritakan hadits dari hafalannya, namun ia menceritakan suatu hadits yang tidak sesuai dengan apa yang dibawakan oleh para perawi yang tsiqat (kredibel), oleh karena itu para ulama pun meninggalkan haditsnya.<a title="" href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p><strong>Hadits Hasan Li Ghoirihi</strong></p>
<p>Yaitu apabila ada hadits yang tidak terlalu <em>dho’if</em> bertemu dengan hadits lain yang sama kemudian terangkatlah hadits tersebut menjadi hadits <em>hasan ligoirihi</em> dan bisa dijadikan sebagai hujjah.</p>
<p>Contoh: dikeluarkan oleh Al-Bazzar di dalam Musnad-nya sebagaimana terdapat di dalam kitab Majma’ Az-Zawa’id (10/116), dikeluarkan oleh Ibnu Syahin di dalam Fadha’il Syahri Ramadhan (hal.12) dari dua jalan:</p>
<p>Jalan periwayatan pertama: dari Salamah bin Wardan dari Anas bin Malik rdhiyallahu’anhu berkata: “Suatu ketika Nabi shallallahu’alaihi wasallam naik keminbar dan mengatakan ‘Aamiin’ kemudian beliau naik ketingkat berikutnya dan mengatakan ‘Aamiin’&#8230;dst sebagaimana terdapat dalam keutamaan-keutamaan bulan Ramadhan.</p>
<p><strong>   Ket:</strong> <strong><span style="text-decoration: underline;">Salamah bin Wardan</span></strong> adalah seorang perawi yang dho’if ditilik dari segi hafalan haditsnya, dia meriwayatkan dari Anas bin Malik hadits-hadits yang periwayatannya tidak mencocoki periwayatan para perawi yang <em>tsiqaat</em> (terpercaya). Hanya saja kelemahan yang ada padanya adalah kelemahan yang bisa ditolelir tidak parah.</p>
<p>Hadits diatas memiliki jalan periwayatan kedua sebagai penguat yaitu riwayat Tsabit Al-Bunani, yang mana ia meriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu. Sebagaimana telah dikeluarkan oleh Ibnu Syahin (4). Namun di dalam periwayatannya ada kelemahan namun tidak parah. Pada sanad yang menghubungkan kepada Tsabit terdapat seorang perawi yang bernama <strong><span style="text-decoration: underline;">Mu’ammil bin Isma’il</span></strong>, dia adalah seorang yang dho’if (lemah) pada hafalannya.</p>
<p>Berdasarkan dua riwayat diatas maka hadits tersebut naik menjadi hadits <em>hasan lighoirihi</em>. <a title="" href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p><strong>Bolehkah Beramal Dengan Hadits Dho’if?</strong></p>
<p>Asy Syaikh Dr. AbdulKarim bin Abdullah Al Khudhair –hafidzahullahu ta’ala- (Anggota <em>Haiah Kibar Ulama</em> dan Komite Tetap untuk Fatwa KSA) ditanya :</p>
<p>“Apa hukum berdalil dan beramal dengan hadits dhoif?”</p>
<p>Beliau menjawab :</p>
<p>Segala puji hanya bagi Allah Azza wa Jalla, Adapun hukum beramal dengan hadits dhoif maka perlu perincian sebagai berikut :</p>
<p>1. Beramal dengan hadits dhoif dalam masalah aqidah hukumnya tidak boleh berdasarkan ijma’ (kesepakatan ulama Islam).</p>
<p>2. Beramal dengan hadits dhoif dalam masalah hukum-hukum fiqh; jumhur ulama berpendapat tidak membolehkannya.</p>
<p>3. Beramal dengannya dalam masalah fadhail (keutamaan amal), tafsir, dan sirah Nabi; jumhur ulama berpendapat bolehnya berdalil dengan hadits dhoif pada masalah-masalah ini dengan beberapa syarat dan batasan :</p>
<p>- Sisi dhoif (cacat), haditsnya tidak terlalu lemah.</p>
<p>- Hadits dhoif tersebut memiliki dasar hukum dalam syariat.</p>
<p>- Ketika beramal dengannya, tidak boleh meyakini bahwa hadits itu berasal dari Nabi &#8211; shallallahu ‘alaihi wasallam- akan tetapi ia hendaknya mengamalkannya hanya sebagai sikap kehati-hatian.</p>
<p>Imam Nawawi dan Mula ‘Aly Qory –rahimahumallah- telah menukilkan tentang ijma’nya para ulama atas bolehnya beramal dengan hadits dhoif dalam fadhoil ‘amal, akan tetapi ini tidak benar karena sebagian para ulama menyelisihi hal tersebut diantara mereka adalah Abu Hatim, Abu Zur’ah, Ibnul ‘Araby, Asy-Syaukani, dan Al Albaniy –rahimahumullah- dan pendapat inilah (tidak bolehnya beramal dengan hadis dhoif dalam fadhoil ‘amal) yang tersirat dari ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qoyim –rahomahumallah- serta pendapat ini juga telah diisyaratkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim –rahimahumallah-. Oleh karena itu berdasarkan pendapat ini maka tidak boleh beramal dengan hadits dhoif dalam semua permasalahan agama tanpa terkecuali, dan boleh disebutkan namun hanya sebagai pelajaran. Ibnul Qoyyim juga mengisyaratkan bahwa hadits dhoif mungkin bisa dijadikan sebagai dalil untuk menguatkan salah satu dari dua pendapat yang sama-sama kuat. Namun pendapat yang benar adalah bahwa Hadis dhoif tidak boleh diamalkan/dijadikan dalil selama tidak adanya keyakinan akan adanya hadits lain yang menguatkannya sehingga dapat mencapai derajat hadits <em>hasan lighoirihi</em>. Wabillahi At Taufiq.<a title="" href="#_ftn9">[9]</a></p>
<div>Bersambung insya Allah&#8230;&#8230;.<br clear="all" /></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a>  <em>At-Tabshirah Wat Tadzkirah syarah Alfiyah</em>: 1/111.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a>  <em>Al-Iqtirah</em>: hal. 201.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a>  <em>Al-Bahrul Ladzi Zakhor Fi Syarhi Alfiyatil Atsar</em>: 3/1283.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a>  <em>Al-Muqidzah</em>: hal. 33.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a>  Lihat <em>Nukhbah al-Fikar</em> dengan Syarhnya <em>Nuzhatu An-Nadhzar</em>, <em>Al-Hafidz Ibnu Hajar</em>, hal. 97.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a>  Tentang dua istilah diatas akan datang penjelasanya <em>bi idznillah</em>.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a> <em> Taisir Ulumul Hadits</em>: hal. 36-37.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref8">[8]</a>  <em>Taisir Ulumul Hadits</em>: hal. 38-39.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref9">[9]</a>  sumber : <a href="http://www.almoslim.net/node/51854">www.almoslim.net/node/51854</a>.</p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.serambiyemen.com/2013/03/syarah-al-baiquniyah-bag-3.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SYARAH AL-BAIQUNIYAH BAG. 2</title>
		<link>http://www.serambiyemen.com/2013/03/syarah-al-baiquniyah-bag-2.html</link>
		<comments>http://www.serambiyemen.com/2013/03/syarah-al-baiquniyah-bag-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Mar 2013 05:18:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Ya'la</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.serambiyemen.com/?p=474</guid>
		<description><![CDATA[HADITS SHAHIH &#160; أَوَّلُهَا الصَّحِيْحُ وَهْوَ مَا اتَّصَلْ          إِسْنَادُهُ وَلَمْ يُشَذَّ أَوْ يُعَلْ يَرْوِيْهِ عَدْلٌ ضَابِطٌ عَنْ مِثْلـِهِ          مُعْتَمَدٌ فِي ضَبْطِهِ  وَنَقْلِهِ Yang pertama dari macam-macam itu adalah istilah shahih; ia adalah yang bersambung Sanadnya dan tidak syadz, serta tidak ada illah Yang meriwayatkannya (hadis shahih) seorang yang adil dan dhabith, dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><img src="https://encrypted-tbn2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRnR-fgJM1ymVEN6TPRPAWWUuPYQTJQBSQ6jtdGZZLv1hAd2-XNLg" alt="" name="xeXyBVvLUY88pM:" data-src="https://encrypted-tbn2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRnR-fgJM1ymVEN6TPRPAWWUuPYQTJQBSQ6jtdGZZLv1hAd2-XNLg" data-sz="f" /></p>
<p align="center">
<p align="center"><strong><span style="text-decoration: underline;">HADITS SHAHIH</span></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>أَوَّلُهَا الصَّحِيْحُ وَهْوَ مَا اتَّصَلْ          إِسْنَادُهُ وَلَمْ يُشَذَّ أَوْ يُعَلْ</strong></p>
<p align="center"><strong>يَرْوِيْهِ عَدْلٌ ضَابِطٌ عَنْ مِثْلـِهِ          مُعْتَمَدٌ فِي ضَبْطِهِ  وَنَقْلِهِ</strong></p>
<p align="center"><strong><em>Yang pertama dari macam-macam itu adalah istilah shahih; ia adalah yang bersambung</em></strong></p>
<p align="center"><strong><em>Sanadnya dan tidak syadz, serta tidak ada illah</em></strong></p>
<p align="center"><strong><em>Yang meriwayatkannya (hadis shahih) seorang yang adil dan dhabith, dari orang yang sepertinya</em></strong></p>
<p align="center"><strong><em>Dapat diandalkan dalam hal dhabt (hapalan)nya dan naql (kitab)nya</em></strong></p>
<p align="center"><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Mengapa Nadzim memulai pembahasannya dengan hadits shahih?</strong></p>
<p>Hal itu dikarenakan beberapa hal:</p>
<ol>
<li>Dikarenakan hadits shahih adalah derajat tertinggi dalam pembahasan ilmu hadits.</li>
<li>Tujuan utama dari pembelajaran ilmu hadits adalah untuk membedakan antara hadits yang shahih dengan hadits yang dho’if.<a title="" href="#_ftn1">[1]</a></li>
</ol>
<p><strong>Pembagian Hadits Shahih</strong></p>
<p>Hadits shahih dibagi menjadi dua macam:</p>
<p><em>Pertama</em>: hadits <em>shahih lidzatihi</em>, dan inilah yang menjadi topik pembahasan nadzim (Al-Baiquni).</p>
<p><em>Kedua</em>: hadits <em>shahih lighorihi</em>, yaitu dibawah derajat hadits shahih lidzatihi. Dan akan datang pembahasannya insya Allah.</p>
<p><strong>Definisi Hadits <em>Shahih lidzatihi</em></strong></p>
<p>Nadzim rahimahullah pada bait sya’irnya diatas menjelaskan kepada kita tentang definisi hadits shahih yaitu: Hadits yang bersambung <strong><em>sanad</em></strong> (mata rantai perawinya), disertai dengan kriteria <strong><em>‘adil</em></strong> dan <strong><em>dhobith</em></strong> dalam seluruh perawinya, tidak ada <strong><em>‘illah</em></strong>, dan tidak <strong><em>syadz</em></strong>.</p>
<p>Para ulama berbeda pendapat tentang definisi hadits shahih, diantara definisi yang terbaik ialah:</p>
<p align="right">(( الذِيْ يَتَّصِلُ إسْنَادُهُ بِنَقْلِ الْعَدْلِ الضَّابِطِ ، عَنْ مِثْلِهِ وَلَا يَكُوْنُ شَاذّاً وَلَا مُعَلَّلاً ))</p>
<p>“Hadits yang bersambung <strong><em>sanad</em></strong>nya dengan penukilan seorang perawi yang <strong><em>‘adil</em></strong>, <strong><em>dhabith</em></strong> dalam seluruh perawinya dan selamat dari dari <strong><em>syadz</em></strong> dan <strong><em>‘illah</em></strong>.<a title="" href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Adapun penjabaran syarat-syarat hadits shahih tersebut adalah sebagai berikut:</p>
<p>Syarat Pertama: <strong><em>Bersambung sanadnya</em></strong>. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh nadzim: <strong>وَهْوَ مَا اتَّصَلْ</strong><strong> </strong>(yaitu bersambung sanadnya).</p>
<p>Maksud dari bersambung sanadnya adalah: <span style="text-decoration: underline;">Hendaknya setiap perawi meriwayatkan hadits dari syaikh (gurunya) secara langsung tanpa perantara.</span></p>
<p>Diketahuinya sebuah hadits bersambung mata rantai perawinya dengan beberapa hal berikut:</p>
<p>a). <em>At-Tashrih</em>: Adanya rekomendasi dari imam pakar hadits bahwa periwayatan perawi tertentu mendengar dari gurunya atau pengakuan dari perawi sendiri (dan dia perawi terpercaya) dengan lafadz tertentu yang menegaskan bahwa ia langsung mendengar dari guru/syaikhnya tanpa melalui perantara, misalnya dengan mengatakan: حدثني فلان (telah menceritakan kepadaku Fulan), سمعت فلانا  (saya mendengar Fulan berkata demikian) atau سألت فلانا  (saya bertanya kepada Fulan).</p>
<p>b). <em>At-Tarjih</em>: Yaitu adanya perbedaan antara para imam apakah perawi tersebut mendengar langsung dari perawinya ataukah tidak, maka dalam hal ini didahulukan ucapan seorang imam yang menguatkan bahwa perawi tersebut mendengar langsung dari guru/syaikhnya. Berdasarkan kaedah &#8220;المثبت مقدم على المنفي&#8221; (yang menetapkan lebih didahulukan dari pada yang meniadakan). Hal itu dikarenakan para imam yang menetapkan bahwa perawi tertentu benar-benar mendengar dari syaikhnya berarti memiliki ilmu yang tidak diketahui oleh para imam yang tidak mengetahuinya.<a title="" href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>c).  <em>Al-Istinbath</em>: Yaitu diketahuinya dengan pasti bahwa perawi tersebut benar-benar mendengar dari syaikhnya atau adanya pernyataan dari para imam bahwa perawi tersebut benar-benar mendengar dari syaikhnya dengan beberapa indikasi misalnya: dia pernah mendengar dari seorang syaikh lainnya yang lebih tua atau dia lebih dulu wafat dari syaikhnya.<a title="" href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Syarat Kedua: <strong><em>Tidak syadz</em></strong>. Hal ini sebagaimana diisyaratkan oleh nadzim dalam bait sya’irnya diatas <strong>إِسْنَادُهُ وَلَمْ يُشَذَّ</strong><strong> </strong><strong>(</strong><em>tidak ada syadz dalam sanadnya</em><strong>).</strong></p>
<p><strong>Definisi</strong></p>
<p>Kata <em>Syadz</em> secara bahasa adalah kata benda yang berbentuk <em>isim fa’il</em> yang berarti <em>“sesuatu yang menyendiri”.</em> Menurut mayoritas ulama, kata <em>Syadz</em> bermakna : “yang menyendiri”.</p>
<p>Adapun definisi syadz secara istilah adalah: مُخَالَفَةُ الْمَقْبُوْلِ لِمَنْ هُوَ أَوْلَى مِنْهُ</p>
<p><strong>“Seorang perawi yang <em>maqbul</em> (diterima periwayatannya) meneylisihi perawi yang lebih tinggi kredibilitasnya dari dia.” </strong>Definisi ini dibawakan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah.<a title="" href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Imam Ibnu Shalah berkata : “Jika seorang perawi menyendiri dengan sesuatu, perlu diamati. Jika riwayat tunggalnya <strong>bertentangan</strong> dengan riwayat orang yang lebih baik dan kuat hafalannya, maka tergolong riwayat <em>syadz</em> dan tertolak. Jika riwayat tunggalnya <strong>tidak bertentangan</strong> dengan hadits yang diriwayatkan oleh orang lain, tetapi hanya dia sendiri yang meriwayatkan, sedang orang lain tidak, maka perlu diamati. Apakah perawi tunggal itu kuat hafalannya dan dapat dipercaya. (Jika yang terjadi seperti itu), maka diterimalah ia (dengan tambahan lafadhnya tersebut). Dan apabila ia tidak baik dan tidak kuat hafalannya, maka terputus dan terlempar jauh dari wilayah keshahihan. Dan setelah itu berada pada tingkat yang berbeda-beda sesuai keadaan. Artinya, jika perawi tunggal itu tidak jauh dari tingkat perawi lain yang kuat hafalan dan diterima kesendiriannya, maka kami golongkan hadits hasan dan kami tidak menjatuhkan pada kelompok hadits <em>dla’if</em>. Tetapi jika tidak, kami golongkan riwayat tunggal itu kepada hadits <em>syadz</em> yang <em>munkar</em> (teringkari).”<a title="" href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Lawan dari syadz adalah <em>mahfudz</em> yang artinya: “Hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang lebih kuat hafalannya, lebih banyak jumlahnya, atau hal-hal lain yang membuat riwayatnya dimenangkan, dimana riwayat tersebut bertentangan dengan riwayat perawi yang kuat”. Hadits <em>Mahfudh</em> adalah kebalikan dari hadits <em>Syadz</em>.</p>
<p>Hadits <em>Syadz</em> dapat terjadi pada sanad maupun matan.</p>
<p><strong>Contoh-Contoh Hadits Syadz</strong></p>
<p><strong><em>1. Contoh Syadz yang Terjadi dalam Sanad</em></strong></p>
<p>Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, An-Nasa’I, dan Ibnu Majah; dari jalur Ibnu ‘Uyainah dari Amr bin Dinar dari Ausajah dari Ibnu ‘Abbas,<em>”Sesungguhnya ada seorang laki-laki yang meninggal di masa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan ia tidak meninggalkan ahli waris kecuali bekas budaknya yang ia merdekakan. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam memberikan semua harta warisannya kepada bekas budaknya”</em>.</p>
<p>Imam Tirmidzi, An-Nasa’I, dan Ibnu Majah juga meriwayatkan hadits tersebut dengan sanad mereka dari jalur Ibnu Juraij, dari ‘Amr bin Dinar, dari Ausajah, dari Ibnu ‘Abbas,<em>”Sesungguhnya seorang laki-laki meninggal…………”</em>.</p>
<p>Hammad bin Yazid menyelisihi Ibnu ‘Uyainah, karena ia meriwayatkan hadits tersebut dari ‘Amr bin Dinar dari Ausajah tanpa menyebutkan Ibnu ‘Abbas.</p>
<p>Masing-masing dari Ibnu ‘Uyainah, Ibnu Juraij, dan Hammad bin Yazid adalah perawi yang terpercaya. Namun Hammad bin Yazid menyelisihi Ibnu ‘Uyainah dan Ibnu Juraij, karena ia meriwayatkan hadits di atas secara [/I]mursal[/I] (tanpa menyebutkan shahabat Ibnu ‘Abbas). Sedangkan keduanya meriwayatkannya secara bersambung dengan menyebutkan perawi shahabat. Oleh karena keduanya lebih banyak jumlahnya, maka hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Juraij dan Ibnu ‘Uyainah dinamakan Hadits <em>Mahfudh</em>. Sedangkan hadits Hammad bin Yazid dinamakan Hadits <em>Syadz</em>.</p>
<p><strong><em>2. Contoh Syadz pada Matan</em></strong></p>
<p>Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan At-Tirmidzi; dari hadits Abdul Wahid bin Ziyad, dari Al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah secara <em>marfu’</em> : <em>”Jika salah seorang di antara kalian selesai shalat sunnah fajar, maka hendaklah ia berbaring di atas badannya yang kanan”</em>.</p>
<p>Imam Al-Baihaqi berkata,”Abdul Wahid menyelisihi banyak perawi dalam hadits ini. Karena mereka meriwayatkan hadits tersebut dari perbuatan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, bukan dari sabda beliau. Berarti Abdul-Wahid menyendiri dengan lafadh tersebut dari para perawi yang terpercaya dari teman-teman Al-A’masy”. Maka hadits yang diriwayatkan dari jalur Abdul-Wahid ( = ia adalah seorang perawi yang terpercaya) adalah hadits <em>Syadz</em>. Sedangkan yang diriwayatkandari para perawi terpercaya yang lain dinamakan hadits <em>Mahfudh</em>.</p>
<p><strong>Hukum Hadits Syadz dan Mahfudh</strong></p>
<p>Hadits <em>Syadz</em> termasuk dari hadits-hadits yang tertolak. Sedangkan hadits <em>Mahfudh</em> termasuk hadits-hadits yang diterima.<a title="" href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p><strong><em>Faedah:</em></strong> hadits syadz masuk kedalam kategori hadits yang cacatnya tersembunyi, yang tidak akan diketahui kecuali dengan mengumpulkan dan mengkompromikan jalan-jalan periwayatan hadits tersebut.</p>
<p>Syarat Ketiga: <strong><em><span style="text-decoration: underline;">Selamat dari ‘illah</span>.</em></strong> Hal itu sebagaimana dikatakan oleh nadzim rahimahullah &#8220;وَلَمْ يُعَلّ&#8221;  (selamat dari <em>‘illah</em>).</p>
<p>Makna <em>‘illah</em> adalah: Sebab tersembunyi yang mempengaruhi keabsahan suatu hadits, padahal secara dhohirnya seolah-olah selamat.</p>
<p><em>‘Illah</em> (cacat) dalam suatu hadits dibagi menjadi dua macam:</p>
<p>a). <em>‘Illah</em> yang parah yang mempengaruhi keabsahan suatu hadits. Inilah yang menjadi tema bahasan nadzim rahimahullah.</p>
<p>b). <em>‘Illah</em> yang tidak parah. Contohnya adanya perbedaan redaksi dalam dua riwayat hadits, namun keduanya masih bisa dikompromikan.<a title="" href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p>Cara mengetahui apakah suatu hadis memiliki cacat  (<em>‘illah</em>) ataukah tidak adalah dengan mengumpulkan semua jalur sanad hadis dan riwayatnya, mengkajinya secara mendalam, dan melihat perbedaan rawinya, mengadakan <em>i’tibar </em>(analisis) terhadap kedudukan para rawi dari segi hafalan, keakurasian dan kebenarannya. Al-Khathib Al-Baghdadi mengatakan, “Cara mengetahui <em>illah </em>hadis adalah dengan mengumpulkan semua jalur periwayatan, melihat perbedaan rawinya, mengadakan <em>i’tibar </em>terhadap kedudukan mereka dari segi hafalan, dan posisi mereka dalam hal kebenaran dan keakurasian. Ali Al-Madini mengatakan, <strong><em>Bab; apabila tidak tekumpul jalur periwayatan maka tidak akan tampak kesalahannya.</em></strong> <em>Illah </em>kadangkadang</p>
<p>terjadi pada <em>sanad </em>dan kadangkadang terjadi pada <em>matan</em>. Contohnya; <em>Hadis </em>yang diriwayatkan oleh Ibnu Qutaibah bin Sa’id, telah menceritakan kepada kami Abdus Salam bin Harb alMala’I, dari alA’masy dari Anas, ia berkata,</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادَ الْحَاجَةَ لَمْ يَرْفَعْ ثَوْبَهُ حَتَّى يَدْنُوَ مِنَ الأَرْضِ</strong><em></em></p>
<p><em>Apabila Rasulullah saw hendak membuang air maka beliau tidak membuka</em></p>
<p><em>(mengangkat) pakaiannya sehingga berada di tempat yang tersembunyi.</em></p>
<p>Dikeluarkan oleh atTirmidzi (14), Abu Isa arRamli di dalam <em>Zawaid ‘ala Sunan Abu Dawud</em> (<em>Sunan</em>;1/50).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sanad hadis ini secara lahir adalah sahih, <em>rijal</em>nya t<em>siqah</em>, hanya saja al- A’masy tidak pernah mendengarkan hadis secara langsung dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu. Ibnul Madini mengatakan, “Al-A’masy tidak pernah mendengar hadis dari Anas bin Malik, ia hanya pernah melihatnya di Mekkah, ketika salat ada di belakang <em>Maqam</em>”.<a title="" href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Syarat Keempat: <strong><em><span style="text-decoration: underline;">Perawinya ‘Adl</span></em></strong><em>.</em> Sebagaimana diisyaratkan oleh nadzim rahimahullah &#8220;يَرْوِيْهِ عَدْلٌ&#8221;  (perawinya adalah seorang yang <em>‘adl</em>).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Makna dari <em>‘adl</em> adalah: Seorang yang memiliki kebaikan yang mengantarkannya untuk senantiasa menjalankan ketaqwaan dan menjaga <em>muru’ah</em>nya (wibawa), serta menjauhi perbuatan-perbuatan jelek seperti: kesyirikan, kefasiqan dan kebid’ahan.<a title="" href="#_ftn10">[10]</a></p>
<p>Sebagian lagi ada yang mendefinisikan: Yaitu perawi yang muslim<a title="" href="#_ftn11">[11]</a>, baligh, berakal, selamat dari sebab-sebab kefasikan, dan hal-hal yang merusak <em>muru’ah</em>.<a title="" href="#_ftn12">[12]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Bagaimanakah Cara Mengetahui bahwa Perawi Tersebut Adalah seorang yang</strong> <strong><em>‘Adl</em></strong>?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Diketahui nya seorang perawi yang <em>‘adl</em> dengan beberapa hal diantaranya:</p>
<p>a). Tersebarnya pujian para imam dan ahli hadits tentang dirinya. Ini adalah diantara metode utama untuk mengetahui bahwa perawi tersebut adalah seorang yang <em>‘adl</em>.</p>
<p>b). Adanya rekomendasi dari salah satu imam <em>Jarh Wat Ta’dil</em> atau para imam ahli hadits bahwa dia adalah seorang perawi yang <em>‘adl.</em></p>
<p>c). Adanya penelitian dari salah seorang imam terhadap perawi tertentu dalam kondisinya, sehingga setelah itu dengan dugaan besar seorang imam tersebut mengetahui bahwa perawi tersebut adalah seorang yang <em>‘adl</em>. Demikian yang dijelaskan oleh Al-Khatib Al-Baghdadi.<a title="" href="#_ftn13">[13]</a></p>
<p>d). Diantara jalan untuk mengetahui <em>‘adalah</em> (sifat <em>‘adl</em>) seorang perawi yaitu dengan melihat buku catatan riwayat haditsnya untuk megetahui kredibilitas perawi tersebut. Hal ini sebagaimana terdapat pada jajaran para ulama sekaliber Yahya bin Yahya, Mis’ar, imam Malik dan yang selain mereka.<a title="" href="#_ftn14">[14]</a></p>
<p>e). Kemasyhuran seorang perawi dengan perhatiannya yang besar terhadap ilmu syar’i dan dikenal sebagai perawi yang senang melakukan <em>rihlah</em> (perjalanan untuk menuntut ilmu ke berbagai negeri). Selama perawi tersebut tidak memiliki cacat dalam periwayatan menurut penelitian para imam ahli hadits.<a title="" href="#_ftn15">[15]</a></p>
<p>Syarat Kelima: <strong><span style="text-decoration: underline;">Perawinya Seorang <em>Dhabt</em></span></strong>. Hal ini sebagaimana diisyaratkan oleh nadzim rahimahullah dalam bait sya’irnya &#8220;يَرْوِيْهِ&#8230;ضَابِطٌ&#8221; (perawinya adalah seorang yang <em>dhabt</em>).</p>
<p>Definisi <em>dhabt</em> secara etimologi adalah: الإِتْقَان وَالتَّثَبُّتُ  (memiliki kemantapan hafalan dan teliti).</p>
<p>Sedangkan makna <em>dhobt</em> secara istilah adalah: <strong>yaitu kemampuan menyampaikan hadis kepada murid-muridnya sebagaimana yang ia terima dari gurunya, baik dari hapalan atau dari catatannya. <a title="" href="#_ftn16"><strong>[16]</strong></a></strong></p>
<p><strong> </strong>Dari sini <em>dhabt</em> dibagi dua:</p>
<ul>
<li><strong><em>Dhabt Shadr</em></strong>: yaitu kemampuan menghapal dengan baik riwayat yang dia dengar dari gurunya hingga ia mampu menghadirkannya kapan saja ia kehendaki.</li>
<li><strong><em>Dhabt Kitab</em></strong>: yaitu kehati-hatiaannya dalam menjaga dan merevisi catatan riwayat-riwayatnya hingga tidak terjadi sesuatu yang dapat merubahnya dari sejak ia meneriwa riwayat itu hingga menyampaikannya.<a title="" href="#_ftn17">[17]</a></li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dari diatas, dapat disimpulkan bahwa syarat hadis shahih adalah lima:</p>
<ol>
<li>Sanadnya bersambung</li>
<li>Para perawinya adil</li>
<li>Para perawinya dhabith</li>
<li>Tidak Syadz</li>
<li>Tidak terdapat illah.</li>
</ol>
<p><strong>Tiga</strong> syarat yang disebutkan pertama adalah syarat yang harus ada (<em>syuruth</em> <em>wujudiyyah</em>), dan <strong>dua</strong> syarat yang disebutkan terakhir adalah syarat yang harus tidak ada (<em>syuruth intifaiyyah</em>)</p>
<p><strong>Contoh hadits shahih yang terpenuhi lima syarat diatas:</strong></p>
<ul>
<li>Dikeluarkan oleh imam Bukhari di dalam kitab Shahihnya: 4/18 (<em>kitabul Jihad</em> <em>Was Sair</em>: <em>Bab. Doa’ perlindungan dari sifat penakut</em>)</li>
<li><strong>حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، حَدَّثَنَا مُعْتَمِرٌ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبِي، قَالَ: سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «</strong><strong>اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ، وَالجُبْنِ وَالهَرَمِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ المَحْيَا وَالمَمَاتِ، وَأَعُوذُ </strong><strong>بِكَ مِنْ عَذَابِ القَبْرِ</strong><strong>»</strong></li>
</ul>
<p dir="RTL" align="right">Berkata imam Bukhari: Telah menceritakan kepada kami <strong><em><span style="text-decoration: underline;">Musaddad</span></em></strong>, telah menceritakan kepada kami <strong><em>Mu’tamir</em></strong> berkata: aku mendengar dari <strong><em><span style="text-decoration: underline;">ayahku</span></em></strong>, ia berkata: aku mendengar <strong><em><span style="text-decoration: underline;">Anas bin Malik radhiyallahu’anhu</span></em></strong> berkata: Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda:</p>
<p dir="RTL" align="right"><strong><em>“Wahai Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, rasa takut, kepikunan, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kehidupan dan kematian, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kubur.”</em></strong></p>
<p dir="RTL" align="right">
<p dir="RTL" align="right">  Pada hadits diatas telah terpenuhi syarat hadits shahih, yaitu:</p>
<p dir="RTL" align="right">
<p dir="RTL" align="right">1- Sampainya mata rantai perawinya (sanad) kepada Nabi shallallahu’alaihi wasallam.</p>
<p dir="RTL" align="right">2- Bersambungnya sanad hadits tersebut dari awal sampai akhir. Anas bin Malik adalah seorang shahabat yang tentu mendengar langsung dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam, Sulaiman bin Tharkhan –bapaknya Mu’tamir- pun juga mendengarkan langsung dari Anas bin Malik, Mu’tamir juga mendengar langsung dari bapaknya, demikian juga Musaddad (guru imam Bukhari) langsung mendengar dari Mu’tamir, demikian juga imam Bukhari mendengar langsung dari Musaddad.</p>
<p dir="RTL" align="right">3- terpenuhinya syarat ‘adl dan dhabt dalam seluruh perawi yang meriwayatkan hadits tersebut dari shahabat Anas bin Malik radhiyallahu’anhu sampai kepada yang mengeluarkan hadits yaitu imam Bukhari rahimahullah. Rinciannya adalah sebagai berikut:</p>
<p dir="RTL" align="right">* <strong><em>Anas bin Malik -radhiyallahu’anhu-</em></strong>: Seorang shahabat, dan seluruh shahabat periwayatannya adil dan diterima<em> radhiyallahu’anhum ajma’in</em>.</p>
<p dir="RTL" align="right">* <strong><em>Sulaiman bin Tharkhan –bapaknya Mu’tamir</em></strong> -: dia adalah seorang yang tsiqah (terpercaya periwayatannya) lagi ahli ibadah.</p>
<p dir="RTL" align="right">* <strong><em>Al-Mu’tamar</em></strong>: adalah seorang perawi yang <em>tsiqah</em> (terpercaya) dalam periwayatannya.</p>
<p dir="RTL" align="right"> * <strong><em>Al-Musaddad bin Masrahad:</em></strong> seorang perawi yng tsiqah lagi kokoh hafalannya.</p>
<p dir="RTL" align="right">* <strong><em>Al-Bukhari</em></strong> penulis kitab -<em>Ash-Shahih </em>– nama beliau Muhammad bin Isma’il Al-Bukhari: adalah seorang yang kokoh hafalannya laksana gunung serta <em>amirul mu’minin</em> ( penghulunya) para ulama hadits.</p>
<p dir="RTL" align="right">4- demikian juga hadits tersebut bukanlah hadits yang <em>syadz</em>.</p>
<p dir="RTL" align="right">5- Serta tidak ada <em>‘illah </em>(cacat) di dalamnya.</p>
<p dir="RTL" align="right">  Maka hadits diatas adalah termasuk diantara sederetan hadits-hadits yang terpenuhi syarat shahih di dalamnya. Oleh karena itu imam Al-Bukhari memasukkan hadits tersebut kedalam kitab Shahihnya.<a title="" href="#_ftn18">[18]</a></p>
<p dir="RTL">
<p dir="RTL" align="right">
<p dir="RTL" align="center"><strong><span style="text-decoration: underline;">HADITS HASAN</span></strong></p>
<p dir="RTL" align="center"><strong> </strong></p>
<p dir="RTL" align="right">Berkata <em>Nadzim</em> (Al-Baiquni) rahimahullah:</p>
<p dir="RTL" align="right">
<p align="center"><strong>وَالْحَسَنُ الْمَعْرُوْفُ طُرْقًا وَغَدَتْ          رِجَالُهُ لا كَالصَّحِيْحِ اشْتَهَرَتْ</strong></p>
<p align="center"><strong><em>Dan hasan adalah yang terkenal jalur-jalurnya dan kodisi</em></strong></p>
<p align="center"><strong><em>Para rijal (perawi)nya terkenal namun tidak seperti hadis shahih</em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Yang kedua dari macam-macam hadis adalah istilah <strong><em>hasan</em></strong>. Secara bahasa, hasan adalah sesuatu yang disukai oleh hati.</p>
<p>Adapun secara istilah, sebagaimana yang disebutkan penulis, hadits hasan adalah hadis yang jalur-jalurnya terkenal; para rijal (perawinya)  adalah perawi yang masyhur namun masih dibawah derajat hadits shahih.</p>
<p>Dari penjelasan Al-Baiquni rahimahullah diatas, seolah-olah beliau mensyaratkan hadits hasan menjadi sua syarat:</p>
<p><strong><em>Syarat Pertama: Jalan-jalan periwayatannya jelas</em></strong>.</p>
<p><strong><em>Syarat Kedua: Para rijal perawinya masyhur namun tidak semasyhur para perawi hadits-hadits shahih.</em></strong></p>
<p>Definisi yang beliua bawakan tentang hadits hasan mirip dengan definisi yang dibawakan oleh imam Al-Khattabi dalam kitab beliau <em>Ma’alimus Sunan</em> (1/11). Disana juga masih banyak definisi lain yang dipaparkan oleh para ulama tentang hadits hasan.<a title="" href="#_ftn19">[19]</a></p>
<p>Namun definisi yang paling kongkrit sebagaimana disebutkan oleh para ulama tentang hadits hasan adalah:</p>
<p align="center"><strong>(( مَا اتَّصَلَ سَنَدُهُ بِنَقلِ عَدْلٍ خَفِيف الضَّبْطِ وَلَا يَكُوْنُ شَاذّا وَلَا مُعَلَّلاً))</strong><strong></strong></p>
<p><strong><em>“Hadits yang <span style="text-decoration: underline;">bersambung sanadnya</span> dengan penukilan seorang perawi yang <span style="text-decoration: underline;">‘adl</span>, namun <span style="text-decoration: underline;">kurang sempurna dari segi dhabt-nya</span>, serta tidak ada <span style="text-decoration: underline;">syadz</span> dan ‘<span style="text-decoration: underline;">illah </span>(cacat)nya.”</em></strong></p>
<p>Definisi inilah yang dibawakan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar, yang mana beliau berkata:</p>
<p align="center">&#8221; فَإِنْ خَفَّ الضَّبْطُ ؛ فَالْحَسَنُ لِذَاتِهِ&#8221;</p>
<p><strong>“Apabila (seorang perawi) kurang sempurna dari segi dhabt-nya, maka haditsnya adalah <em>hasan lidzatihi</em>.”<a title="" href="#_ftn20"><strong>[20]</strong></a></strong></p>
<p>Oleh karena itu Al-Hafidz Ibnu Hajar memandang bahwa 5 syarat yang ada pada hadits shahih adalah sama dengan yang ada pada hadits hasan hanya saja perbedaan terletak pada <em>dhobt</em>-nya seorang perawi. Apabila riwayat shahih maka <em>dhobt-</em>nya sempurna, adapun riwayat hadits hasan ada kekurangan dari segi <em>dhobt</em>-nya.</p>
<p>Definisi yang dibawakan oleh Al-Hafidz di atas juga disepakati oleh Asy-Syaikh Al-Muhaddits Al-Bani rahimahullah, yang mana beliau berkata,</p>
<p align="center"><strong>&#8221; وَهَذا التَّعْرِيْفُ على إِيْجَازِهِ أَصَحُّ مَا قِيلَ فِي الحَدِيثِ الحَسَنِ لذَاتِهِ، وهُوَالذِيْ تَوَفّرَتْ فِيهِ شرُوطُ الحديث المتَقَدَّمةِ إلا أنَّهُ خَفَّ ضَبْطُ أحَدِ رُواتِهِ&#8221;</strong></p>
<p><strong><em>“Definisi </em></strong><strong><em>(yang dibawakan oleh imam Ibnu Hajar) tentang hadits Hasan lidzatihi tersebut adalah definisi yang paling shahih walaupun ringkas. Yaitu hadits yang di dalamnya terpenuhi syarat-syarat hadits shahih, hanya saja ada kekurangan dalam dhabt-nya seorang perawi.”<a title="" href="#_ftn21"><strong>[21]</strong></a></em></strong></p>
<p>Para ulama mengistilahkan para perawi yang kurang sempurna <em>dhabt</em>-nya (perawi hasan) dengan beberapa istilah antara lain:</p>
<ul>
<li>صَدُوْقٌ  (perawi yang jujur)</li>
<li>وَلاَ بأسَ بِهِ/ وَلَيسَ بِهِ بأسٌ (perawi yang tidak ada masalah padanya)</li>
<li>ثِقّةٌ يُخْتِئُ (perawi yang terpercaya tetapi terkadang salah)</li>
<li>صَدُوْقٌ لَهُ أوهَمٌ (perawi yang terpercaya akan tetapi memiliki kelemahan dalam hafalannya)</li>
</ul>
<p>Contoh hadits hasan: Diriwayatkan oleh Ibnul Qaththan dalam sebuah tambahan yang beliau bawakan dalam Sunan Ibnu Majah (no. 2744) yang mana jalan periwayatannya sebagai berikut:</p>
<p dir="RTL"><strong>عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ، عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «</strong><strong>كُفْرٌ بِامْرِئٍ ادِّعَاءُ نَسَبٍ لَا يَعْرِفُهُ، أَوْ جَحْدُهُ، وَإِنْ دَقَّ»</strong><strong></strong></p>
<p dir="RTL" align="right">Dari <strong><em><span style="text-decoration: underline;">Yahya bin Sa’id</span></em></strong>, dari <strong><em><span style="text-decoration: underline;">‘Amr bin Syu’aib</span></em></strong>, dari <strong><em><span style="text-decoration: underline;">bapak</span></em></strong>nya, dari <strong><em><span style="text-decoration: underline;">kakek</span></em></strong>nya: bahwasanya Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda, <strong><em>“Telah kufur seseorang yang dia mengkalaim suatu nasab yang dia tidak mengetahuinya, atau mengingkarinya, walaupun itu dalam hal yang remeh.”</em></strong></p>
<p dir="RTL" align="right">
<p>   Di dalam hadits tersebut terdapat seorang perawi yang bernama ‘<strong><em><span style="text-decoration: underline;">Amr bin Syu’aib</span></em></strong> bin Muhammad bin Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash.</p>
<p>Berkata Al-Hafidz Ibnu Hajar tentangnya: <strong>(( صَدُوْقٌ))</strong> “Dia adalah perawi yang jujur (hasan).”<a title="" href="#_ftn22">[22]</a> Dari sini bisa disimpulkan bahwa hadits tersebut adalah hadits hasan karena keberadaan ‘Amr bin Syu’aib, yang mana dia adalah perawi yang kurang dari segi <em>dhobt</em>-nya akan tetapi ia adalah perawi yang jujur.</p>
<p><strong>Bisakah Hadits Hasan Naik Derajatnya Menjadi Shahih?</strong></p>
<p><strong>  </strong>Hadits hasan bisa naik derajatnya menjadi shahih lighirihi apabila terdapat riwayat lain yang sama kuatnya (sama-sama hasan) atau ada penguat lain dari riwayat yang lebih kuat (shahih), sehingga dengan seluruh jalan-jalan periwayatannya akan naik menjadi shahih lighoirihi. Hal itu dikarenakan hadits shahih tidak hanya datang dari satu riwayat saja tetapi terkadang datang juga dari riwayat yang lain. Dan menghukumi suatu riwayat hadits tidaklah cukup hanya dengan melihat satu riwayat saja.<a title="" href="#_ftn23">[23]</a></p>
<div><br clear="all" /></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a>  <em>Fathul Mughits</em>: 1/14, <em>Al-Jawahir As-Sulaimaniyah</em>: hal. 32.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a>  Ithafun Nabil: 1/106-109. Soal no. 17, karya Asy-Syaikh Abul Hasan hafidzahullah.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a>  Kaedah ini sewaktu-waktu bisa berubah, hal tersebut tergantung dengan kondisi imam yang menetapkan tersebut apakah dia pakar ataukah tidak dalam bidang hadits.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a>  Diringkas dari <em>Al-Jawahir As-Sulaimaniyah</em>: hal. 36-40.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a>  <em>An-Nuzhah</em>: hal. 98.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a>  <em>Al-Muqaddimah</em>: hal. 86.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a>  <em>Ulumul-Hadits</em> halaman 68-72; <em>Al-Ba’itsul-Hatsits</em> halaman 56; <em>Tadribur-Rawi</em> halaman 533; dan <em>Taisir Musthalahul-Hadits</em> halaman 117.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref8">[8]</a>  <em>Al-Jawahir</em>: hal. 47.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref9">[9]</a>  <em>Taisir ‘Ulumil Hadits</em>: hal. 281. Karya ‘Amr Abdul Mun’im Salim hafidzahullah.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref10">[10]</a>  <em>An-Nuzhah</em>: hal. 83.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref11">[11]</a>  Syarat Islam ditekankan mana perawi sedang menyampaikan suatu hadits, adapun tatkala mendengar suatu hadits maka tidak disyaratkan Islam. Bisa jadi seorang perawi mendengar hadits shahih sedangkan ketika itu dia masih dalam kondisi kafir. Demikian penjelasan imam Adz-Dzahabi dalam <em>Al-Muqidzah</em>: hal. 61.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref12">[12]</a>  <em>At-Taqyid Wal-Idhah</em>: hal. 136.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref13">[13]</a>  <em>Al-Kifayah</em>: hal. 141.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref14">[14]</a>  <em>Syifaul ‘Alil</em>: hal. 379-380. Karya Asy-syaikh Abul Hasan hafidzahullah.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref15">[15]</a>  <em>Fathul Mughits</em>: 2/20-21, <em>Ithafun Nabil</em>: 1/173-175, soal no. 52, <em>Miftah Daris Sa’adah</em>: 1/495-496 karya imam Ibnul Qayyim. Cet. Dar Ibnu ‘Affan, <em>Taudhihul Afkar</em>: 2/131.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref16">[16]</a> <em>At-Taqrirat al-Saniyyah</em>, <em>Syarh al-Mandzumah al-Baiquniyyah</em>, Hasan al-Masyath.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref17">[17]</a>  <em>Taisir ulumul Hadits</em>: hal. 15. Karya Amr Abdul Mun’im Salim hafidzahullah.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref18">[18]</a>  <em>Taisir Ulumul Hadits</em>: hal. 16-17.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref19">[19]</a>  Diantaranya oleh imam At-Tirmidzi (<em>Jami’ At-Tirmidzi</em>: 5/758) dan imam Ibnus Shalah (<em>At-Taqyid Wal-Idhah</em>:  hal. 46-47).</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref20">[20]</a>  <em>An-Nuzhah</em>: hal. 91.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref21">[21]</a>  <em>Nuzhatun Nadzar</em>: hal 91, disertai dengan <em>ta’liq</em> (komentar) syaikh Al-Albani rahimahullah.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref22">[22]</a>  <em>At-Taqrib</em>: 2/72, lihat juga <em>Taisir Ululumul Hadits</em>: hal. 32.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref23">[23]</a>  <em>Taisir Musthalahul Hadits</em>: hal. 50, <em>Taisir Ulumul Hadits</em>: hal. 33.</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.serambiyemen.com/2013/03/syarah-al-baiquniyah-bag-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SYARAH MANDZUMAH AL-BAIQUNIYAH BAG. 1</title>
		<link>http://www.serambiyemen.com/2013/02/syarah-mandzumah-al-baiquniyah-bag-1.html</link>
		<comments>http://www.serambiyemen.com/2013/02/syarah-mandzumah-al-baiquniyah-bag-1.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Feb 2013 15:33:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Ya'la</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.serambiyemen.com/?p=471</guid>
		<description><![CDATA[Bismillahirrahmanirrahim &#160; Sesungguhnya, segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya,memohon pertolonganNya, memohon ampunanNya, dan kami memohon perlindungan kepada Allah dari keburukan diri kita dan kejahatan amal perbuatan kita. Barangsiapa yang mendapat petunjuk Allah, maka tidak akan ada yang mampu menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tak akan ada yang kuasa menujukinya. Aku bersaksi bahwasannya tiada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img id="rg_hi" src="http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQcFCyy4MVFgTVFGJPmPZ9QwhnteU-e35PK0WPAe9BRvB9patkYMQ" alt="" width="164" height="239" data-height="239" data-width="164" /></p>
<p align="center"><strong>Bismillahirrahmanirrahim</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sesungguhnya, segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya,memohon pertolonganNya, memohon ampunanNya, dan kami memohon perlindungan kepada Allah dari keburukan diri kita dan kejahatan amal perbuatan kita. Barangsiapa yang mendapat petunjuk Allah, maka tidak akan ada yang mampu menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tak akan ada yang kuasa menujukinya.</p>
<p>Aku bersaksi bahwasannya tiada Ilah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya.Dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya Semoga kesejahteraan dan keselamatan senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabat beliau.</p>
<p>Sesungguhnya orang-orang yang mereka mempelajari ilmu syar’i dan mendakwahkannya di jalan Allah tidak diragukan lagi bahwa dia adalah seorang mujahid. Oleh karena itu berkata imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah,</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">مامن عمل أفضل من طلب العلم إذا صحت النية</p>
<p>“Tidak ada suatu amalan yang lebih mulia dari pada menuntut ilmu, apabila niatnya benar.”<a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Berkata imam Ibnul Mubarak,</p>
<p align="right">لا أعلم بعد النبوة أفضل من بث العلم</p>
<p>“Saya tidak mengetahui setelah zaman kenabian yang lebih utama dari pada menyebarkan ilmu syar’i.”<a title="" href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Oleh karena agungnya perkara tersebut Allah berfirman,</p>
<p align="center"><strong>وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِمَّنْ دَعا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صالِحاً وَقالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ</strong></p>
<p><em>“Siapakah yang lebih baik ucapannya dari pada orang-orang yang berdakwah kepada (jalan Allah) , dan ia mengatakan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”</em> (Fusshilat: 55)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Orang-orang yang berpegang dengan hadits-hadits Nabi shallallahu’alaihi wasallam adalah mereka-mereka yang berada di shaf terdepan dalam keteguhan ditengah-tengah keterasingan umat. Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,</p>
<p align="center"><strong>لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ، لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ، حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ</strong></p>
<p><em>“Senantiasa ada segolongan dari umatku orang-orang yang nampak tegar diatas kebenaran, tidaklah membahayakan mereka orang-orang yang menyelisihi dan menjauh dari mereka sampai datang keputusan Allah Ta’ala.”</em><a title="" href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Berkata imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah tentang siapakah itu Tho’ifah manshurah (orang-orang yang mendapatkan pertolongan Allah), “Aku mengira mereka itu adalah ahlul hadits, dan aku tidak tahu lagi ada yang lainnya selain dari mereka.”<a title="" href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Berkata imam Al-Qadhi ‘iyadh, “Ahli hadits yang dimaksud oleh Ahmad adalah ahlus sunnah wal jama’ah dan orang-orang yang mengikuti madzhab ahli hadits.”<a title="" href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Berkata Syaikhuna Abul Hasan –hafidzahullah-, “Para ahli hadits pantas untuk menyendang kehormatan tersebut dikarenakan mereka telah menghimpun aqidah yang bermanfaat dan pembelaan terhadap agama. Keshahihan dalam beraqidah adalah karakteristik yang jelas pada diri para salaf yang mereka menyibukkan dirinya dengan ilmu hadits. Ini berbeda dengan kondisi orang-orang yang menyibukkan diri mereka dengan ilmu selain ilmu hadits. Diantaranya orang-orang yang menyibukkan diri mereka dengan ilmu Fiqih maka banyak diantara mereka yang memiliki aqidah yang tidak shahih. Berbeda dengan perbendaharaan keilmuan yang dimiliki oleh ahli hadits, yang mana keilmuan mereka berlandaskan dengan hadits Nabi shallallahu’alaihiw asallam, perkataan para shahabat, Tabi’in, dan juga para ulama setelahnya. Oleh karena itu amat sedikit dikalangan ahli hadits yang terjerumus dalam kesalahan berkaitan dengan perkara aqidah ini berbeda kondisinya dengan para ahli Qari’, para fuqaha’ (ahli Fiqih), para sejarawan, para pakar bahasa dan bidang-bidang lannya yang mana banyak diantara mereka yang terjerumus dalam beberapa kesalahan dalam permasalahan Aqidah. Ilmu hadits adalah keselamatan dengan taufiq Allah bagi seorang yang mempelajarinya dan mengamalkannya sesuai dengan metode yang ditempuh oleh para imam.</p>
<p>Mempelajari ilmu hadits adalah suatu kebutuhan yang primer, hal itu dikarenakan keterkaitan ilmu hadits ini dengan Nabi kita Muhammad shallallahu’alaihi wasallam. Oleh karen itu suatu ilmu akan agung sesuai dengan kebutuhan manusia akan ilmu tersebut, oleh karena itu ilmu yang tidak dibutuhkan oleh manusia pastilah tidak akan mendapatkan tempat di hati mereka berbeda dengan ilmu yang bermanfaat. Sehingga karena urgensi dari suatu ilmu seorang akan semangant untuk menghimpun ilmu tersebut, meriwayatkannya, dan mempelajarinya dengan seksama.</p>
<p>Dan hal yang penting untuk diketahui adalah: tidaklah ilmu hadits dipelajai disuatu negeri, melainkan akan sedikit pula kebid’ahan yang ada pada negeri tersebut demikian juga sebaliknya. Hal itu dikarenakan ilmu hadits adalah parameter untuk memilah antara hadits yang shahih dengan hadits yang dho’if, sementara tersebarnya kebid’ahan faktor utamanya adalah keberadaan hadits-hadits dho’if tersebut&#8230;”<a title="" href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Berkata Al-Hasan bin Tsawab,</p>
<p align="right">قال لي أحمد بن حنبل: ما أعلم الناس اليوم في زمان أحوج منهم إلى طلب الحديث من هذا الزمان، قلت: ولم؟ قال: ظهرت البدع ، فمن لم يكن عنده حديث وقع فيها.</p>
<p>berkata kepadaku imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, “Tidak ada suatu zaman orang-orang lebih butuh untuk belajar hadits dari zaman kita sekarang”, maka aku (Hasan) berkata, “Mengapa demikian wahai Abu Abdillah?” beliau menjawab, “Karena banyak munculnya kebid’ahan, oleh karena itu seorang yang tidak mempelajari ilmu hadits ia akan terjatuh kedalamnya.”<a title="" href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Diantara faktor yang menunjukan akan urgensinya ilmu hadits ini, bahwasanya ilmu hadits berkaitan dengan seluruh disiplin ilmu. Ambil contoh ilmu tafsir sangatlah membutuhkan adanya ilmu hadits dikarenakan hadits-hadits Nabi shallallahu’alaihi wasallam adalah penjelas bagi ayat-ayat Al-Qur’an, apabila seorang tidak bisa memilah antara hadits-hadits shahih dengan hadits-hadits dho’if maka dikhawatirkan masuknya hadits-hadits dho’if dalam sebuah penafsiran Al-Qur’an yang akan berakibat fatal.</p>
<p>Dalam ilmu Fiqih misalnya yang mana ilmu tersebut terkait dengan hukum-hukum Islam, maka jika seorang tidak memahami ilmu hadits akan menyebabkan kerancuan dalam memahami suatu hukum. Oleh karena itu imam Asy-syafi’i rahimahullah pernah memberikan pujiannya kepada imam Ahmad rahimahullah,</p>
<p align="right">أنتم أعلم بالحديث والرجال منّي، فإذا كان الحديث صحيحا فأعلموني به، أي شيء يكون كوفيا، أو بصريا، أو شاميا حتّى أذهب إليه، إذا كان صحيحا</p>
<p>“Anda lebih tahu tentang hadits dan para perawinya dari pada aku, apabila datang suatu hadits yang shahih maka ajarkanlah kepadaku, baik para perawi tersebut dari Kufah, Bashrah, atau pun Syam hingga aku pergi untuk mengambil hadits tersebut apabila shahih.”<a title="" href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Berkata imam Ibnu Shalah rahimahullah,</p>
<p align="right"><strong>هَذَا، وَإِنَّ عِلْمَ الْحَدِيثِ مِنْ أَفْضَلِ الْعُلُومِ الْفَاضِلَةِ، وَأَنْفَعِ الْفُنُونِ النَّافِعَةِ، يُحِبُّهُ ذُكُورُ الرِّجَالِ وَفُحُولَتُهُمْ، وَيُعْنَى بِهِ مُحَقِّقُو الْعُلَمَاءِ وَكَمَلَتُهُمْ، وَلَا يَكْرَهُهُ مِنَ النَّاسِ إِلَّا رُذَالَتُهُمْ وَسَفَلَتُهُمْ. وَهُوَ مِنْ أَكْثَرِ الْعُلُومِ تَوَلُّجًا فِي فُنُونِهَا، لَا سِيَّمَا الْفِقْهُ الَّذِي هُوَ إِنْسَانُ عُيُونِهَا. وَلِذَلِكَ كَثُرَ غَلَطُ الْعَاطِلِينَ مِنْهُ مِنْ مُصَنِّفِي الْفُقَهَاءِ، وَظَهَرَ الْخَلَلُ فِي كَلَامِ الْمُخِلِّينَ بِهِ مِنَ الْعُلَمَاءِ.</strong></p>
<p>“Demikianlah, Sesungguhnya ilmu hadits adalah seutama-utamanya disiplin ilmu dan bidang ilmu yang paling bermanfaat lagi paling dicintai oleh para lelaki pilihan, yakni dari kalangan para ulama pilihan, tidaklah ada yang meremehkan ilmu tersebut melainkan mereka adalah orang-orang yang rendahan. Dan ilmu hadits ini adalah ilmu yang paling banyak keterkaitannya dengan ilmu-ilmu yang lain terutama adalah ilmu Fiqih yang mana ilmu tersebut adalah pasangan sejolinya. Oleh karena itu para Fuqaha’ yang tidak memiliki perhatian dengan ilmu tersebut akan banyak kesalahannya. Demikian juga para ulama yang tidak memberikan perhatian dalam ilmu tersebut akan terjerumus dalam banyak kesalahan.”                                   <a title="" href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Berkata imam Ahmad dan Ishaq bin Rahawaih rahimahumallah,</p>
<p align="right"><strong>إن العالم إذا لَمْ يعرف الصَّحِيْح والسقيم، والناسخ والمنسوخ من الْحَدِيْث لا يسمى عالماً</strong></p>
<p>“Sesungguhnya seorang yang ‘alim apabila tidak bisa mengetahui antara hadits yang shahih dan tidak, serta tidak mengetahui perkara Nasikh dan Mansukh dalam suatu hadits, maka dia tidaklah dikatakan sebagai seorang yang alim.”<a title="" href="#_ftn10">[10]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ilmu hadits sangatlah mendapatkan perhatian besar dikalangan ulama salaf terdahulu. Berkata imam Ibnu shalah rahimahullah,</p>
<p dir="RTL"><strong>وَلَقَدْ كَانَ شَأْنُ الْحَدِيثِ فِيمَا مَضَى عَظِيمًا، عَظِيمَةً جُمُوعُ طَلَبَتِهِ، رَفِيعَةً مَقَادِيرُ حُفَّاظِهِ وَحَمَلَتِهِ. وَكَانَتْ عُلُومُهُ بِحَيَاتِهِمْ حَيَّةً، وَأَفْنَانُ </strong><strong>فُنُونِهِ بِبَقَائِهِمْ غَضَّةً، وَمَغَانِيهِ بِأَهْلِهِ آهِلَةً، فَلَمْ يَزَالُوا فِي انْقِرَاضٍ، وَلَمْ يَزَلْ فِي انْدِرَاسٍ حَتَّى آضَتْ بِهِ الْحَالُ إِلَى أَنْ صَارَ أَهْلُهُ إِنَّمَا هُمْ شِرْذِمَةٌ قَلِيلَةُ الْعَدَدِ، ضَعِيفَةُ الْعُدَدِ&#8230;.</strong><strong></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Ilmu hadits sangatlah mendapatkan perhatian besar di zaman dahulu dikalangan para penuntut ilmu, dan mulia dikalangan orang-orang yang menghafalkannya dan mendakwahkannya. Dimasa hidup mereka (salaf) ilmu hadits mengalami masa keemasan, dan sangatlah dibutuhkan oleh bidang-bidang ilmu yang lain. Seorang yang menguasainya di waktu tersebut adalah disebut orang-orang  yang pakar. Namun amat disayangkan hal tersebut terus mengalami grafik penurunan hingga samapailah pada derajat amat sedikitnya orang-orang yang menguasai bidang tersebut…<a title="" href="#_ftn11">[11]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Karena begitu urgennya ilmu tersebut, banyak dari kalangan ulama menyibukkan diri dengan ilmu hadits tersebut. Berkata imam Ibnu Hajar terkait dengan penyusunan ilmu tersebut, “Sesungguhnya yang pertama menyusun disiplin ilmu hadits secara khusus adalah Al-Qadhi Abu Muhammad Al-Hasan bin Abdurrahman bin Khallad Ar-Ramahurmuzi  (wafat th. 360 H) di dalam kitabnya ((<em>Al-Muhaddisul Fashil</em>)), hanya saja kitab tersebut tidak membahas secara detail, yang mana sudah barang tentu penyusunan ilmu pada periode yang pertama tidaklah sama dengan penyusunan pada periode-periode akhir. Penyusunan pada kali pertama periode masih berupa ringkasan dari pembuka suatu pembahasan, hal tersebut tentu tidaklah membahas suatu permasalahan secara mendetail, juga tidaklah tersusun berdasarkan fasal-fasal dan dalil-dalil yang otentik. Sehingga banyak diantara kalangan yang kurang bisa mengambil faedah tidak seperti periode setelah terjadi penyusunan disiplin ilmu tersebut secara teratur.</p>
<p>Kemudian datang setelah itu Al-Hakim Abu Abdillah An-Naisaburi: beliau menulis buku dalam ilmu hadits yang bernama ((<em>Ma’rifatu ‘Ulumil Hadits</em>)) hanya saja belum tersusun secara baik dan sistematis. Beliau juga memiliki kitab lain yang berjudul ((<em>Al-Madkhol Ilal Iklil</em>)) yang mana beliau menulis buku tersebut disebabkan permintaan pemimpin pasukan perang di zaman beliau agar beliau menulis sebuah buku yang membahas tentang karakteristik Nabi shallallahu’alaihi wasallam, istri-isteri beliau dan hari-hari yang beliau lalui. Maka imam Al-Hakim menulis sebuah kitab yang berjudul ((<em>Al-Iklil</em>)) kemudian ia memandang bahwa kitab tersebut tidak banyak memberikan sebuah faedah kecuali harus disertai dengan pengetahuan tentang hadits shahih dengan hadits dha’if, maka kemudian ia menulis sebuah kitab yang berjudul ((<em>Al-Madkhal</em>)) dipaparkan dalam kitab tersebut macam-macam hadits shahih beserta syarat-syaratnya&#8230;dst</p>
<p>Kemudian buku tersebut ditela’ah oleh Abu Nu’aim Al-Ashbahani: kemudian beliau memaparkan sanad-sanad hadits yang ada pada kitab <em>Al-Ma’rifah</em> karya Al-Hakim dengan pemaparan dari jalan periwayatan dari dirinya sendiri (Al-Mustakhrajat). Hanya buku tersebut tidaklah lepas dari beberapa kritikan, disamping buku tersebut belum menjelaskan penjelasan yang memuaskan bagi para penuntut ilmu.</p>
<p>Kemdia datang setelahnya Abu Bakar Al-Khatib Ahmad bin ‘Ali bin Tsabit rahimahullah yang mana ia menulis dua buah kitab besar: yang pertama berkaitan dengan undang-undang periwayatan, kitab tersebut berjudul ((<em>Al-Kifayah Fi ‘Ulumir Riwayah)</em>), kedua: berkaitan dengan adab-adab penuntut hadits yang berjudul ((<em>Al-Jami’ Li Adabir Rawi Wa Akhlaqus Sami’</em>)) maka beliau menyusun disiplin ilmu tersebut dan bab-babnya, kemudian banyak para penulis setelahnya menulis karya tulis berdasarkan bab yang telah disusun olehnya. Oleh karena itu berkata Al-Hafidz Ibnu Naqthah, “Setiap orang yang memiliki sifat objektif akan mengetahui bahwa para ahli hadits setelah Al-Khatib buku-buku nereka banyak meruju’ kepada buku Al-Khatib.”</p>
<p>Hanya saja karya-karya tulis Al-khatib tidak banyak yang bisa mengambil faedah darinya kecuali orang-orang khusus yang mumpuni. Kemudian datanglah setelahnya Al-hafidz Abu ‘Amr Ibnus Shalah Asy-Syahraz Zuri Asy-syafi’i rahimahullah –tatkala beliau menjadi pengajar di madrasah Al-Asyrafiyah- beliau menulis sebuah kitab yang cukup masyhur yang berjudul ((<em>Ma’rifatu ‘ulumil Hadits</em>))  ia menyusun buku tersebut secara sistematis disertai dengan mengimlakannya (mendiktekannya diahadapan murid-muridnya) sedikit demi sedikit, sehingga tidak tersusun secara tertib yang mana ia meruju’ kepada kitab Al-Khatib Al-Baghdadi secara tidak berurut dengan mengambil beberapa faedah yang penting. Sehingga bayak para ulama setelah menyusun kembali karya tulis beliau baik dalam bentuk bait sya’ir maupun prosa. Diantara mereka ada yang memberikan pujian , pembelaan, dan ada pula yang memberikan kritikan.<a title="" href="#_ftn12">[12]</a></p>
<p>Kemudian datang setelahnya imam Ibnu Hajar rahimahullah, yang mana beliau menyusun ilmu musthalah hadits secara sistematis, berurutan, tambahan dalam beberapa bab, disertai dengan penekanan kepada permasalahan-permasalahan pokok maupun cabang-cabangnya. Diantara buah karya beliau adalah kitab <em>Nukhbatul Fikar</em>. Meskipun buku tersebut berukuran mungil namun sarat dengan muatan faedah. Sehingga kitab beliau tersebut banyak mendapatkan perhatian dari para ulama baik dalam bentuk sya’ir, prosa, maupun penjelasan terhadap kitab tersebut. Bahkan Al-Hafidz Ibnu Hajar sendiri mensyarah (menjabarkan) kitab beliau tersebut dengan judul <em>Nuzhatun Nadzar</em>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dan demikian seterusnya bermunculanlah para penulis-penulis yang menulis berkaitan dengan disiplin ilmu mustholah hadits tersebut diantaranya adalah Thoha bin Muhammad bin Futuh Ad-Dimasyqi Asy-Syafi’i Al-Baiquni rahimahullah. Yang mana beliau hidup disekitar tahun 1080 H, hanya saja tidak diketahui secara pasti tahun wafat beliau. Biografi beliau dibahas di dalam kitab <em>Al-A’lam</em> karya Az-Zarakli dan kitab <em>Mu’jamul Muallifin</em> karya Kahalah.</p>
<p>Beliau memiliki karya sya’ir yang berjudul Nadzam <em>Al-Baiquniyah</em> dalam bidang ilmu Musthalah dengan jumlah 43 bait syair.<a title="" href="#_ftn13">[13]</a></p>
<p>Banyak sekali diantara para ulama yang memberikan perhatian khusus untuk mensyarah Nadzam Al-Baiquniyah sekitar sejumlah 16 kitab. Diantara penjabaran dan syarah yang paling lengkap dan  menyeluruh adalah yang disusun oleh SyaikhAbul Hasan Musthofa bin Isma’il As-Sulaimany hafidzahullah yang berjudul <em>Al-Jawahir As-Sulaimaniyah ‘Alal Mandzumah Al-Baiquniyah</em> cet. Dar Al-Kayyan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Adapun tulisan ini hanyalah ringkasan dari beberapa syarah mandzumah Al-Baiquniyah, yang mudah-mudahan bisa memberikan manfaat kepada para pembaca sekalian yang budiman Amiin Yaa mujibas Saailiin.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">Penyusun</p>
<p align="center">
<p align="center">Abu Fawwaz Hizbul Majid bin Abu Mas’ud Al-Jawi</p>
<p align="center">
<p align="center"><strong>Nadzam Al-Albaiquniyah</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Berkata imam Al-Baiquni rahimahullah:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p dir="RTL"><strong>بسم الله الرحمن الرحيم</strong><strong></strong></p>
<p dir="RTL"><strong>المنظومة البيقونية</strong><strong></strong></p>
<p dir="RTL"><strong>1 -</strong><strong> أبدأُ بالحمدِ مُصَلِّياً عَلَى </strong><strong>&#8230;</strong><strong> مُحَمَّدٍ خَيْرِ نبيْ أُرسلا</strong><strong></strong></p>
<p dir="RTL"><strong>2 -</strong><strong> وذِي من أقْسَامِ الحَدِيثِ عِدَّهْ </strong><strong>&#8230;</strong><strong> وَكُلُّ واحد أتى وحدَّه</strong><strong></strong></p>
<p dir="RTL"><strong>3 -</strong><strong> أوَّلُها الصَّحِيحُ وَهْوَ مَا اتَّصل </strong><strong>&#8230;</strong><strong> إسْنَادُهُ وَلَمْ يَشُذَّ أَوْ يُعَلْ</strong><strong></strong></p>
<p align="right"><strong>4 -</strong><strong> يَرْوِيهِ عَدْلٌ ضَابِطٌ عَنْ مِثْلِه </strong><strong>&#8230;</strong><strong> مُعْتَمَدٌ فِي ضَبْطِهِ وَنَقْلِه</strong></p>
<p dir="RTL"><strong>5- </strong><strong>والَحسَنُ المعروفُ طُرْقاً وَغَدَتْ </strong><strong>&#8230;</strong><strong> رِجَالُهُ لاَ كالصّحيحِ اشْتَهَرَتْ</strong><strong></strong></p>
<p dir="RTL"><strong>6 -</strong><strong> وكُلُّ مَا عَنْ رُتْبَةِ الحسن قصر </strong><strong>&#8230;</strong><strong> فهو الضعيف وَهْوَ أَقْسَاماً كُثُرْ</strong><strong></strong></p>
<p dir="RTL"><strong>7 -</strong><strong> وَمَا أُضيفَ لَلنَّبِي المَرْفُوعُ </strong><strong>&#8230;</strong><strong> وَمَا لِتَابِعٍ هو المقطوع</strong><strong></strong></p>
<p dir="RTL"><strong>8 -</strong><strong> والُمسنَدُ الُمتَّصِلُ الإسنادِ مِنْ </strong><strong>&#8230;</strong><strong> رَاوِيهِ حَتَّى المُصْطَفَى وَلَمْ يَبِنْ</strong><strong></strong></p>
<p dir="RTL"><strong>9 -</strong><strong> وَمَا بِسَمْعِ كُلِّ رَاوٍ يَتَّصِل </strong><strong>&#8230;</strong><strong> إسْنَادُهُ لِلْمُصْطَفَى فَالْمُتَّصِل</strong><strong></strong></p>
<p dir="RTL"><strong>10 </strong><strong>-مُسَلْسَلٌ قُلْ مَا عَلَى وَصْفٍ أَتَى </strong><strong>&#8230;</strong><strong> مِثْلُ أَمَا وَاللهِ أنْبأنِي الْفَتَى</strong><strong></strong></p>
<p dir="RTL"><strong>11 -</strong><strong> كذَاكَ قَدْ حَدَّثَنِيهِ قَائما </strong><strong>&#8230;</strong><strong> أَوْ بَعْدَ أَنْ حَدَّثَنِي تَبَسَّمَا</strong></p>
<p dir="RTL"><strong>12- </strong><strong>عَزِيزُ مَرْوِي اثْنَيْنِ أوْ ثَلاَثَهْ </strong><strong>&#8230;</strong><strong> مَشْهُورُ مَرْوِي فوْقَ مَا ثَلاثهْ</strong><strong></strong></p>
<p dir="RTL"><strong>13 -</strong><strong> مَعَنْعَنٌ كَعَن سَعِيدٍ عَنْ كَرَمْ </strong><strong>&#8230;</strong><strong> وَمُبْهَمٌ مَا فِيهِ رَاوٍ لَمْ يُسَمْ</strong><strong></strong></p>
<p dir="RTL"><strong>14 -</strong><strong> وَكُلُّ مَا قَلَّتْ رِجَالُهُ عَلاَ </strong><strong>&#8230;</strong><strong> وَضِدُهُ ذاك الذي قد نَزَلا</strong><strong></strong></p>
<p dir="RTL"><strong>15 -</strong><strong> ومَا أضَفْتَهُ إِلَى الأَصْحَابِ مِنْ </strong><strong>&#8230;</strong><strong> قَوْلٍ وفعل فهو مَوْقُوفٌ زُكنْ</strong><strong></strong></p>
<p dir="RTL"><strong>16 -</strong><strong> وَمُرْسلٌ مِنْهُ الصِّحَابِيُّ سَقَطْ </strong><strong>&#8230;</strong><strong> وَقُلْ غَرِيبٌ مَا رَوَى رَاوٍ فَقَطْ</strong><strong></strong></p>
<p dir="RTL"><strong>17 -</strong><strong> وَكُلُّ مَا لَمْ يَتَّصِلْ بحال </strong><strong>&#8230;</strong><strong> إسْنَادُهُ مُنْقَطِعُ الأوْصالِ</strong><strong></strong></p>
<p dir="RTL"><strong>18 -</strong><strong> والُمعْضَلُ الساقِط مِنه اثنانِ </strong><strong>&#8230;</strong><strong> وما أتى مُدلساً نَوعانِ</strong></p>
<p dir="RTL"><strong>19- </strong><strong>الأَوَّلُ: الاسْقَاطُ لِلشَّيْخِ وَأَنْ </strong><strong>&#8230;</strong><strong> ينقلُ عَمَّنْ فَوْقَهُ بِعَنْ وَأَنْ</strong><strong></strong></p>
<p dir="RTL"><strong>20 -</strong><strong> والثَّانِ: لاَ يُسْقِطُهُ لَكِنْ يَصِفْ </strong><strong>&#8230;</strong><strong> أَوْصَافَهُ بِمَا بِهِ لاَ ينعرف</strong><strong></strong></p>
<p dir="RTL"><strong>21 -</strong><strong> وما يخلف ثِقَةٌ بِهِ الَملأ </strong><strong>&#8230;</strong><strong> فالشاذُّ والَمقْلُوبُ قِسْمَانِ تَلا</strong><strong></strong></p>
<p dir="RTL"><strong>22 -</strong><strong> إبْدَالُ رَاوٍ مَا بِرَاوٍ قِسْمُ </strong><strong>&#8230;</strong><strong> وَقَلْبُ إسْنَادٍ لمَتْنٍ قِسْمُ</strong><strong></strong></p>
<p dir="RTL"><strong>23 -</strong><strong> والفَردُ مَا قَيَّدْتَهُ بِثِقةِ </strong><strong>&#8230;</strong><strong> أَوْ جَمْعٍ أوْ قَصْرٍ عَلَى روايةِ</strong><strong></strong></p>
<p dir="RTL"><strong>24 -</strong><strong> ومَا بعِلَّةٍ غُمُوضٍ أَوْ خَفَا </strong><strong>&#8230;</strong><strong> مُعَلَّلٌ عِنْدَهُمُ قَدْ عُرِفَا</strong><strong></strong></p>
<p dir="RTL"><strong>25 -</strong><strong> وذُو اخْتِلافِ سَنَدٍ أَوْ مَتْنِ </strong><strong>&#8230;</strong><strong> مُضْطَرِبٌ عِنْدَ أُهَيْلِ الْفَنِّ</strong></p>
<p dir="RTL"><strong>26- </strong><strong>والُمدْرَجَاتُ فِي الحديثِ مَا أَتَتْ </strong><strong>&#8230;</strong><strong> مِنْ بَعْض أَلْفَاظِ الرُّوَاةِ اتَّصَلَتْ</strong><strong></strong></p>
<p dir="RTL"><strong>27 -</strong><strong> ومَا رَوى كُلُّ قَرِينٍ عَنْ أَخِهْ </strong><strong>&#8230;</strong><strong> مُدّبَّجٌ فَأَعْرِفْهُ حَقًّا وانْتَخهْ</strong><strong></strong></p>
<p dir="RTL"><strong>28 -</strong><strong> مُتَّفِقٌ لَفْظاً وَخَطاً مُتَّفِقْ </strong><strong>&#8230;</strong><strong> وضِدُّهُ فِيمَا ذَكَرْنَا المُفْتَرِقْ</strong><strong></strong></p>
<p dir="RTL"><strong>29 -</strong><strong> مُؤْتَلِفٌ مُتَّقِقُ الخَطِّ فَقَطْ </strong><strong>&#8230;</strong><strong> وَضِدُّهُ مُخْتَلِفُ فَاخْشَ الْغَلَطْ</strong><strong></strong></p>
<p dir="RTL"><strong>30 -</strong><strong> وَالمُنْكَرُ الْفَرْدُ بِهِ رَاوٍ غَدَا </strong><strong>&#8230;</strong><strong> تَعْدِيلُهُ لاَ يْحمِلُ التَّفَرُّدَا</strong><strong></strong></p>
<p dir="RTL"><strong>31 -</strong><strong> مَتْرُوكُهُ مَا وَاحِدٌ بِهِ انْفَرَدْ </strong><strong>&#8230;</strong><strong> وَأَجْمَعُوا لِضَعْفِهِ فَهْوَ كَرَدْ</strong><strong></strong></p>
<p dir="RTL"><strong>32 -</strong><strong> وَالكَذِبُ المُخْتَلَقُ المَصْنُوعُ </strong><strong>&#8230;</strong><strong> عَلَى النَّبِي فَذلِكَ الموْضوعُ</strong></p>
<p dir="RTL"><strong>33- </strong><strong>وَقَدْ أَتَتْ كَالجَوْهَرِ المَكْنُونِ </strong><strong>&#8230;</strong><strong> سَمَّيْتُهَا مَنْظُومَةَ البَيْقُوني</strong><strong></strong></p>
<p dir="RTL"><strong>34 -</strong><strong> فَوْقَ الثَّلاثيَن بأرْبَعٍ أتَت </strong><strong>&#8230;</strong><strong> ْأقْسامُهَا تَمَّتْ بِخَيْرٍ خُتِمَتْ</strong><strong></strong></p>
<p dir="RTL"><strong> </strong></p>
<p dir="RTL"><strong>                        </strong></p>
<p dir="RTL"><strong> </strong></p>
<p dir="RTL"><strong> </strong></p>
<p align="right">
<p align="right"><strong><span style="text-decoration: underline;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Pengantar Ilmu</span></strong></p>
<p><strong>Nama Ilmu</strong></p>
<p>Ilmu Mushthalah Hadis, Ushul Hadis, atau Kaidah-kaidah Hadis.</p>
<p><strong>Definisi Ilmu</strong><strong> musthalah</strong></p>
<p><strong>                      </strong><strong></strong></p>
<p>Diantara definisi ilmu musthalah adalah:</p>
<p><strong> </strong></p>
<p align="center">مَعرِفَةُ الْقَوَاعِد اَّلذِي يَتَوَصَّلُ بِهَا إِلَى مَعْرِفةِ الرَّاوِي والْمَرْوِيْ</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Ilmu Hadis adalah pengetahuan mengenai kaidah-kaidah yang menghantarkan</em></p>
<p><em>kepada pengetahuan tentang </em>rawi <em>(periwayat) dan </em>marwi <em>(materi yang diriwayatkan).<a title="" href="#_ftn14"><strong>[14]</strong></a></em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ada pendapat lain yang menyatakan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">هُوَ عِلْمٌ بِقَوَانِيْنَ يُعْرَفُ بِهَا أَحْوَالُ السَّندِ وَالْمَتْنِ<em></em></p>
<p><em>Ilmu Hadis adalah ilmu tentang kaidahkaidah</em><em> </em><em>untuk mengetahui kondisi</em></p>
<p>sanad <em>dan </em>matan.<a title="" href="#_ftn15">[15]</a></p>
<p><strong>Penjelasan Definisi</strong></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Sanad </em>adalah rangkaian rijal yang menghantarkan kepada matan</p>
<p><em>Matan </em>adalah perkataan yang terletak di penghujung sanad.<a title="" href="#_ftn16">[16]</a></p>
<p><strong>Objek pembahasan</strong></p>
<p>Sanad dan Matan; dari sisi diterima dan ditolaknya.</p>
<p><strong>Contohcontoh:</strong></p>
<p>Al-Bukhari meriwayatkan hadis berikut, di dalam kitabnya yang bernama Ash-Shahih, Bab <em>Kayfa kana bad’ alwahyi</em> <em>ila Rasulillah shallallahu’alaihi wasallam</em></p>
<p align="right"><strong>حَدَّثَنَا الحُمَيْدِيُّ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ، قَالَ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الأَنْصَارِيُّ، قَالَ: أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيُّ، أَنَّهُ سَمِعَ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيَّ، يَقُولُ: سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى المِنْبَرِ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا، أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ»</strong><strong></strong></p>
<p><em>Telah menceritakan kepada kami al-Humaidi, Abdullah bin az-Zubair, Ia berkata; Telah menceritakan kepada kami Sufyan, ia berkata; Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id alAnshari, ia berkata; Telah memberitahukan kepadaku Muhammad bin Ibrahim atTaimi bahwasannya ia mendengar ‘Alqamah bin Waqqash alLaitsi berkata; Aku mendengar Umar bin Khaththab radhiyallahu’anhu berkata di atas mimbar; Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda; <strong>Sesungguhnya semua perbuatan itu disertai dengan niat, dan sesungguhnya setiap orang akan dibalas sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang hijrahnya (diniatkan) kepada dunia yang akan diperolehnya, atau perempuan yang akan dinikahinya, maka hijrahnya (dibalas) kepada apa yang ia niatkan.” </strong></em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Yang dinamakan <em>Sanad </em>pada hadis di atas adalah:</p>
<p align="right"><strong>حَدَّثَنَا الحُمَيْدِيُّ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ، قَالَ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الأَنْصَارِيُّ، قَالَ: أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيُّ، أَنَّهُ سَمِعَ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيَّ، يَقُولُ: سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى المِنْبَرِ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ:</strong><strong></strong></p>
<p>Sedangkan matan pada hadits tersebut adalah:</p>
<p align="right"><strong>«إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا، أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ»</strong></p>
<p><strong>Faidah mempelajarinya</strong></p>
<p>Kemampuan membedakan hadis yang shahih (hujjah) dari yang dhaif (bukan hujjah).</p>
<p><strong>Keutamaan mempelajarinya</strong></p>
<p>Imam Nawawi berkata, “Ilmu hadis adalah diantara ilmu yang paling utama, yang mendekatkan kepada Rabb semesta alam. Bagaimana tidak, ia adalah penjelasan atas jalan sebaik-baik makhluk, yang dahulu dan yang terakhir.”<a title="" href="#_ftn17">[17]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em>Penulis (al-Baiquny) berkata:</em></strong></p>
<p align="center"><strong>بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم</strong></p>
<p align="center"><strong>أَبْدَأُ بِالحَمْدِ مُصَلِّيًا عَلَى          مُحَمَّدٍ خَيْرِ نَبِيٍّ أُرْسِلاَ</strong></p>
<p align="center"><strong><em>Aku Memulai dengan al-hamd (pujian kepada Allah), seraya bershalawat atas</em></strong></p>
<p align="center"><strong><em>Muhammmad, sebaik-baik nabi yang diutus</em></strong></p>
<p>Penulis (al-Baiquni) memulai nadzmnya dengan <em>al-hamd</em>. <em>Al-hamd </em>adalah pensifatan al-mahmud (yang dipuji) dengan sifat yang sempurna, seraya mencintai dan mengagungkannya. Adapun pensifatan dengan sifat yang sempurna tanpa cinta dan pengagungan; karena takut misalnya, disebut <em>al-madh</em>, bukan <em>al-hamd.</em></p>
<p>Pensifatan dengan kesempurnaan secara mutlak adalah kekhususan Allah Ta’ala. Dia-lah Allah yang disifati dengan kesempurnaan pujian dalam keesaan-Nya, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, nikmat-nikmat-Nya, dan takdir-takdirnya&#8230;maka hanya Allah-lah yang mendapatkan pujian secara mutlak dalam seluruh keadaan.<a title="" href="#_ftn18">[18]</a></p>
<p>Kemudian bershalawat kepada Muhammad. Shalat atau shalawat secara bahasa adalah doa. Adapun sholawat Allah atas Rasul, maknanya adalah, sebagaimana yang dikatakan oleh Abul ‘Aliyah, bahwa shalawat Allah kepada Nabi-Nya adalah pujian Allah kepadanya dihadapan penduduk langit. Shalawat hamba kepada Nabi berarti doa (permohonan) agar Allah memujinya di hadapan penduduk langit. Apabila shalawat tersebut berasal dari malaikat maka maknanya adalah istighfar.<a title="" href="#_ftn19">[19]</a></p>
<p>Muhammad adalah nama Nabi dan Rasul terakhir. Al-Baiquni mensifatinya dengan sebaik-baik nabi yang diutus. Hal ini sesuai sabda Rasulullah,</p>
<p align="center"><strong>أَنَا سَيِّدُ القَوْمِ يَوْمَ القِيَامَةِ</strong></p>
<p><em>“Aku adalah tuan (sayyid) seluruh manusia pada hari kiamat.”</em><a title="" href="#_ftn20">[20]</a></p>
<p><strong>Apakah Perbedaan antara nabi dan rasul?</strong></p>
<p>Para ulama menyebutkan banyak perbedaan antara nabi dan rasul, tapi di sini kami hanya akan menyebutkan sebahagian di antaranya:<br />
1. Jenjang kerasulan lebih tinggi daripada jenjang kenabian. Karena tidak mungkin seorang itu menjadi rasul kecuali setelah menjadi nabi. Oleh karena itulah, para ulama menyatakan bahwa Nabi Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam- diangkat menjadi nabi dengan 5 ayat pertama dari surah Al-‘Alaq dan diangkat menjadi rasul dengan dengan 7 ayat pertama dari surah Al-Mudatstsir. Telah berlalu keterangan bahwa setiap rasul adalah nabi, tidak sebaliknya.<br />
Imam As-Saffariny -rahimahullah- berkata, “Rasul lebih utama daripada nabi berdasarkan ijma’, karena rasul diistimewakan dengan risalah, yang mana (jenjang) ini lebih ringgi daripada jenjang kenabian”. (<em>Lawami’ Al-Anwar</em>: 1/50)<br />
Al-Hafizh Ibnu Katsir juga menyatakan dalam Tafsirnya (3/47), “Tidak ada perbedaan (di kalangan ulama) bahwasanya para rasul lebih utama daripada seluruh nabi dan bahwa ulul ‘azmi merupakan yang paling utama di antara mereka (para rasul)”.</p>
<p align="center">2. Rasul diutus kepada kaum yang kafir, sedangkan nabi diutus kepada kaum yang telah beriman.<br />
Allah -’Azza wa Jalla- menyatakan bahwa yang didustakan oleh manusia adalah para rasul dan bukan para nabi, di dalam firman-Nya:<br />
<strong>ثُمَّ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا تَتْرَى كُلَّ مَا جَاءَ أُمَّةً رَسُولُهَا كَذَّبُوه</strong></p>
<p><em></em></p>
<p><em>“Kemudian Kami utus (kepada umat-umat itu) rasul-rasul Kami berturut-turut. Tiap-tiap seorang rasul datang kepada</em> umatnya, umat itu mendustakannya”. (QS. Al-Mu`minun : 44)</p>
<p>Dan dalam surah Asy-Syu’ara` ayat 105, Allah menyatakan:</p>
<p align="center">
<strong>كَذَّبَتْ قَوْمُ نُوحٍ الْمُرْسَلِينَ</strong><strong></p>
<p><em></em></strong></p>
<p><em>“Kaum Nuh telah mendustakan para rasul”.</em></p>
<p>Allah tidak mengatakan “Kaum Nuh telah mendustakan para nabi”, karena para nabi hanya diutus kepada kaum yang sudah beriman dan membenarkan rasul sebelumnya. Hal ini sebagaimana yang dinyatakan oleh Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-:</p>
<p align="center">
<strong>كَانَتْ بَنُوْ إِسْرَائِيْلَ تَسُوْسُهُمُ الْأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ</strong><strong></p>
<p><em></em></strong></p>
<p><em>“Dulu bani Isra`il diurus(dipimpin) oleh banyak nab. Setiap kali seorang nabi wafat, maka digantikan oleh nabi setelahnya”.</em> (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)</p>
<p>3. Syari’at para rasul berbeda antara satu dengan yang lainnya, atau dengan kata lain bahwa para rasul diutus dengan membawa syari’at baru. Allah -Subhanahu wa Ta’ala- menyatakan:</p>
<p align="center">
<strong>لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا</strong><strong></p>
<p><em></em></strong></p>
<p><em>“Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, kami berikan aturan dan jalan yang terang”.</em> (QS. Al-Ma`idah : 48)</p>
<p>Allah mengabarkan tentang ‘Isa bahwa risalahnya berbeda dari risalah sebelumnya di dalam firman-Nya:</p>
<p align="center">
<strong>وَلِأُحِلَّ لَكُمْ بَعْضَ الَّذِي حُرِّمَ عَلَيْكُمْ</strong><strong></p>
<p><em></em></strong></p>
<p><em>“Dan untuk menghalalkan bagi kalian sebagian yang dulu diharamkan untuk kalian”.</em> (QS. Ali ‘Imran : 50)</p>
<p>Nabi Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam- menyebutkan perkara yang dihalalkan untuk umat beliau, yang mana perkara ini telah diharamkan atas umat-umat sebelum beliau:</p>
<p align="center">
<strong>وَأُحِلَّتْ لِيَ الْغَنَائِمَ وَجُعِلَتْ لِيَ الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُوْرًا</strong><strong></p>
<p><em></em></strong></p>
<p><em>“Dihalalkan untukku ghonimah dan dijadikan untukku bumi sebagai mesjid (tempat sholat) dan alat bersuci (tayammum)”</em>.(HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Jabir)</p>
<p>Adapun para nabi, mereka datang bukan dengan syari’at baru, akan tetapi hanya menjalankan syari’at rasul sebelumnya. Hal ini sebagaimana yang terjadi pada nabi-nabi Bani Isra`il, kebanyakan mereka menjalankan syari’at Nabi Musa -’alaihis salam-.</p>
<p>4. Rasul pertama adalah Nuh -’alaihis salam-, sedangkan nabi yang pertama adalah Adam -’alaihis salam-.<br />
Allah -’Azza wa Jalla- menyatakan:</p>
<p align="center">
<strong>إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ</strong></p>
<p><em></em></p>
<p><em>“Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang setelahnya”.</em> (QS. An-Nisa` : 163)</p>
<p>Dan Nabi Adam berkata kepada manusia ketika mereka meminta syafa’at kepada beliau di padang mahsyar:</p>
<p align="center">
<strong>وَلَكِنِ ائْتُوْا نُوْحًا فَإِنَّهُ أَوَّلُ رَسُوْلٍ بَعَثَهُ اللهُ إِلَى أَهْلِ الْأَرْضِ</strong><strong></p>
<p><em></em></strong></p>
<p><em>“Akan tetapi kalian datangilah Nuh, karena sesungguhnya dia adalah rasul pertama yang Allah utus kepada penduduk bumi”. </em>(HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik)</p>
<p>Jarak waktu antara Adam dan Nuh adalah 10 abad sebagaimana dalam hadits shohih yang diriwayatkah oleh Ibnu Hibban (14/69), Al-Hakim (2/262), dan Ath-Thobarony (8/140).<a title="" href="#_ftn21">[2)</a></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Berkata nadzim (Al-baiquni) rahimahullah:</strong></p>
<p align="center"><strong>وَذِيْ مِنَ اقْسَامِ الحَدِيْثِ عِدَّةْ          وَكُلُّ وَاحِدٍ أَتَى وَحَدَّهْ</strong></p>
<p align="center"><strong><em>Dan inilah diantara beberapa dari macam-macam hadis</em></strong></p>
<p align="center"><strong><em>Setiap macamnya akan datang (dalam nadzm ini) beserta definisinya</em></strong></p>
<p> Penulis menyebutkan bahwa bait sya’ir ini mencakup beberapa macam istilah hadits beserta definisinya. Namun nadzim (imam Al-Baiquni rahimahullah) tidaklah menyebutkan macam-macam istilah dalam ilmu hadits secara keseluruhan, akan tetapi beliau hanyalah meringkasnya untuk memudahkan para pemula yang ingin belajar tentang ilmu hadits. Dengan izin Allah mandzumah ini tersebar dikalangan para penuntut ilmu dan disyarah (dijabarkan) oleh para penuntut ilmu.</p>
<p>Adapun definisi dari hadits adalah:</p>
<p align="center"><strong>مَا أُضِيفَ إِلَى النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَوْلًا لَهُ أَوْ فِعْلًا أَوْ تَقْرِيرًا أَوْ صِفَةً</strong><strong></strong></p>
<p><strong><em>Apa-apa yang disandarkan kepada Nabi shallallahu’alaihi wasallam baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, maupun sifat.<a title="" href="#_ftn22"><strong>[22]</strong></a></em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Macam-macam istilah hadits terbagi menjadi tiga; (1) yang hanya berhubungan dengan matan; seperti <em>marfu’</em> (2) yang hanya berhubungan dengan sanad; seperti <em>‘aaly</em><strong> </strong>dan<strong> </strong><em>naazil</em> (3) yang berhubungan dengan keduanya; seperti <em>shahih</em> dan<em>hasan</em>.<a title="" href="#_ftn23">[23]</a> Dan penulis akan menyebutkan tiga puluh dua macam hadis dalam <em>nadzam </em>ini.</p>
<p>Selain istilah hadis ada istilah <strong><em>khabar</em></strong> dan <strong><em>atsar</em></strong>. Khabar lebih umum dari hadis; karena ia mencakup yang disandarkan kepada Nabi atau yang lainnya dari kalangan para sahabat, tabi’in atau yang setelahnya. Sementara atsar hanya untuk yang disandarkan kepada selain Nabi.<a title="" href="#_ftn24">[24]</a></p>
<div><br clear="all" /></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a>  <em>Jami Bayanil ‘Ilmi Wa Fadhlih</em>: 1/123-124. Karya imam Ibnu Abdil Bar –rahimahullah-</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a>  <em>Siyar A’lamin Nubala</em>: 8/387. Karya imam Adz-Dzahabi –rahimahullah-</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a>  HR. Muslim: no. 170 dan juga terdapat riwayat-riwayat lain yang serupa dengan riwayat tersebut. Sehinga banyak para ulama yang menyatakan bahwa hadits tersebut mencapai derajat mutawatir. Diantaranya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (<em>Iqtidha’</em>: 1/34), As-Suyuthi (<em>Al-Azhar Al-Mutanatsirah</em>: hal. 116), Al-Katani (<em>Nadzmul Mutanatsir</em>: hal. 93), Az-Zabidi (<em>Samthul Laali’</em>: 68-71), dan Syaikh Al-Albani (<em>Ahkamul ‘Idain</em>: 39-40) karya Syaikh Salim Al-Hilali.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a>  Diantara para ulama yang menafsirkan tho’ifah Al-Manshurah dengan ahli hadits antara lain: Abdullah bin Mubarak, Ali bin Al-Madini, Ahmad bin Sinan, Imam Bukhari, Yazid bin Harun dan selainnya dari para ulama. (lihat <em>Ash-Shahihah</em>: hadits no. 270). Karya Syaikh Al-Albani -rahimahullah- dan <em>Al-Jama’ah Al-Islamiyah</em>: hal 47, Karya Syaikh Salim Al-Hilali –hafidzahullah-</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a>  <em>Ikmalul Mu’allim syarah Shahih Muslim</em>: 6/350.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a>  <em>Al-Jawahir As-Sulaimaniyah</em>: hal. 8.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a> Al-Adab Asy-Syar’iyyah: 2/126 karya imam Ibnu Muflih –rahimahullah- dan atsar ini di shahihkan oleh syaikh Al-Albani –rahimahullah- didalam <em>Muqaddimah Shahihut Targhib</em>: 1/54.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref8">[8]</a>  <em>Shifatu Shalatin Nabi</em> shallallahu’alaihi wasallam: hal. 27. Karya Al-Allamah Al-Albani rahimahullah.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref9">[9]</a> <em>Muqaddimah Ibnu Shalah Fi ‘Ulumil Hadits</em>. Dikutip dari kitab <em>Al-Jawahir As-Sulaimaniyah</em>: hal. 10.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref10">[10]</a> <em>Ma’rifatu ‘Ulumil Hadits</em>: hal. 60 karya imam Al-Hakim rahimahullah.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref11">[11]</a>  <em>Nukat Az-Zarkasyi</em>: 1/40-41.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref12">[12]</a>  <em>Nuzhatun Nadzar</em>: hal. 46-51. Bersamaan dengan <em>An-Nukat</em> karya Syaikh Ali Hasan hafidzahullah.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref13">[13]</a>  <em>Al-Jawahir</em>: hal. 15. Karya Syaikhuna Abul Hasan hafidzahullah.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref14">[14]</a>  <em>An-Nukat ‘Ala Ibnis Shalah</em>: 1/225. Karya imam Ibnu Hajar rahimahullah.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref15">[15]</a>  <em>Tadribur Rawi</em>: 1/41. Karya As-Suyuthi rahimahullah.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref16">[16]</a>  <em>Taisirul Musthalahil Hadits</em>: hal. 15. Karya Dr. Mahmud Ath-Thahhan.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref17">[17]</a>  <em>Tadrib Ar-Rawi</em>: hal. 26.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref18">[18]</a>  <em>Al-Jawahir As-Sulaimaniyah</em>: hal. 26. Karya Asy-Syaikh Abul Hasan hafidzahullah.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref19">[19]</a>  Ibid: hal. 26.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref20">[20]</a> HR. Bukhari: no. 3340 dan Muslim: no. 327.</p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref21">[21]</a>  Lihat. http://al-atsariyyah.com/5-perbedaan-antara-nabi-dan-rasul.html.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref22">[22]</a>  <em>Fathul Mughits</em>: 1/8, karya imam As-Sakhawi.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref23">[23]</a>  <em>Al-Taqrirat al-Saniyyah</em>, <em>Syarh al-Mandzumah</em> <em>al-Baiquniyyah</em>, Hasan al-Masyath.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref24">[24]</a>  Imam Ibnu Shalah membahas hal tersebut dalam kitab beliau <em>At-Taqyid Wal Idhah</em>: hal. 27.</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.serambiyemen.com/2013/02/syarah-mandzumah-al-baiquniyah-bag-1.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ADAB-ADAB ISLAMI MAKAN DAN MINUM (BAG. 4)</title>
		<link>http://www.serambiyemen.com/2013/02/adab-adab-islami-makan-dan-minum-bag-4.html</link>
		<comments>http://www.serambiyemen.com/2013/02/adab-adab-islami-makan-dan-minum-bag-4.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Feb 2013 13:27:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Ya'la</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.serambiyemen.com/?p=468</guid>
		<description><![CDATA[24.      Janganlah Langsung Tidur Setelah Makan Inilah kebiasaan buruk yang bayak dilakukan oleh sebagian orang yang akan menyebabkabkan berbagai macam bahaya antara lain: jantung, stroke, dst..padahal syari’at Islam datang dalam rangka menjaga maslahat manusia. Syaikh As Sa&#8217;di rahimahullah kembali menyebutkan: الدين مبني على المصالح في جلبها والدرء للقبائح Ajaran Islam dibangun di atas maslahat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="https://encrypted-tbn1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQciZWRkGsKT0G-YwiJUERsHX8r1g6T69C9e5-gz6p6AM6j6e-d" alt="" name="Zv4BAcoUlFY4vM:" data-src="https://encrypted-tbn1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQciZWRkGsKT0G-YwiJUERsHX8r1g6T69C9e5-gz6p6AM6j6e-d" data-sz="f" /></p>
<p><strong>24.      </strong><strong>Janganlah Langsung Tidur Setelah Makan</strong></p>
<p>Inilah kebiasaan buruk yang bayak dilakukan oleh sebagian orang yang akan menyebabkabkan berbagai macam bahaya antara lain: jantung, stroke, dst..padahal syari’at Islam datang dalam rangka menjaga maslahat manusia.</p>
<p>Syaikh As Sa&#8217;di <em>rahimahullah </em>kembali menyebutkan:</p>
<p dir="RTL" align="center">الدين مبني على المصالح</p>
<p dir="RTL" align="center">في جلبها والدرء للقبائح</p>
<p align="center"><strong><em>Ajaran Islam dibangun di atas maslahat</em></strong></p>
<p align="center"><strong><em>Ajaran tersebut mengandung maslahat dan menolak mudhorot (bahaya)</em></strong></p>
<p>Bait sya’ir di atas mengandung pengertian bahwa ajaran Islam dibangun atas dasar <strong>meraih maslahat dan menolak mudhorot (bahaya)</strong>.</p>
<p><strong>25.     </strong><strong>Menutup Makanan dan Bejana</strong></p>
<p>Sebuah adab yang mulia demi kemaslahatan manusia dan sungguh tidak ada satupun yang luput melainkan telah disampaikan oleh pembawa syariat yaitu Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Dan kesalahan itu terjadi dari manusia itu sendiri karena kekurangan yang ada pada mereka.<br />
Di antara adab yang dituntunkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam kepada kita adalah menutup bejana dan makanan. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam telah menyebutkan beberapa hikmah padanya:</p>
<p><strong>Pertama:</strong></p>
<p>“Dari Jabir, dari Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:</p>
<p align="right"><strong>غَطُّوا الْإِنَاءَ، وَأَوْكُوا السِّقَاءَ، وَأَغْلِقُوا الْبَابَ، وَأَطْفِئُوا السِّرَاجَ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَحُلُّ سِقَاءً، وَلَا يَفْتَحُ بَابًا، وَلَا يَكْشِفُ إِنَاءً، فَإِنْ لَمْ يَجِدْ أَحَدُكُمْ إِلَّا أَنْ يَعْرُضَ عَلَى إِنَائِهِ عُودًا، وَيَذْكُرَ اسْمَ اللهِ، فَلْيَفْعَلْ، فَإِنَّ الْفُوَيْسِقَةَ تُضْرِمُ عَلَى أَهْلِ الْبَيْتِ بَيْتَهُمْ</strong></p>
<p><em>“Tutuplah bejana kalian, ikat tutup gentong, tutuplah pintu dan matikan lentera karena sesungguhnya setan tidak akan masuk ke dalam gentong, tidak membuka pintu dan tidak membuka bejana, dan kalau sekiranya salah seorang tidak menemukan sesuatu melainkan kayu diletakkan padanya dan dia menyebut nama Allah maka lakukanlah juga, karena sesungguhnya tikus akan membakar rumah dan penghuninya.”<a title="" href="#_ftn1"><strong>[1]</strong></a></em></p>
<p>Mafhum hadits di atas, bila semuanya dalam keadaan terbuka maka setan akan masuk melaluinya.</p>
<p><strong>Kedua:</strong> Sebuah hikmah yang belum diketahui oleh pakar ilmu kedokteran, yaitu apa yang telah disebutkan dalam hadits:</p>
<p>Dari Jabir bin Abdullah berkata aku telah mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:</p>
<p align="center"><strong>غَطُّوا الْإِنَاءَ، وَأَوْكُوا السِّقَاءَ، فَإِنَّ فِي السَّنَةِ لَيْلَةً يَنْزِلُ فِيهَا وَبَاءٌ، لَا يَمُرُّ بِإِنَاءٍ لَيْسَ عَلَيْهِ غِطَاءٌ، أَوْ سِقَاءٍ لَيْسَ عَلَيْهِ وِكَاءٌ، إِلَّا نَزَلَ فِيهِ مِنْ ذَلِكَ الْوَبَاءِ</strong></p>
<p><em> “Tutuplah bejana kalian, dan ikatlah tutup gentong kalian karena di dalam satu tahun ada satu malam di antaranya di mana wabah turun. Dan tidaklah wabah tersebut melewati bejana yang tidak ditutup, atau gentong yang tidak tertutup melainkan akan turun padanya wabah tersebut.”<a title="" href="#_ftn2"><strong>[2]</strong></a></em></p>
<p><strong>Ketiga:</strong> Dengan ditutup, makanan atau bejana tersebut akan terpelihara dari kotoran-kotoran dan serangga yang kerap kali menyebabkan mudharat. Oleh karena itu Rasulullah n dengan penuh ketegasan memerintahkan untuk menutupnya, meskipun dengan tangkai kayu sebagaimana dalam hadits di atas.</p>
<p><strong>Masalah</strong>: Apakah kulkas termasuk penutup bagi makanan yang dimasukkan ke dalamnya dengan tanpa penutup? Dan apakah kita akan selamat dari bahaya yang disebutkan di atas?</p>
<p>Jawab: Jawaban terhadap pertanyaan ini dari dua sisi pandang yaitu:</p>
<p><strong>Pertama:</strong> Tidak termasuk penutup, karena yang dimaksudkan dengan adanya kulkas adalah mendinginkan dan mengawet-kan makanan. Adapun penutup yang langsung, terdapat padanya hikmah-hikmah syariat.</p>
<p><strong>Kedua</strong>: Ya, termasuk penutup, dari sisi bahwa kedua-duanya yaitu penutup langsung maupun kulkas merupakan penjaga dari segala yang diperingatkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Dan insya Allah inilah pendapat yang kuat.<a title="" href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p><strong>26.      </strong><strong>Larangan Bernafas dalam Bejana dan Meniup Air Minum</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Etika makan dan minum tidak luput dari peng<a href="http://muslim.or.id/info-dauroh-dan-kajian">kajian</a> para ulama yang semuanya bersumberkan dari hadits-hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, antara lain anjuran Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> agar tidak bernafas dan meniup air ke dalam gelas atau wadah air. Dalam hal ini, terdapat beberapa hadits:</p>
<p>Dari Abu Qatadah, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p align="center"><strong>إِذَا شَرِبَ أَحَدُكُمْ فَلاَ يَتَنَفَّسْ فِي الإِنَاءِ</strong></p>
<p><em>“Jika kalian minum maka janganlah mengambil nafas dalam wadah air minumnya.”<a title="" href="#_ftn4"><strong>[4]</strong></a></em></p>
<p>Dari Ibnu Abbas berkata,</p>
<p align="center"><strong>أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى أَنْ يُتَنَفَّسَ فِي الإِنَاءِ أَوْ يُنْفَخَ فِيهِ</strong></p>
<p>“Sesungguhnya Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melarang untuk mengambil nafas atau meniup wadah air minum.” <a title="" href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Imam Ibnul Qayyim mengatakan, “Terdapat larangan meniup minuman karena hal itu menimbulkan bau yang tidak enak yang berasal dari mulut. Bau tidak enak ini bisa menyebabkan orang tidak mau meminumnya lebih-lebih jika orang yang meniup tadi bau mulutnya sedang berubah. Ringkasnya hal ini disebabkan nafas orang yang meniup itu akan bercampur dengan minuman. Oleh karena itu, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melarang dua hal sekaligus yaitu mengambil nafas dalam wadah air minum dan meniupinya.”<a title="" href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p><strong></strong></p>
<p><strong>      </strong><strong>27.  Anjuran Bernafas Tiga Kali</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>   </strong>Dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu ‘anhu</em> beliau mengatakan, “Ketika Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> minum beliau mengambil nafas di luar wadah air minum sebanyak tiga kali.” Dan beliau bersabda,</p>
<p align="center"><strong>إِنَّهُ أَرْوَى وَأَبْرَأُ وَأَمْرَأُ</strong></p>
<p><em>“Hal itu lebih segar, lebih enak dan lebih nikmat.”</em> Anas mengatakan, “Oleh karena itu ketika aku minum, aku bernafas tiga kali.” <a title="" href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Yang dimaksud bernafas tiga kali dalam hadits di atas <strong>adalah bernafas di luar wadah air minum dengan menjauhkan wadah tersebut dari mulut terlebih dahulu, karena bernafas dalam wadah air minum adalah satu hal yang terlarang sebagaimana penjelasan di atas.</strong></p>
<p>Meskipun demikian, diperbolehkan minum satu teguk sekaligus. Dalilnya dari Abu Said al-Khudry, ketika beliau menemui Khalifah Marwan bin Hakam, khalifah bertanya, “Apakah engkau mendengar Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melarang meniup air minum?” Abu Said mengatakan, “Benar” lalu ada seorang yang berkata kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku merasa lebih segar jika minum dengan sekali teguk.” Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bertanya kepadanya, <em>“Jauhkan gelas dari mulutmu kemudian bernafaslah”</em>, Orang tersebut kembali berkata, “Ternyata kulihat ada kotoran di dalamnya?” Nabi bersabda, “Jika demikian, buanglah air minum tersebut.” <a title="" href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p>Imam Malik mengatakan, “Menurutku dalam hadits di atas terdapat dalil yang menunjukkan adanya keringanan untuk minum dengan sekali nafas, meski sebanyak apapun yang diminum. Menurut pendapatku tidaklah mengapa minum dengan sekali nafas dan menurutku hal ini diperbolehkan karena dalam hadits dinyatakan, “<em>Sesungguhnya aku merasa lebih segar jika minum dengan sekali nafas -satu teguk-”</em> <a title="" href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p>Syaikh Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Dalam hadits di atas terdapat dalil bahwa jika seorang yang minum itu sudah merasa segar karena minum dengan sekali nafas dan dia tidak membutuhkan untuk mengambil nafas berikutnya maka diperbolehkan. Aku tidak mengetahui ada seorang ulama yang mewajibkan untuk mengambil nafas berikutnya dan mengharamkan minum dengan sekali nafas.”<a title="" href="#_ftn10">[10]</a></p>
<p>Dimakruhkan minum dari mulut ceret, teko dan lain-lain. Dari Abu Hurairah, beliau mengatakan, “Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melarang minum dari mulut <em>ghirbah</em> (wadah air yang terbuat dari kulit) atau wadah air minum yang lainnya).<a title="" href="#_ftn11">[11]</a></p>
<p>Redaksi yang senada dengan hadits di atas juga terdapat dalam riwayat Bukhari no. 5629 dari Ibnu Abbas</p>
<p><strong></strong></p>
<p><strong>   28.   </strong><strong>Penyuguh itu terakhir minum          </strong></p>
<p>Dari Abu Qatadah <em>radhiyallahu ‘anhu</em> Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengatakan,</p>
<p align="center"><strong>إِنَّ سَاقِيَ الْقَوْمِ آخِرُهُمْ شُرْبًا</strong></p>
<p><em>“Sesungguhnya orang yang menyuguhkan minuman kepada sekelompok orang adalah orang yang minum terakhir kali.”</em> <a title="" href="#_ftn12">[12]</a></p>
<p>Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan, “Maksud <a href="http://muslim.or.id/hadits">hadits</a> orang yang menyuguhkan minuman baik berupa air, susu, kopi atau teh seyogyanya merupakan orang yang terakhir kali minum untuk mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri dan supaya jika minuman tersebut ternyata kurang maka yang kurang adalah orang yang menyuguh tadi. Tidak diragukan lagi bahwa sikap seperti ini merupakan sikap yang terbaik karena melaksanakan perintah dan adab yang diajarkan oleh Nabi. Akan tetapi jika penyuguh tersebut tidak berkeinginan untuk minum maka dia tidaklah berkewajiban untuk minum sesudah yang lain minum. Dalam hal ini penyuguh boleh minum boleh juga tidak meminum.” <a title="" href="#_ftn13">[13]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>29.  Larangan menghadiri jamuan yang menyediakan khamr</strong></p>
<p>Dari Umar bin al-Khatthab <em>radhiyallahu ‘anhu</em> beliau mengatakan, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> itu melarang dua jenis makanan, <strong>pertama,</strong> menghadiri jamuan yang mengedarkan khamar, <strong>kedua,</strong> makan sambil telungkup.” <a title="" href="#_ftn14">[14]</a></p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> juga bersabda,</p>
<p align="center"><strong>مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، فَلا يَقْعُدَنَّ عَلَى مَائِدَةٍ يُدَارُ عَلَيْهَا الْخَمْرُ</strong></p>
<p>“<em>Barang siapa yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah menghadiri perjamuan yang mengedarkan khamr.”</em> <a title="" href="#_ftn15">[15]</a></p>
<p>Hadits tersebut secara tegas melarang menghadiri jamuan makan yang menyediakan khamr. Hal ini menunjukkan bahwa hukumnya adalah haram. Karena duduk di suatu tempat yang mengandung kemungkaran merupakan pertanda ridha dan rela dengan kemungkaran tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>30.  <strong>Tidak </strong><strong>M</strong><strong>inum </strong><strong>L</strong><strong>angsung dari </strong><strong>M</strong><strong>ulut </strong><strong>T</strong><strong>eko</strong>.</p>
<p>Dari Abu Hurairah ia berkata,</p>
<p>نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الشُّرْبِ مِنْ فَمِ الْقِرْبَةِ أَوِ السِّقَاءِ</p>
<p>”Rasulullah melarang minum lansung dari mulut teko ataupun qirbah (wadah minum dari kulit).”<a title="" href="#_ftn16">[16]</a></p>
<p>Menurut sebagian ulama minum langsung dari mulut teko hukumnya adalah haram, namun mayoritas ulama mengatakan hukumnya makruh. Namun yang sesuai dengan adab islami adalah menuangkan air tersebut ke dalam gelas kemudian baru meminumnya. Dari Kabsyah al-Anshariyyah radhiyallahu’anha, beliau mengatakan, “Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> masuk ke dalam rumahku lalu beliau minum dari mulut qirbah yang digantungkan sambil berdiri. Aku lantas menuju qirbah tersebut dan memutus mulut qirbah itu.” <a title="" href="#_ftn17">[17]</a></p>
<p>Hadits ini menunjukkan bolehnya minum dari mulut wadah air. Untuk mengkompromikan dengan hadits-hadits yang melarang, al-Hafidz Ibnu Hajar al-Atsqalani mengatakan, “Hadits yang menunjukkan bolehnya minum dari mulut wadah air itu berlaku dalam kondisi terpaksa.” Mengompromikan dua jenis hadits yang nampak bertentangan itu lebih baik daripada menyatakan bahwa salah satunya itu mansukh (tidak berlaku).”<a title="" href="#_ftn18">[18]</a></p>
<p>Menurut para ulama larangan di atas memiliki beberapa hikmah di antaranya:</p>
<ol start="1">
<li>Nafas orang yang meminum dimungkinkan berulangkali masuk ke dalam wadah yang bisa menimbulkan bau tidak sedap.</li>
<li>Boleh jadi, dalam wadah air tersebut terdapat binatang atau kotoran yang dimungkinkan ke dalam perut orang yang meminum tanpa disadari.</li>
<li>Tidak menutup kemungkinan air minum tersebut bercampur dengan ludah orang yang meminumnya sehingga orang lain akhirnya merasa jijik untuk minum dari wadah tersebut.</li>
</ol>
<p>Air liur dan nafas orang yang meminum itu boleh jadi menyebabkan orang lain sakit. Hal ini terjadi bila orang yang meniup tersebut sedang mengidap penyakit menular.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>31.  <strong>Anjuran Makan Berjamaah</strong></p>
<p>Allah berfirman ,</p>
<p align="center"><strong>لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُناحٌ أَنْ تَأْكُلُوا جَمِيعاً أَوْ أَشْتاتاً</strong></p>
<p><em>“Tidak ada halangan bagi kamu makan bersama-sama mereka atau sendirian.”</em> (QS. an-Nur: 61)</p>
<p>Ketika al-Qurthubi menafsirkan ayat ini, beliau mengatakan, “Dikatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Bani Laits bin Bakr yang merupakan keturunan Bani Kinanah. Ada salah seorang dari mereka yang tidak mau makan sendirian. Beberapa waktu lamanya dia menahan lapar, sampai ada orang yang mau diajak makan bersama.”</p>
<p>Ibnu Athiyyah mengatakan, “Makan dengan bersama-sama merupakan tradisi Arab yang turun-temurun dari Nabi Ibrahim. Beliau tidak mau makan sendirian. Begitu pula sebagian orang-orang Arab ketika kedatangan tamu, mereka tidak mau makan kecuali bersama tamunya. Lalu turunlah ayat di atas yang menjelaskan adab makan yang benar dan membatalkan segala perilaku orang Arab yang menyelisihi ayat ini. Ayat ini secara tegas membolehkan makan sendirian, suatu hal yang diharamkan oleh bangsa Arab sebelumnya. Tentang ayat di atas Ibn Katsir menyatakan, “Ini merupakan keringanan dari Allah. Seorang boleh makan dengan cara sendiri-sendiri atau bersama beberapa orang dalam satu wadah makanan meski makan dengan cara yang kedua itu lebih berkah dan lebih utama.”<a title="" href="#_ftn19">[19]</a></p>
<p>Dari Nafi’ beliau mengatakan, “Ibnu Umar memiliki kebiasaan tidak memakan kecuali bersama orang miskin. Suatu ketika aku mengajak seseorang untuk menemani beliau makan. Ternyata orang tersebut makan dalam porsi yang besar. Sesudah itu Ibnu Umar mengatakan, “Wahai Nafi’ janganlah kau ajak orang ini untuk menemani aku makan, karena aku mendengar Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p align="center"><strong>المُؤْمِنُ يَأْكُلُ فِي مِعًى وَاحِدٍ، وَالكَافِرُ يَأْكُلُ فِي سَبْعَةِ أَمْعَاءٍ</strong><em></em></p>
<p><em>“Orang beriman itu makan dengan menggunakan satu lambung sedangkan orang yang kafir makan dengan menggunakan tujuh lambung.</em>” <a title="" href="#_ftn20">[20]</a></p>
<p>Ibnu Umar adalah salah seorang sahabat yang dikenal sebagai orang yang teguh menjalankan sunnah-<a href="http://muslim.or.id/tag/sunnah">sunnah</a> Nabi. Sedangkan hadits di atas menunjukkan bahwa beliau hanya mau makan bila ditemani seorang yang miskin.</p>
<p>Dari Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em>, aku menemui Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dengan membawa <em>khazirah</em> (sejenis masakan daging dicampur dengan tepung) yang sudah aku masak untuk beliau. Aku katakan kepada Saudah yang berada di sebelah Nabi, “Ayo makan.” Namun Saudah enggan memakannya. Karena itu, aku katakan, “Engkau harus makan atau makanan ini aku oleskan ke wajahmu.” Mendengar hal tersebut Saudah tetap tidak bergeming, maka aku ambil makanan tersebut dengan tanganku lalu aku oleskan pada wajahnya.” Hal ini menyebabkan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tertawa lalu menyodorkan makanan tersebut kepada Saudah seraya mengatakan, “Balaslah olesi juga wajahnya.” Akhirnya Nabi pun tertawa melihat wajah Aisyah yang juga dilumuri makanan tersebut. Setelah itu Umar lewat, sambil berkata, “Wahai Abdullah, wahai Abdullah.” Nabi mengira kalau Umar hendak masuk ke rumah maka beliau bersabda, “Basuhlah muka kalian berdua.” Aisyah mengatakan, “Sejak saat itu aku merasa segan kepada Umar karena Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menaruh rasa hormat kepada beliau.” (HR. Abu Ya’la, dengan sanad yang <em>hasan</em>)</p>
<p>Pesan yang terkandung dalam hadits ini:</p>
<ol start="1">
<li>Suami makan bersama istri-istrinya dari satu piring.</li>
<li>Bersenda-gurau dengan istri, kedua hal ini dianjurkan dalam rangka menjaga keharmonisan rumah tangga<strong>.</strong></li>
<li>Berlaku adil di antara istri dan bersikap adil terhadap pihak yang teraniaya meskipun dengan nada bergurau.</li>
</ol>
<p><strong>Hadits-Hadits tentang makan berjamaah </strong></p>
<p>Dari Abdullah bin Sa’ad <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, “Aku bertanya kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tentang menemani makan istri yang haidh maka beliau bersabda,</p>
<p>“Temanilah makan istri yang sedang haidh.” (HR. Turmudzi, Abu dawud dan Ibn Majah, hasan). Penulis kitab <em>Aunul Ma’bud</em>, syarah Abu Dawud dan penulis <em>Tuhfah al Ahfadzi</em>, Syarah sunan Turmudzi sepakat bahwa yang dimaksud menemani makan adalah makan bersama.</p>
<p>Hadits ini menunjukkan bahwa badan dan keringat <a href="http://muslim.or.id/tag/wanita">wanita</a> yang sedang haidh itu suci demikian pula menunjukkan pula bahwa di antara kiat menjaga keharmonisan hubungan suami istri adalah makan bersama dari satu wadah. Inilah di antara petunjuk Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Dari Ibnu Abi Aufa beliau mengatakan, “Kami ikut perang bersama Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sebanyak tujuh atau enam kali dan kami makan belalang bersama beliau.” (HR. Muslim no. 1952) al-Hafidz Ibn Hajar al-Atsqalani mengatakan, “Yang dimaksud kami makan belakang bersama beliau, ada dua kemungkinan, <strong>pertama</strong>, bersama dalam perang tidak dalam masalah makan. <strong>Kedua</strong>, bersama dalam makan. Kemungkinan yang kedua ini dikuatkan oleh riwayat Abu Nuaim dalam kitab at-Tib dengan redaksi, “Dan beliau makan bersama kami.”</p>
<p>Singkatnya kemungkinan makna yang benar adalah kemungkinan yang kedua. Sehingga hadits di atas menunjukkan betapa akrabnya Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dengan para sahabat. Untuk menjalin keakraban sesama mereka Nabi tidak segan untuk duduk makan bersama mereka.</p>
<p>Dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, “Sesungguhnya Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tidaklah makan siang dan makan malam dengan menggunakan roti dan daging kecuali dalam hidangan sesama banyak orang.” (HR. Ahmad, Abu Ya’la, Ibn Hibban dengan sanad shahih)</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em> beliau berkata, “Ada seorang sahabat Anshar yang tinggal di Quba mengundang Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, kami lalu berangkat bersama beliau ketika beliau telah selesai makan dan mencuci kedua tangannya, beliau berdoa…” hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Bukhari no. 5458 dari Abu Umamah dengan redaksi, “Apabila <em>maidah</em> Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah disingkirkan beliau berdoa…”</p>
<p><em>Al-Maidah</em> adalah meja makan untuk satu atau dua orang. Akan tetapi ketika menafsirkan ayat yang artinya, <em>“Wahai Rabb kami, turunkanlah maidah dari langit untuk kami”</em>, Ibn Katsir menyebutkan pendapat mayoritas salaf tentang makna <em>maidah.</em> Mereka mengatakan <em>maidah</em> adalah hidangan yang dinikmati oleh banyak orang. Makna seperti ini juga disebutkan oleh Ibnu Mamduh dalam karyanya, <em>Lisanul Arab</em>. Sedangkan hadits sebelumnya juga berkaitan dengan makan bersama karena dalam <a href="http://muslim.or.id/tag/hadits">hadits</a> tersebut dinyatakan, “Kami lalu berangkat bersama beliau.”</p>
<p>Dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu ‘anhu</em> ketika Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bangkit menuju kamar Shafiyah aku mengundang kaum muslimin untuk menghadiri acara walimah nikah beliau dengan Shafiyah. Rasulullah memerintahkan untuk membentangkan alas dari kulit. Di atasnya dituangkan kurma, keju dan lemak.” (HR. Bukhari dan Muslim) Hadits ini jelas menunjukkan acara makan bersama di atas alat kulit dan bolehnya membentangkan alas dan kulit untuk makan.</p>
<p>Dari Jabir bin Abdillah, beliau bercerita ada seorang perempuan Yahudi dari penduduk Khaibar meracuni daging kambing bakar. Daging kambing tersebut lalu dihadiahkan kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Rasulullah lalu memilih kaki kambing, beliau makan dari kambing yang dihadiahkan tersebut bersama sahabat yang lain.” (HR. Darimi, dengan sanad yang mursal namun memiliki beberapa <a href="http://muslim.or.id/hadits">hadits</a> penguat)</p>
<p>Hadits di atas di samping menunjukkan bahwa di antara kebiasaan Nabi adalah makan bersama para sahabat juga menunjukkan bahwa Nabi itu tidak mengetahui hal yang gaib. Pada awal mulanya, Nabi tidak tahu kalau daging kambing yang disuguhkan itu beracun.<a title="" href="#_ftn21">[21]</a></p>
<p><strong></strong></p>
<p><strong>     32.  </strong><strong>Menaruh Biji-Bijian Diantara Dua Jari  dan Mendo’akan Orang Yang Memberi Makan</strong></p>
<p><strong>    </strong>Dari Abdullah bin Busyr dia berkata, Rasulullah pernah singgah di rumah ayahku, kemudian ayahku bercerita, “Kami menyuguhkan makanan dan wathbah<a title="" href="#_ftn22">[22]</a> kepada beliau. Lalu beliau menyantapnya. Kemudian beliau disuguhi buah kurma diantara dua jari, yakni pada jari telunjuk dan jari tengah. Syu’bah berkata, ‘Aku mengira bahwa insya Allah yang benar adalah menaruh biji kurma diantara dua jari.’ Beliau disuguhi lagi berupa minuman, dan beliau pun meminumnya. Beliau menyerahkan kembali minuman yang ada ditangan kanannya. Abdullah bin Busyr berkata: ayahku berkata sambil memegang tali kekang hewan tunggangannya, ‘Do’akanlah kami agar mendapatkan kebaikan!’ maka Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,</p>
<p align="center"><strong>اللهُمَّ، بَارِكْ لَهُمْ فِي مَا رَزَقْتَهُمْ، وَاغْفِرْ لَهُمْ وَارْحَمْهُمْ</strong></p>
<p><em>“Ya Allah, limpahkanlah keberkahan bagi mereka pada rizki yang telah Engkau anugerahkan kepada mereka serta ampuni dan sayangilah mereka.”</em><a title="" href="#_ftn23">[23]</a></p>
<p>Imam An-Nawawi berkata, “Maksudnya, beliau menaruh biji kurma itu diantara dua jari lantaran jumlahnya sedikit. Beliau sengaja tidak menaruhnya di wadah kurma agar tidak bercampur dengan kurma lainnya. Ada juga yang berpendapat, beliau mengumpulkannya di punggung kedua jarinya lalu membuangnya.”</p>
<p>Imam An-Nawawi membuat judul bab dalam Syarah Muslim Bab: <em>Istihbabu Wadh’in Nawa Kharijut Tamr Wastihbab Du’aidh Dha’if Li Ahlith Tha’am</em>. (disunnahkannya menaruh biji kurma di luar wadahnya dan disunnahkan bagi seorang tamu mendo’akan tuan rumah lantaran telah menyuguhi makanan).<a title="" href="#_ftn24">[24]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Penutup</p>
<p></strong></p>
<p>Demikianlah beberapa dari sekian adab makan Islami yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam kepada kita. Semua maslahatnya akan kembali kepada kita.<br />
Semoga Allah Ta’ala memberikan kekuatan dan keistiqamahan dalam menjalankan Sunnah Rasulullah n dan memberikan kemudahan kepada kita untuk berjalan menuju kemulian hidup dunia dan akhirat. Amin.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong> </strong></p>
<div><br clear="all" /></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> HR. Muslim: no. 2012 dan Ibnu Majah: no. 3401.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a>  HR. Muslim: no. 2014.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a>  <em>Ath-Tha’am fis Sunnah Al-Muthahharah</em> karya Al-Harits bin Zaidan Al-Mazidi: hal. 12.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> HR. Bukhari no. 5630 dan Muslim no. 263.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a>  HR. Turmudzi no. 1888 dan Abu Dawud no. 3728, hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a>  <em>Zadul Ma’ad</em> : 4/325.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a>   HR. Muslim : no. 2028.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref8">[8]</a>  HR. Tirmidzi: no. 1887 dll.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref9">[9]</a>  <em>At-Tamhid </em>Karya Ibnu Abdil Barr: 1/392.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref10">[10]</a>  <em>Majmu’ Fatawa</em> : 32 / 309.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref11">[11]</a>  HR Bukhari: no. 5627.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref12">[12]</a>  HR. Muslim: no. 281.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref13">[13]</a>  <em>Syarah Riyadhus Shalihin: </em>7/273.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref14">[14]</a>  HR. Abu Dawud no. 3774 dan dinilai <em>shahih</em> oleh al-Albani.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref15">[15]</a>  HR. Ahmad no. 124.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref16">[16]</a> HR. Bukhari: no. 5627</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref17">[17]</a>  HR. Tirmidzi: no. 1892, Ibnu Majah: no. 3423 dan dishahihkan oleh syaikh Al-Albani.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref18">[18]</a>  <em>Fathul Bari</em>: 10/94</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref19">[19]</a>  <em>Al-Muharrar al-Wajiz:</em> 11/328</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref20">[20]</a> HR. Bukhari no. 5393 dan Muslim no. 2060.</p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref21">[21]</a>  Disarikan dari buku <em>Makan Berjamaah </em>-edisi terjemah- karya Yahya bin Ali al-Hajuri.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref22">[22]</a>  Sejenis makanan yang terbuat dari olahan kurma jenis barni, tepung dan samin.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref23">[23]</a>  HR. Muslim: no. 2042.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref24">[24]</a> Kumpulan Lengkap Amalan Nabi shallallahu’alaihi wasallam yang Diremehkan –terjemahan- penulis Haifa binti Abdullah Ar-Rasyid: hal. 174-175. Terbitan As-Salam publishing.</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.serambiyemen.com/2013/02/adab-adab-islami-makan-dan-minum-bag-4.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
